Oleh: Adibatus Shohifah

(Aktivis Dakwah Remaja)


Semangat yang membara datang dari para perempuan muda yang lantang menyuarakan ketidaksetujuan terhadap UU Omnibus Law dan menuntut  pembatalan UU tersebut. Tetapi tindakan ini merupakan tuntutan hak yang gagal paham terhadap arti kemerdekaan sesungguhnya bagi perempuan.


Sekitar lebih dari 1300 massa aksi yang mendatangi kantor DPRD Provinsi Kalimantan Selatan pada (Kamis, 8/10/ 2020). Dengan tuntutan batalkan UU Omnibuslaw Cipta Kerja. Karena dinilai dalam prosesnya mulai dari pengusulan RUU sampai dengan disahkannya, DPR dan Pemerintah terkesan tergesa-gesa dan tidak transparan. Terlebih pasal-pasal di dalamnya yang sangat tidak berpihak kepada rakyat, terutama rakyat kecil. Masa aksi terhimpun dari berbagai elemen masyarakat, seperti mahasiswa, buruh, serikat tani, pelajar, dan perwakilan dari rakyat itu sendiri. (mahardika.org, 9/10/2020).


Beberapa pernyataan kecewa datang dari peserta aksi perempuan yang mengatakan: "...disahkannya Omnibuslaw akan memperparah kondisi buruh, terutama buruh perempuan", " Omnibus Law ini sangat tidak adil bagi buruh perempuan",  " Persoalan cuti hamil, cuti melahirkan tidak ada di dalam UU Omnibuslaw, Sangat enggak manusiawi sih, kejam banget". (mahardika.org,  9/10/2020)


Berbagai macam bentuk protes yang bercuitan datang dari semua pihak tanpa terkecuali pihak perempuan. Keluh kesah yang datang dari segelintir buruh perempuan beragam bentuk dan pernyataan, tujuannya ialah tidak setuju dan menolak kebijakan hukum dalam UU Omnibuslaw yang dinilai menyulitkan dan mengambil hak-hak perempuan. Para perempuan menolak keras peraturan di dalam UU Omnibuslaw lantaran kebijakannya yang dinilai lebih mengutamakan keuntungan para penguasa dan menyulitkan buruh terlebih lagi wanita. Apalagi buruh wanita yang juga terjun kedalam pekerjaan layaknya pekerjaan para laki-laki sebagaimana yang di inginkan kaum feminis, kebijakan mencla-mencle ini dinilai wanita dapat membawa dampak besar bagi  kesengsaraan semua kalangan buruh wanita, hingga mereka menuntut untuk dibatalkannya UU ini.


Dasar yang menjadi penggerak keterlibatan wanita dalam aksi ini ialah peraturan UU nya yang sangat menjadi sorotan dan sebagai pembelaan mereka terhadap hak-hak kaum perempuan yang bekerja sebagai buruh. Segenap wanita yang terlibat aksi turun ke jalan menginginkan suatu kebijakan yang dapat membuat sejahtera penghidupan mereka, memenuhi kebutuhan dan hak setiap pekerja. Inilah bentuk kegagal pahaman para perempuan penuntut aksi demo terhadap kebijakan dalam Omnibuslaw. Memang betul kebijakan pemerintah ini harus ditolak tapi haruslah bersandar kepada alasan yang benar dalam penolakannya, dipemahaman mereka jika UU ini dibatalkan maka selesailah sudah permasalahan yang akan membawa derita, mereka mengharapkan penghidupan yang mensejahterakan namun tidak mengupas habis sistemnya, dan membasmi tuntas dari akarnya. Bentuk kekeliruan dalam tindakan ini terjadi karna ketidaktahuan mereka dengan sistem kesempurnaan hukum yang dapat menjamin penghidupan yang layak bagi seluruh rakyat terlebih lagi hak kaum wanita. Mereka hanya menuntut perubahan namun dengan sistem yang rusak, bagaimana mungkin sebuah sistem yang rusak akan melahirkan peraturan yang sempurna, sampai kapanpun tidak akan dapat terwujud.


