Oleh : Sri Indrianti

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Pandemi Covid-19 belum juga mereda. Jumlah kasus Covid-19 per tanggal 12 November 2020 sebanyak 452.291 dengan DKI Jakarta sebagai penyumbang kasus terbanyak. Yakni terjadi penambahan 831 kasus. (news.detik.com, 12/11/2020)

Angka kasus yang masih cukup tinggi tersebut menyebabkan kinerja dari Menteri Kesehatan pun dipertanyakan publik. Sudahkah dr. Terawan Agus Putranto serius dan mengupayakan segenap daya untuk menyelesaikan pandemi ini? Terlebih tak pernah digubrisnya undangan dialog dari jurnalis senior, Najwa Shihab walaupun telah memintanya datang berkali-kali. Bahkan, bapak menteri kesehatan jarang sekali menampakkan diri di hadapan publik yang sangat menanti sosoknya memberikan penjelasan terkait pandemi yang semakin pelik ini. 

Namun, secara tiba-tiba publik dikejutkan dengan adanya surat dari undangan dari WHO untuk Menteri Kesehatan Indonesia dr. Terawan. Kemenkes menyebut WHO secara khusus mengundang Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto dalam pertemuan virtual yang digelar pada 6 November 2020. Pertemuan itu menurut Kemenkes sebagai bentuk apresiasi kepada Menkes Terawan atas keberhasilannya menangani pandemi Covid 19  di Indonesia. (cnnindonesia.com, 5/11/2020)

Beredar pula di publik foto Menkes Terawan sedang memegang penghargaan, piala, dan terkalung medali di leher beliau. Foto dianggap merupakan penghargaan yang diperoleh Menkes Terawan dari WHO.

Benarkah Menkes Terawan mendapatkan apresiasi penghargaan atas keberhasilannya menangani pandemi di Indonesia?

Pencitraan

Setelah ditelusuri kebenaran atas undangan  dari WHO dan foto Menkes Terawan berkalung medali, ada kekeliruan. Undangan dari WHO tersebut merupakan pertemuan virtual dengan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Tedros akan mendengarkan masukan dari para menteri mengenai tindakan dalam penanganan Covid-19 atau tinjauan intra-tindakan (intra-action review/IAR). WHO menginginkan pertemuan secara virtual itu dapat dijadikan ruang belajar dalam strategi dan respons masing-masing negara dalam menangani pandemi virus Corona. (cnnindonesia.com, 5/11/2020)

Pun terkait dengan foto, nyatanya merupakan foto tahun lalu tepatnya pada tanggal 27 Juli 2019 Leprid (Lembaga Prestasi Indonesia Dunia) memberikan apresiasi atas prestasi yang telah diraih oleh dr. Terawan menemukan metode cuci otak (brain wash) dengan modifikasi program Digital Substraction Angiography (DSA) untuk penyakit stroke. (liputan6.com, 12/11/2020)

Fakta tersebut di atas menampar pihak Kemenkes yang awalnya berdalih bahwa undangan diberikan atas keberhasilan dr. Terawan menangani pandemi. Seperti yang diungkapkan Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Muhammad Budi Hidayat, Kamis (5/11/2020) lalu. (health.grid.id, 6/11/2020)

Islam Mengatasi Pandemi

"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Bukhari)

Sedari awal terjadi pandemi, sejumlah ahli sudah berpendapat untuk dilakukan karantina wilayah sebagaimana yang dilakukan pada masa Rasulullah saat terjadi wabah. Namun pendapat itu diabaikan pemerintah dengan dalih tidak memiliki dana untuk menyuplai kebutuhan masyarakat jika diterapkan karantina wilayah. Kebijakan PSBB yang diterapkan malah menimbulkan berbagai problematika baru. Termasuk bantuan yang tidak tepat sasaran dan badai resesi yang mengancam perekonomian Indonesia.

Islam sebagai pandangan hidup memiliki solusi paripurna terkait penanganan wabah. Dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw. 

Dikutip dalam buku berjudul "Rahasia Sehat Ala Rasulullah SAW: Belajar Hidup Melalui Hadis-hadis Nabi" oleh Nabil Thawil, di zaman Rasulullah saw. jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha'un, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top