Oleh : Asma Sulistiawati 

( Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton)

Di zaman 4.0 saat ini tidaklah mengherankan apabila kebanyakan anak-anak  lebih banyak terjun ke dunia Maya. Namun sayang, teknologi saat ini tidak menjamin memberi contoh akhlak yang baik khususnya bagi anak-anak, yang notabenenya mereka adalah peniru. Apalagi mereka merupakan generasi penerus untuk kedepannya. 

Inilah yang menjadi perhatian Wali Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Dr AS Tamrin. Beliau menyebutkan bahwa untuk mempercepat perwujudan daerah sebagai Kota Layak Anak (KLA) diperlukan sinergitas dan kerja keras berbagai pihak. Anak-anak adalah generasi penerus, anak adalah investasi kita di masa yang akan datang, maka menjadi kewajiban kita bersama untuk menjadikannya generasi berkualitas sehingga akan menjadi modal berkualitas, modal pembangunan bagi generasi ke depan," kata Walikota AS Tamrin dalam sambutannya saat membuka rapat koordinasi gugus tugas KLA, di Aula Kantor Walikota Baubau, Rabu. 

Ia mengatakan, membangun persepsi dan pemahaman yang sama antar stakeholder di daerah dalam upaya pemenuhan dan perlindungan hak anak sebagai indikator dari Kota Layak Anak. Tentunya isu anak menjadi hal penting untuk ditangani karena merupakan bagian dari urusan wajib non pelayanan dasar. Poin terpenting dalam dari perwujudan KLA adalah bukan pada penghargaannya, akan tetapi bagaimana pemerintah, masyarakat dan stakeholder lainnya hadir untuk bersama-sama memenuhi dan melindungi hak-hak anak kita sehingga mereka menjadi generasi yang berkualitas dan berakhlak mulia,” ujarnya. (AntaraSultra, 30/09/2020).

Tumbuh kembang anak akan sangat menentukan kualitas generasi penerus bangsa. Selain pola asuh orang tua, kualitas tumbuh kembang seorang anak sangat ditentukan lingkungannya. KLA merupakan sistem pembangunan yang menjamin pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak yang dilakukan secara terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan.

Namun maraknya kerusakan hari ini apakah cukup dengan KLA? Seharusnya perlindungan hak anak tidak sekedar pemenuhan kebutuhan hiburan.Tetapi yang utama adalah memenuhi hak-haknya dalam kebutuhan pokok, yakni kebutuhan primer, pendidikan dan keamanan. 

Seperti diketahui dalam pendidikan seharusnya dapat mencetak  anak yang berkualitas. Namun hari ini anak bahkan tidak terkontrol sebab adanya faktor kebebasan. Anak-anak menjadikan tontonane sebagai tuntunan diperoleh dari pergaulan, tontonan dan lingkungan. Anak juga butuh keamanan, maraknya pemerkosaan saat ini sungguh sangat mengkhawatirkan. 

Alhasil dalam sistem kapitalis, pemenuhan hak anak masih sekedar parsial. Mulai dari labelisasi sebuah wilayah dengan kota layak anaknya, hingga munculnya berbagai undang-undang mengenai anak. Namun faktanya justru makin banyak anak yang mengalami degradasi moral. ketidaksinkronan antara aturan dan realitas membuat persoalan kasus anak makin meningkat.

Sudah sepatutnya kita berkaca pada Islam yang merupakan agama yang memberi solusi, dan Rasulullah adalah figur pembawa solusi. Di dalam Islam pemenuhan hak-hak anak dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, dan bernegara, telah memberikan seperangkat aturan yang merupakan prinsip-prinsip perlindungan anak secara khusus. 

Rasulullah Saw sangat menyayangi anak-anak. Ibnu Hajar berkata “Rasulullah Saw amat rendah hati dan sayang kepada anak-anak serta suka memuliakan  mereka. Beliau melakukannya sebagai teladan dan pendidikan untuk mereka dan orang tuanya.” Hal ini diikuti oleh khalifah Umar bin Khattab, sosok yang banyak ditakuti dan disegani banyak orang, tetapi sangat sayang kepada anak-anak. Dia mengecam kekerasan terhadap mereka. Bahkan, dia menganggap tindakan seperti itu sebagai faktor yang dapat merusak kelayakan seseorang untuk menjadi wali atau pengurus bagi orang lain.

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah memecat gubernur dan pejabat karena kekerasan sikap dan kebengisannya terhadap orang-orang terdekatnya, yakni anak-anak dan keluarganya. Menurut Umar, “siapa yang keras dan bengis terhadap keluarganya sendiri, tentu terhadap manusia lain dia akan lebih keras dan bengis lagi.” (Al-Qahtani, 2013:102). 

Oleh karena itu, umat Islam seharusnya berpedoman kepada nilai-nilai Islam. Terbukti praktek-praktek yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat sebelumnya, menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan pentingnya menyayangi dan melindungi hak-hak anak.

Wallahua'lam bishawwab.

 
Top