Oleh: Nur Hasanah, SKom (Pemerhati Masyarakat)


Betapa malang rasanya, saat kesulitan hidup yang dialami akibat pandemi Covid-19, sudah berlangsung selama enam bulan, kini Jokowi mengajak rakyat untuk saling membantu antar sesama. 
"Kita juga tidak boleh melupakan istighfar, dzikir, taubat kepada Allah SWT, dan memperbanyak infak dan sedekah," 
"Karena banyak saudara-saudara kita yang memang perlu dibantu di tengah kesulitan yang mereka hadapi," sambungnya. (kompas.com 26/09/2020)

Infak dan sedekah memang baik dilakukan oleh setiap individu karena itu diperintahkan dalam Islam. Namun bila pemimpin negara yang mengajak rakyatnya untuk saling membantu kepada rakyat yang terdampak pandemi Covid-19, rasanya menjadi tidak pantas, karena seperti berusaha lari dari tanggung jawab. Sejatinya ini adalah tanggung jawabnya sebagai pemimpin negara.

Hampir seluruh rakyat terkena dampak pandemi Covid-19, sehingga bila mengajak rakyat untuk saling membantu, rakyat yang mana yang mampu? Walaupun ada, mungkin hanya beberapa orang saja, dan kemampuannya pun pasti terbatas, tidak mungkin mampu membantu banyak orang.

Membantu masyarakat yang kesulitan hidup akibat terdampak pandemi Covid-19 adalah tanggung jawab negara. Negara memiliki kemampuan besar untuk mengeluarkan rakyat dari kesulitan hidup akibat terdampak pandemi Covid-19. Negara memiliki kekuasaan mengeluarkan uang dan memiliki kekuasaan mengeluarkan kebijakan untuk menyelesakan masalah Covid-19. Bila negara serius menyelesaikannya, tentu wabah Covid-19 akan segera terselesaikan. 

Negara Cina saja mampu mengatasinya sehingga kehidupan rakyatnya kini sudah kembali hidup normal. Padahal bila dibandingkan dengan Cina, Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim tentu memiliki potensi lebih besar untuk segera terbebas dari Covid-19. Di dalam Islam sudah ada sejarah yang bisa dijadikan pelajaran. Seandainya saja Jokowi mau menjadikan Islam sebagai solusi, tentu pandemi ini tidak akan berkepanjangan.

Rindu Pemimpin yang Mencintai Rakyat

Sudah diketahui bersama, Indonesia menjadi negara terburuk ke-4 di dunia dalam penanganan pandemi Covid-19. Bahkan hampir seluruh negara di dunia melakukan lockdown kepada penduduk Indonesia. Ini membuktikan bahwa pemerintah memang tidak serius dalam menangani pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia. Di saat masyarakat kesulitan hidup, alih-alih pemerintah serius menyelesaikan permasalahan pandemi Covid-19, malah meminta rakyatnya untuk saling membantu antar sesama.

Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah peribahasa yang pantas diberikan kepada rakyat Indonesia. Penguasa yang diharapkan dapat menyelesaikan kesulitan hidup rakyatnya malah rakyatnya diminta untuk membantu kesulitan hidup rakyat yang lainnya.
Kemana lagi rakyat harus mengadukan kesulitan hidupnya, bila pemimpinnya berlepas tangan dan tidak memberikan solusi penyelesaian. Sedang hidup harus tetap berjalan walau kesulitan belum juga terselesaikan. 

Rakyat tidak cukup hanya mengadu kepada Allah saja dengan melakukan istighfar dan dzikir untuk taubat kepada Allah. Karena doa pun harus disertai dengan usaha. Usahanya tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh peran negara agar usahanya dapat terlaksana secara maksimal.
Inilah pelayanan penguasa dalam sistem Demokrasi. Pelayanan hanya dilakukan setengah hati. Beda dengan pelayanan menjelang ajang pesta Demokrasi. Dalam Demokrasi, penguasa hanya memanfaatkan suara rakyat dengan janji-janji. Faktanya, janji-janji itu tidak juga ditepati. 

