Oleh : Narti

Ibu Rumah Tangga dan Penggerak Majelis Taklim


Hingga hari ini, masyarakat di seluruh dunia termasuk Indonesia, masih menghadapi ganasnya wabah pandemi Covid-19. Wabah tak hanya menyerang usia tua saja, pada faktanya usia anak-anak, hingga remaja tak luput dari bidikan virus mematikan ini. Sontak, seluruh penguasa negeri-negeri di dunia, membuat berbagai kebijakan guna menangkal dan meminimalisir penyebaran wabah Covid-19. Mulai dari social distancing, selalu cuci tangan, juga memakai masker ketika aktivitas di luar rumah. 


Namun demikian, masih banyak masyarakat yang cuek dan belum ada kesadaran untuk tertib melakukan protokol kesehatan. Faktanya, kasus Covid-19 belum juga mereda. Begitupun di Kabupaten Bandung. Hingga Senin 21 September 2020, total positif Covid-19 mencapai 677 kasus. Artinya, masih terdapat penambahan jumlah kasus sebanyak 3 orang, jika dibanding dengan data Minggu 20 September. Dari angka tersebut, 504 pasien dinyatakan sembuh, 156 orang dalam perawatan, sementara 17 orang lainnya meninggal dunia. (Prfmnews.id, 21 September 2020)

Tak dipungkiri, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap protokol kesehatan, menyebabkan kasus positif Covid-19 di negara ini terus meningkat. Ditambah lagi adanya kebijakan new normal tanpa disertai edukasi kepada masyarakat seputar Covid-19 dan pencegahannya. Di satu sisi masyarakat harus disiplin protokol kesehatan, namun di sisi lain, pusat perbelanjaan dan obyek wisata dibuka. Sehingga masyarakat pun beranggapan bahwa wabah telah menghilang. 


Aktivitas sosialisasi terkait Covid-19 sebenarnya telah dilakukan baik di tingkat pusat maupun daerah-daerah. Seperti yang dilakukan di wilayah Cileunyi Jawa Barat oleh personil Pengurai Massa (Raimas) Polda Jawa Barat. Yakni kegiatan menyosialisasikan anjuran protokol kesehatan di area pasar pagi di Jalan Bhayangkara, Cibiru Hilir, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Minggu, 13 September 2020. (Pikiran rakyat.com, 14 September 2020)


Kebijakan ini tentu patut diapresiasi, karena tujuannya agar dapat mencegah penularan virus. Namun, karena tidak adanya pencerdasan itulah, yang membuat masyarakat benar-benar tidak peduli dengan protokol kesehatan. Usaha yang dilakukan pemerintah dalam menetapkan kebijakan tentang penanggulangan wabah Covid-19 seolah tidak memberikan hasil maksimal. Kebijakan tambal sulam yang membuat masyarakat bingung untuk mengikutinya.


Sejak awal, pemerintah tampak tidak serius tangani wabah. Meski ada kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tapi kemudian dilonggarkan, bahkan diarahkn pada kehidupan normal (new normal life), maka yang terjadi adalah bertambahnya angka kasus Covid-19 ini. Terlebih lagi adanya tarik ulur kebijakan antara pusat dengan daerah. Kebijakan new normal terkesan terburu-buru dan dipaksakan, karena alasan ekonomi. Negara enggan mengambil lockdown total karena harus disertai dengan support kebutuhan bagi warga yang terdampak pandemi, sementara dana untuk semua itu tidak ada.


Jika sejak awal sudah lakukan lockdown yakni sejak Desember 2019 lalu, mungkin wabah tak akan mampir ke Indonesia. Bahkan hingga hari ini pun pemerintah belum mengkarantina wilayah dengan alasan keterpurukan ekonomi di beberapa sektor. Riil dan non riil. Meski pemerintah telah memberi bantuan kepada masyarakat namun masih jauh dari kata cukup. Parsial dan tidak merata. Terlihatlah bahwa negara kurang serius dan terkesan lepas tangan, padahal seharusnya tugas utama pemimpin adalah menjamin kehidupan rakyatnya; baik kebutuhan pokok individu (pangan, sandang, papan), maupun kebutuhan pokok masyarakat seperti kesehatan, keamanan, pendidikan. 


