Oleh : Novi Purnawati

Ibu Rumah Tangga Pendidik Generasi


Baru-baru ini Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membuat heboh jagat maya dengan mengeluarkan surat tentang instruksi membaca buku Muhammad Al Fatih 1453 karya Felix Y Siauw untuk meningkatkan minat literasi siswa. Dilansir oleh www.viva.co.id (03/10/2020). Surat tersebut berisi tentang penugasan kepada siswa untuk membaca buku 'Muhammad Al Fatih 1453' penulis Felix Siauw. Selanjutnya, siswa diminta merangkum isi buku tersebut dengan gaya bahasa mereka masing-masing. 

Hasil dari rangkuman buku tersebut dikumpulkan di sekolah masing-masing, kemudian pihak sekolah melaporkannya ke cabang Dinas Pendidikan Provinsi Babel dan selanjutnya cabang dinas melaporkannya ke Dinas Pendidikan Pemprov Babel.

Namun, baru sehari surat instruksi tersebut viral di media sosial, langsung diklarifikasi Dinas Pendidikan terkait. Melalui akun Twitter Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Jumat, 2 Oktober 2020, merilis pembatalan surat instruksi sebelumnya. 

Sejatinya menurut kacamata pendidikan dan sejarah bahkan masyarakat awam sekalipun penganjuran penugasan yang diinstruksikan oleh Dinas Pendidikan Pemprov Babel tidaklah ada kekeliruan di dalamnya. Dikarenakan penugasan literasi justru membantu generasi muda, yakni peserta didik khususnya dapat mempunyai kebiasaan baik yang menambah wawasan dalam segi keilmuan apa pun. 

Bukankah buku adalah jendela dunia? Lalu mengapa buku yang menceritakan tokoh pemuda Islam yang notabene dapat dijadikan figur superhero yang memotivasi para generasi penerus bangsa untuk menjadi pribadi yang shalih malah seolah suatu hal yang tabu untuk dilakukan saat ini. Usut punya usut hal ini berkaitan dengan sosok pengarang bukunya, dan kemudian merembetlah pada isi dari buku tersebut. 

Sebenarnya semakinlah nampak jelas bahwa saat ini pihak-pihak tertentu sangatlah alergi dengan apa pun hal yang menyangkut agama Islam, alergi terhadap sejarah kegemilangan Islam. Ibarat suatu penyakit menular yang mesti dijauhkan dari umat muslim itu sendiri.

Narasi ini akan terus dimunculkan bagi mereka yang alergi dengan ajaran Islam, dan masyarakat  tak perlu kaget, justru semakin menyadari bahwa ajaran Islam dan sejarah Islam kini tidak diberi ruang lagi di tengah umat Islam. Masyarakat pun semakin penasaran untuk mengetahui buku Muhammad Al Fatih 1453 tersebut. Begitu kerasnya larangan disuarakan, menyiratkan ada sesuatu yang penting dan wajib diketahui umat Islam atas kisah Muhammad Al Fatih.

Muhammad Al Fatih adalah sosok fenomenal yang memerintah Islam di masa Khilafah Utsmaniyah. Kisah heroiknya menaklukkan Konstantinopel dikenal seantero dunia, ditambah kejeniusan meracik strategi perang. Benar-benar menginspirasi, bahkan membelalakkan mata.

Pemuda yang juga dikenal sebagai Sultan Muhammad II, hidup demi Islam dan mati dalam rangka menegakkan kalimat Allah. Penaklukan Konstantinopel merupakan hasil akumulatif dari kerjasama para ulama, fukaha, pemimpin, dan tentara di sepanjang masa. Kebangkitan Kekhilafahan Utsmaniyah pada masa Muhammad Al Fatih mencakup seluruh bidang, ilmiah, politik, ekonomi, informasi, dan militer. Kejayaan itulah yang wajib diketahui generasi muslim bahwa mereka adalah pewaris dari penakluk Konstantinopel yang tangguh. Muhammad Al Fatih mencerminkan seorang pemimpin yang visioner, amanah, lagi bertakwa.

Allah Swt. berfirman,

 “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf [12] : 111)

Muhammad Al Fatih menjadi jawaban dari bisyarah Rasulullah saw. yang tertera pada hadisnya,

“Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)

Semasa hidupnya, ia tidak pernah meninggalkan salat fardu, salat sunah, salat tahajud, dan berpuasa. Sejak ia berusia delapan tahun, ia telah menghafal Al-Qur'an dan menguasai tujuh bahasa berbeda, yaitu Arab, Latin, Yunani, Serbia, Turki, Parsi dan Ibrani.

Maka, sudah sepantasnyalah sosok Muhammad Al Fatih adalah sosok superhero impian para generasi muda. Agar generasi muda penerus peradaban memiliki kepribadian yang shalih, teguh, cerdas, serta amanah. Dengan penerus peradaban yang berakhlaqul karimah seperti itu, maka tak ayal kebangkitan dan kegemilangan Islam akan kembali terwujud. Waallahu a'lam bishshawab.

 
Top