Oleh : Ummu Salman 

(Relawan Media)



Baru-baru ini terjadi kisruh tentang sebuah buku di Babel. Kisruh berawal dari keluarnya instruksi dari Kadis Babel tentang kewajiban membaca buku berjudul Muhammad Al-Fatih 1453 bagi para siswa di Babel. Dilansir oleh inews.babel.id (2/10/2020), Kepala Dinas Pendidikan Babel, Muhamamd Soleh menyatakan bahwa kewajiban membaca buku tersebut tidak lain untuk meningkatkan kemampuan literasi para siswa yang berkaitan dengan pendampingan kompetensi minimal 2021 sebagai pengganti ujian nasional.

Protes akan intruksi tersebut kemudian datang dari PWNU Babel. Alasannya karena penulis buku Muhammad Al-Fatih adalah Ustadz Felix Siauw yang merupakan salah satu anggota ormas terlarang di Indonesia. Mereka menilai bahwa kewajiban membaca buku karangan Felix Siauw memiliki agenda terselubung. 

Jika menelusuri sejarah, sosok Muhammad Al-Fatih memang sangat menakjubkan. Ia adalah salah satu dari banyaknya pemuda di masa kegemilangan Islam yang mampu menjadi sosok teladan bagi para pemuda masa kini. Betapa tidak, di usianya yang masih muda, yaitu usia 25 tahun, dia telah mampu menaklukkan sebuah negara adidaya saat itu dan kemudian meneranginya dengan cahaya Islam. Kemampuannya tersebut tidak lepas dari didikan gurunya yang merupakan salah satu ulama besar di masanya.

Berbanding terbalik dengan kondisi para pemuda Islam saat ini. Berita tentang mereka hampir seluruhnya adalah berita negatif. Kenakalan remaja berupa tawuran, narkoba, meminum miras, dan berbagai kenakalan lainnya menghiasi media cetak maupun elektronik. Apalagi saat ini dengan hadirnya smartphone, para pemuda sibuk bermain game online.

Inilah salah satu problem besar bangsa ini dalam melakukan perubahan profil generasi. Faktor pertama karena tiadanya gambaran tentang sosok pemuda yang patut diteladani. Faktor kedua adalah tidak adanya sistem pendukung yang melahirkan generasi yang baik. Sistem kapitalis sekuler yang diterapkan saat ini justru makin merusak generasi. Kosongnya keteladanan, rusaknya lingkungan karena berbagai kemaksiatan yang terjadi, ditambah lagi tontonan yang jauh dari mendidik.

Maka sangat aneh, ketika kemudian ada keberatan terkait kebijakan membaca buku Muhammad Al-Fatih. Sebagai sosok pemuda yang mengagumkan dan menginspirasi, memahami kisah Muhammad Al-Fatih justru akan membentuk mentalitas generasi agar menjadi bangsa unggul. Upaya dan kerja keras Muhammad Al-Fatih untuk mewujudkan dan membuktikan salah satu bisyarah Rasulullah saw., bisa menjadi inspirasi bagi pemuda saat ini. Tentu prestasi seperti ini tidak hanya membanggakan di dunia, tetapi bahkan jauh hingga menembus akhirat.

Sistem Khilafah Menghasilkan Generasi Al-Fatih

Hadirnya sosok pemuda hebat seperti Muhammad Al-Fatih sesungguhnya tak lepas dari penerapan sistem yang baik yaitu sistem Islam. Sistem pendidikan Islam telah menghasilkan generasi-generasi saleh yang memiliki kemampuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Terbentuknya generasi saleh tak lepas dari tegaknya sistem Islam melaui penerapan Islam secara sempurna. Tegaknya sistem Islam tersebut melalui 3 hal berikut:

1. Ketakwaan individu. Ketakwaan ini terbentuk melalui penanaman akidah Islam dan tsaqofah Islam. Akidah adalah hal pertama dan utama yang harus ditanamkan kepada anak, karena akidah ini ibarat akar yang nantinya akan menjadi pegangan bagi anak ketika semakin bertumbuh dari hari ke hari hingga akhirnya mereka baligh dan siap melaksanakan hukum syara'. Kemudian anak juga dikenalkan dengan berbagai tsaqofah Islam sebagai bekal dalam menjalani kehidupan. Dari pembinaan ini terbentuklah kepribadian Islam. Kemudian Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, budi pekerti, dan ajaran agama. Pengamalan ajaran agama sama pentingnya dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang dihiasi dengan akhlak mulia. Tidak heran jika banyak ilmuwan yang juga dikenal sebagai seorang faqih fiddin (ahli agama) yang mulia. Salah satunya Ibnu Rusyd (di Barat terkenal dengan Averous) sebagai seorang filosof, dokter, dan ahli fiqih Andalusia.

2. Lingkungan masyarakat yang saling amar makruf nahi mungkar. Masyarakat dalam sistem Islam bukanlah masyarakat yang cuek dengan kondisi lingkungannya. Mereka senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan, saling melakukan kontrol agar tercipta suasana lingkungan yang baik. Kondisi lingkungan seperti ini tentu baik bagi tumbuh kembang generasi muda.

3. Sistem Islam diterapkan oleh negara. Negara melakukan pengurusan urusan umat dengan sistem Islam, termasuk di dalamnya adalah penerapan sistem pendidikan Islam. Negara hadir dalam menyelesaikan berbagai problematika umat, memastikan perkembangan generasi agar menjadi generasi unggul, yang nantinya akan menjadi sosok pemimpin.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top