Kemustahilan untuk menutup akses internasional adalah gagasan pemikiran kapitalisme yang identik dengan capaian nilai keuntungan di atas segalanya. Begitu pula mengapa akses dari luar tidak ditutup, karena sebab kepentingan politik dan ekonomi masih harus berjalan. Maka negara tetap membiarkan wisatawan asing masuk, demi devisa negara atau mempertahankan sektor wisata terbuka demi pundi rupiah di tengah wabah. Ini semua telah menunjukkan wajah asli demokrasi kapitalisme. Pemikiran kaum kapitalis yang terus menerus mementingkan keuntungan tapi mengabaikan nyawa rakyat. Indonesia sebenarnya negara yang kaya dengan SDA. Jika mampu dan benar mengurusnya pasti akan menghasilkan kekayaan melimpah, sehingga mampu memenuhi kebutuhan seluruh rakyat, tanpa ada ketergantungan dengan negara lain. Inilah bukti kegagalan sistem kapitalisme sekuler yang selalu mengedepankan materi dan keuntungan dan jauh dari keberkahan.


Sistem kapitalis sekuler, hingga hari ini masih mendominasi negeri-negeri di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pemisahan antara agama dengan kehidupan telah mendarah daging di benak mayoritas negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi, tidak dibawa ke dalam ranah kehidupan. Termasuk ketika membuat kebijakan, akan diambil selagi ada nilai keuntungan. Tanpa memandang halal haram.


Berbeda dengan sistem Islam. Asas pada sistem ini akan selalu mengedepankan ridha dan keberkahan dari Allah Swt. Seorang pemimpin, akan bertanggungjawab penuh atas rakyat yang dipimpinnya. Teladan seorang Khalifah Umar bin al-Kaththab ra. yang patut dicontoh, adalah ketika dalam kondisi wabah merebaknya penyakit menular. Umar ra. mengambil keputusan yang amat briliant, karena Umar ra. mengikuti teladan Rasulullah saw. Tujuannya tak lain adalah menyelamatkan lebih banyak kaum muslim dan manusia secara umum agar tidak binasa oleh wabah penyakit. Terutama karena ia adalah kepala negara.


Umar ra., mengambil langkah dengan melibatkan orang-orang yang memiliki keahlian di bidangnya untuk menghadapi wabah dan bagaimana menyelesaikan hingga memutus mata rantai penyebarannya, dengan mengingat sabda Rasulullah saw.:

"Jika kalian berada di suatu tempat yang terserang wabah, maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya." (HR. Muslim)


Itulah keputusan yang pertama kali diambil oleh seorang pemimpin negara. Alasan karantina wilayah demi nyawa rakyat nyatanya mendorong wabah tidak menular ke wilayah lain. Sehingga pada wilayah yang bersih dari penyakit, masyarakat bisa beraktivitas normal. Baik ekonomi, pendidikan, transportasi, dan lain lain. Wilayah ini pula akhirnya mampu memberi bantuan berupa kebutuhan yang diperlukan selama wabah dengan mekanismenya diatur dan dimobilisasi oleh negara.


Demikianlah gambaran pemimpin dalam sistem Islam. Sempurnanya Islam yang terbukti mampu menyelesaikan persoalan di tengah kehidupan manusia telah diperlihatkan Rasul saw. dan Umar ra.


Itulah praktik Rasulullah saw. yang diikuti oleh Umar ra. dalam mengambil keputusan di saat wabah. Hal ini adalah nasihat bagi kita, bagaimana seorang pemimpin harus mengambil sikap yang tegas untuk menyelesaikan permasalahan dengan tepat. Seorang pemimpin tidak boleh menyepelekan suatu masalah apalagi menyangkut urusan publik. Sedikit saja abai, lalai dan tak peduli maka dampaknya akan berkepanjangan dan menyulitkan.


Wallahu a'lam bish-shawwab.

 
Top