Rakyat memang sudah rindu kepada pemimpin yang mengajak kepada Islam. Pemimpin yang mencintai Allah, senantiasa mengingatkan rakyatnya untuk bertaubat. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang dirindukan.  Pemimpin yang amanah dalam menjalankan tugas dan ikhlas untuk menjalankan hukum Allah dalam menjalankan kebijakannya. Bukan pemimpin yang berlepas tangan dari tanggung jawab untuk mengurus kehidupan rakyatnya. Bukan pemimpin yang hanya melakukan pencitraan, agar terkesan agamis dengan nasihat-nasihatnya. 
Taubat kepada Allah memang wajib dilakukan. Tetapi taubat bukan hanya dilakukan oleh rakyat saja. Taubat juga wajib dilakukan oleh pemimpin negara beserta para wakil-wakilnya.  Taubatan nasuha secara nasional wajib dilakukan yaitu dengan menegakkan hukum Allah Sang pemilik alam semesta.

Pemimpin dalam Islam

Rasulullah SAW bersabda, "Imam [kepala negara] itu laksana penggembala, dan dialah penanggung jawab rakyat yang digembalakannya."

Konsep kepemimpinan dalam Islam sebenarnya sederhana. Layaknya pengembala yang mengembalakan hewan gembalaannya, penggembala akan memastikan hewan gembalaannya tetap terjaga dalam pandangannya. Penggembala tidak akan melepaskan gembalaannya untuk hidup seorang diri. Penggembala akan memastikan gembalaannya tercukupi makan, minum dan keamanan dari segala macam bahaya. Baik bahaya dari serangan hewan lain maupun dari wabah dan cuaca. Hal itu dilakukan agar gembalaannya selamat dari bahaya yang akan mengancam jiwanya. Untuk memastikan semua kebutuhan gembalaannya terpenuhi, tentu saja pengembala harus memiliki kecerdasan dan jiwa rela berkorban. Penggembala tidak mungkin mementingkan kepentingan dirinya tetapi pasti mengutamakan kepentingan gembalaannya.

Itulah gambaran sederhana tugas dan tanggung jawab pemimpin dalam Islam. Pemimpin dalam Islam harus memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Tugas pemimpin adalah pelayan. Pemimpin harus memastikan tercukupinya kebutuhan hidup rakyat, dari sandang, pangan maupun papan, apalagi di masa pandemi. Nyawa dalam Islam sangat berharga sehingga penjagaannya harus menjadi urusan yang utama.  Nyawa yang dijaga adalah nyawa manusia maupun nyawa hewan-hewan yang berada di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.

Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata bahwa jikalau ada kondisi jalan di daerah Irak yang rusak karena penanganan pembangunan yang tidak tepat kemudian ada seekor keledai yang terperosok kedalamnya, maka ia (Umar) bertanggung jawab karenanya.
Khalifah Umar bisa menjadi gambaran keseriusan pemimpin menjalankan perannya melayani penduduk di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak hanya manusia yang dijaga. Hewan-hewan dan seluruh penduduk bumi pun dijaganya. 

Beliau benar-benar berkorban untuk melakukan penjagaan terhadap kehidupan penduduknya, tanpa pencitraan. Sejarah menceritakan, untuk memastikan rakyatnya bisa makan, beliau sendiri yang melakukan pengawasan dan mengirimkan bantuan tanpa dibantu ajudan. 
Pemimpin dalam Islam benar-benar serius melakukan pelayanan dan penjagaan kepada rakyatnya. Dengan dorongan iman, seorang pemimpin menyadari kewajibannya menjalankan amanah. Memimpin rakyat adalah amanah dari Allah dan harus dijalankan dengan baik karena Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.

Dari Ibnu Umar RA sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: "Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya." (HR. Muslim).
Wallahu a’lam bishshawwab.
 
Top