Oleh : Nuryamah

(Aktivis Muslimah Jambi)


Genderang islamofobia terus ditabuh, tak hentinya umat Islam terus diserang dari segala arah, baik secara fisik maupun pemikiran. Serangan pemikiran dari kaum liberal kembali diarahkan pada ajaran Islam. Baru-baru ini DW-Indonesia mencoba mengusik pendidikan pembiasaan memakai jilbab pada balita sebagai persiapan di usia baligh pun disoalkan.

Dw- Indonesia mempertanyakan apakah pemakaian jilbab tersebut atas pilihan anak sendiri?

Apakah anak-anak yang dipakaikan jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?

Tentu di sini DW-Indonesia berusaha menegaskan dan menyampaikan, bahwa pemaksaan anak dalam mengenakan jilbab adalah berbahaya karena menurutnya anak tidak tahu konsekuensi dari pemakaian jilbab yang akan berdampak membentuknya menjadi generasi yang eksklusif, intoleran, dan radikal.

Untuk menguatkan narasinya DW- Indonesia juga mewawancarai psikolog Rahajeng Ika, ia menanyakan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab.

Psikolog Rahajeng Ika pun menjawab bahwa mereka menggunakan atau memakai sesuatu yang belum paham betul konsekuensi dari pemakaian itu. Dan untuk menguatkan narasinya DW- Indonesia pun mewawancarai tokoh feminis Nong DM yang menyatakan bahwa, "Itu sebuah kewajaran namun dampak eksklusif akan terbentuk pada diri anak," ujar Nong Dm kepada DW- Indonesia, tentu saja kesimpulan yang ingin disampaikan DW Indonesia adalah betapa berbahayanya memaksakan anak memakai jilbab, karena akan membentuk anak menjadi di pribadi yang eksklusif selanjutnya akan terbentuk menjadi pribadi yang intoleran dan radikal.

Itulah sesungguhnya yang berusaha mereka sampaikan, tentu narasi ini menuai kecaman dari netizen sehingga politisi Fadli Zon pun angkat bicara ia menyatakan bahwa ini adalah pernyataan sentimen islamofobia. Terlihat sangat jelas para liberalis feminis terus meningkatkan narasinya dan berupaya mencari jalan agar muslim menjadi sekuler, sehingga terpisahlah agama dari kehidupan umat Islam. Tanpa bosan dan patah semangat kaum liberalis feminis sekuler ini terus membuat statemen berusaha keras mencari jalan untuk menggiring pendidikan Islam dan kaum muslimin agar belok ke pemahaman sekuler. Setelah sebelumnya mereka membuat statemen bahwa PAUD pun sudah menyemai generasi radikal yang kemudian terus dilanjutkan dengan statemen yang saling terkait sebagai rangkaian dari narasi yang sama.

Ini merupakan bukti buah sistemik sekularisme liberal sebagai sampah yang merusak tatanan kehidupan keluarga muslim. Ketiadaan peran negara dalam melindungi umat Islam dari bahaya isu liberal ini dan ketidakseriusan negara dalam mencetak generasi unggul berkualitas menjadikan keluarga muslim menjadi satu-satunya benteng pertahanan terakhir untuk menjaga kemurnian akidah generasi Islam dan para ibu muslimah pun dituntut untuk sadari tugasnya untuk sadar dan taat syariat tidak boleh lengah dan salah dalam mendidik anak. Para orangtua harus bekerja ekstra untuk membersihkan pengaruh sekularisme dari kehidupan anak-anak dan generasi kaum muslimin. Mempertegas posisi menjadi ibu sebagai pencetak generasi untuk mewujudkan visi Islam adalah kewajiban yang harus diambil dengan penuh kesadaran agar tidak terjebak narasi kaum liberal sebagai pihak antek kafir yang terus memecah Islam.

Ide liberalisme tidak dipungkiri telah mempengaruhi generasi muslim dan merusak tatanan keluarga muslim serta telah melahirkan generasi yang rusak dimana kemerosotan moral generasi tidak bisa dibendung lagi. Maraknya tawuran, pergaulan bebas, pornografi, pornoaksi, kejadian hamil di luar nikah, maraknya kejadian menggugurkan kandungan, lahirnya generasi LGBT, dan sederet kerusakan lainnya menambah lengkap rusaknya generasi masa depan.

Inilah gambaran ketika kehidupan diatur oleh akidah kufur sekuler liberal. Terbukti apapun yang diserukannya adalah seruan untuk kembali ke zaman batu kembali pada keadaan yang kelam syarat kerusakan dan merupakan gerbang  penderitaan yang tidak pernah usai. Sepatutnya harus segera dicampakkan dan digantikan dengan sistem Islam.

Sungguh sistem Islam adalah satu-satunya sistem yang sempurna dan paripurna. Islam sudah memiliki konsep pendidikan komprehensif dan unggul sehingga tidak membutuhkan rujukan lain. Cukup hanya konsep hukum Islam saja dengan penerapan ilmu dalam kehidupan yang berbuah amal. Adapun tujuan pendidikan dalam Islam adalah demi mewujudkan anak saleh dengan pola pemikiran Islam dan pola perilaku Islam. Tugas orangtualah untuk membuat pola Islam dalam pendidikan dengan berbasis akidah yang diterapkan pada pendidikan anak disertai tsaqofah Islam  dengan standar halal dan haram yang terus distimulus sejak usia dini, dimana basis usia dini yakni usia kecil sebagai stimulus di sini tidak boleh ada paksaan semata membangun pondasi akidah dengan stimulus saja guna menancapkan prinsip akidah sampai tuntas. 

Dilakukannya pembiasaan di usia dini bertujuan untuk mempersiapkan kesiapan anak untuk terikat dengan hukum syariat Islam di usia baligh nanti, yakni saat kedudukannya sudah menjadi seorang mukallaf sebagai usia yang siap untuk mengemban dan terikat dengan syariat Islam secara utuh. Sehingga di masa baligh ini prinsip akidah tinggal mematangkan dan mengokohkan saja. Sehingga anak tidak sekadar saleh secara personal, tapi juga terdorong untuk mensalehkan orang lain juga. Ia tampil di tengah masyarakat untuk ta'muruna bilma'ruf watanhauna anil mungkar demi menyelamatkan manusia menuju ketaatan kepada Allah. 

Tampak sangat jelas Islam dan sekularisme bagaikan dua sisi, ibarat terang dan gelap.

Semoga kaum muslimin semakin terasah dengan pemikiran Islam agar tampil menjadi kaum yang tangguh tidak gagap dan gentar menghadapi gempuran pemikiran-pemikiran fasad kapitalisme, liberalisme, sekularisme, moderasi, poliandri, dan lainnya.

Sejatinya muslim tidak akan pernah bisa hidup dan mulia di habitat kapitalis dengan akidah sekuler yang dengan sengaja mencampakkan agama dari kehidupan. Mari sama-sama kita melayakkan diri untuk kembali menjadi generasi terbaik dan kembali mengemban apa yang diwariskan Rasulullah saw. untuk menjadi umat yang mulia dengan Islam. Kembali menerapkan Islam secara kafah/menyeluruh dalam segala aspek kehidupan niscaya akan melindungi seluruh rakyat yang berada di bawah kekuasaannya.

Dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dan tuntunan kehidupan. Niscaya tidak akan menutup segala bentuk kezaliman.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top