Telah banyak bukti nyata yang terekam dalam ingatan betapa cacatnya hukum buatan sistem sekuler kapitalis, yang mengeluarkan peraturan hanya melihat kepada kepentingan sendiri, selalu menjadikan wanita sebagai tumbal dibalik kebijakan yang dikeluarkan demi memuluskan rencananya untuk menjadikan wanita lupa akan tugas utamanya. Para wanita dibuat sibuk dengan keterlibatannya dalam pekerjaan bahkan dituntut terjun dan memberikan kontribusi besar dalam pekerjaan yang menjadi ruang lingkup bagi laki-laki, alih-alih Membuat bahagia dan mulia malah membuat semakin menderita dengan penghidupan yang menjerat dan menghimpit, lantas masih pantas kah kita berharap kepada sistem kufur yang semacam ini, Wallahi tidak akan tercapai kemuliaan dengan sistem seperti sekarang. 


Kenyataan semacam ini sangat bertolak belakang dengan apa yang diajarkan di dalam agama Islam. Dalam Islam wanita tidak diwajibkan untuk bekerja, ata dituntut untuk melakukan kontribusi besar didalam bidang pekerjaan. Kareena tugas mencari nafkah (bekerja) ini adalah kewajiban yang dibebankan kepada laki-laki. 


Dalam Islam kewajiban seorang wanita ialah bagaimana ia memberikan kontribusi yang besar di dalam rumah tangganya. Peran yang utama bagi perempuan adalah sebagai ummu wa rabbatul bayt yang harus mengerahkan segala kemampuan nya dengan semaksimal mungkin. Memberikan peran yang terbaik, prestasi tertingginya ialah ketika wanita berbakti kepada suaminya dan mampu mencetak serta mendidik anak-anak nya menjadi anak yang sholeh dan salehah. 


Inilah aturan yang di ajarkan dalam Islam, dimana dengan terjunnya wanita ke dalam aspek rumah tangga akan membuat wanita tersebut menjadi mulia serta menjadi sebaik-baik wanita. Jika dia mampu menjalankan amanahnya dengan baik dan benar, maka pahala Allah sudah menantinya. Peran sebagai ibu rumah tangga bukanlah suatu perkara yang remeh, peran tersebut merupakan sebab turunnya rida Allah. Dengan peran ini kehormatannya dapat terjaga, terpenuhi hak-hak serta sesuai dengan fitrahnya, juga berkesempatan meraih prestasi yang tinggi dengan mendapatkan balasan terbaik dari Allah Swt. Beberapa keutamaan seorang ibu rumah tangga dalam hadis Rasulullah saw :“Dunia ini adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita shalihah, wanita yang baik dalam agamanya, rumah tangganya, serta pergaulannya.” (HR. Muslim).


Maka dari itu tidak ada suatu jalan kemuliaan yang dapat ditempuh kecuali dengan kembali kepada aturan yang diturunkan oleh Allah Swt sebagai Al-Khaliq Al-Mudabbir. Tidak akan tercapai kemuliaan seorang wanita selama paham yang diambil bukan bersumber dari Allah Swt. Hanya agama Islamlah yang dapat memberikan solusi tuntas, membawa kepada kejayaan dengan menerapkan hukum-hukum nya secara keseluruhan melalui sistem kepemimpinannya yang bernama Khilafah. 



Dalam rentetan sejarah telah tercatat rapi bagaimana khilafah mampu mewujudkan dan melindungi hak-hak  perempuan, bahkan Khilafah sangat menjaga kehormatan perempuan, oleh karna itu jika kaum perempuan menginginkan suatu perubahan yang dapat memuliakan, maka Islam lah jawabannya. 

Wallahu'alam Bishawab

 
Top