Oleh : Sri Indrianti

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Pandemi Covid-19 masih bertahan di negeri ini. Ribuan penambahan kasus terjadi setiap harinya. Per tanggal 3 September 2020 angka kasus Covid-19 menyentuh angka 295.499, yang berarti terjadi penambahan sebanyak 4.317 kasus dalam 24 jam terakhir. (mataram.tribunews.com, 3/10/2020)

Angka kasus yang senantiasa merangkak naik ini, memicu Bapak Presiden untuk mengajak masyarakat bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah. Beliau juga mengingatkan, masyarakat yang hidupnya berkecukupan bisa membantu mereka yang nasibnya kurang beruntung. Sebab dengan begitu, beban atau kesulitan di tengah pandemi Corona bisa sedikit teratasi. Hal ini beliau sampaikan saat membuka Muktamar IV PP Parmusi Tahun 2020 di Bogor pada 26 September 2020.

Ajakan masyarakat untuk bertaubat saat wabah patut diapresiasi. Memanglah benar saat wabah melanda di negeri muslim, tindakan awal yang seharusnya dilakukan yakni bertaubat mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian memahami bahwa pandemi ini merupakan qodlo Allah Swt. Ketika sudah memahami bahwa ini merupakan qodlo Allah, maka kaum muslimin tidak mudah berputus asa. Yakin Allah akan menurunkan pertolongan.

Namun, bertaubat saja ternyata masih belum cukup sebagai solusi pandemi. Persoalan wabah harus disertai ikhtiar atau upaya serius penanganan wabah. Dibutuhkan aturan dan sanksi yang jelas dan tegas dari negara. 

Pun dengan himbauan dari Bapak Presiden bahwa bagi yang berkecukupan sebaiknya membantu masyarakat yang nasibnya kurang beruntung, sebenarnya sudah lama dilakukan masyarakat jauh sebelum ada himbauan tersebut. Beraneka macam kreativitas bantuan bermunculan di masyarakat demi bisa meringankan beban masyarakat terdampak pandemi.

Salah satu contoh sebagaimana yang dilakukan para ibu warga Parang Barong Perumahan Tlogosari Kota Semarang terhadap sesama warga yang terkena dampak virus Corona atau COVID-19. Mereka mengumpulkan dana secara sukarela untuk dibelikan puluhan paket kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) dan disumbangkan kepada warga kurang mampu dan terdampak COVID-19. (gatra.com, 21/5/2020)

Dari sini terlihat bahwa tingkat kepedulian masyarakat begitu tinggi. Bahkan bantuan tersebut dapat menyentuh masyarakat secara langsung tanpa proses berbelit. Pun kerap bantuan dari masyarakat lebih cepat sampai daripada bantuan dari pemerintah.

Semestinya pemerintah segera melakukan evaluasi terkait penanganan wabah yang tak kunjung berakhir. Sejak awal para ahli menyarankan untuk melakukan karantina wilayah saat terjadi wabah sebagaimana yang tercantum dalam UU No.6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan. Dan berdasarkan UU No.6 Tahun 2018 Pasal 8 Setiap orang mempunyai hak mendapatkan pelayanan kesehatan dasar sesuai kebutuhan medis, kebutuhan pangan, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari lainnya selama karantina.

Inilah yang membuat pemerintah keberatan menempuh langkah karantina wilayah. Dengan dalih tak ada dana, maka karantina wilayah tidak dilakukan. Pembatasan Sosial Berskala Besarlah yang menjadi pilihan pemerintah. Alih-alih efektif menurunkan angka kasus pandemi, justru dengan adanya PSBB terjadi peningkatan kasus yang cukup signifikan. Tak hanya persoalan tingginya angka kasus, namun berbagai problematika baru pun bermunculan. Bahkan Indonesia berada di ambang resesi. 

Jika pemerintah benar-benar serius menginginkan pandemi Covid-19 ini berakhir, semestinya penguasa beserta jajarannya, juga masyarakat secara keseluruhan melakukan taubat secara sempurna. Tak cukup sampai di situ, taubat juga diiringi dengan pelaksanaan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk pengaturan syariat dalam mengatasi pandemi. 

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ (QS. ar-Ruum : 41)

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top