Oleh : Titien Khadijah

Muslimah Peduli Umat 


Dunia pendidikan di Indonesia sekarang ini sangat dilema, menghadapi pandemi Covid-19, yang masih dalam taraf mengkhawatirkan. Sedangkan kegiatan belajar tidak bisa berhenti, solusi sementaranya dengan pelajaran jarak jauh (PJJ). 

Mengutip perkataan ketua komisi X DPR RI Syaiful Huda, Covid-19 masih merajalela, di sisi lain kegiatan belajar harus berjalan terus, Kemendikbud harus segera melakukan terobosan dan inovasi dalam masalah pelajaran jarak jauh, hanya perlu satu kurikulum darurat, yang intinya semua guru dan sekolah tidak boleh dipaksakan memenuhi standar kurikulum di saat  kondisi masih normal, selanjutnya progam subsidi kuota harus disegerakan. 

Dilansir oleh Republika co.id Jakarta, Ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menerima pengaduan sejumlah orangtua siswa mengeluhkan banyaknya tugas dari guru untuk anak-anaknya, karena setiap guru sesuai dengan bidang studinya memberikan tugas yang butuh dikerjakan di rumah lebih dari satu jam akibatnya tugas semakin menumpuk, akhirnya anak-anak kelelahan.

Pembelajaran jarak jauh imbas dari penyerahan virus Corona menyisakan masalah tersendiri bagi orangtua, dari gagapnya teknologi, kewalahan mengatur waktu di rumah, hingga membuat para orangtua menjadi stres, kondisi anak sering up and down dalam menghadapi pembelajaran jarak jauh, sering orangtua mengalami kesulitan dan tidak optimal dalam membantu anak-anaknya dalam  tugas anak-anaknya selama PJJ. 

Yang biasanya para guru yang mengajar sekaligus  membimbing siswa-siswanya di sekolah, baik dalam hal karakter maupun moral, juga tidak terealisasikan selama anak-anak pembelajaran jarak jauh, hal tersebut membutuhkan ada peran pihak lain untuk membimbing anak-anaknya yaitu orangtua, hal tersebut memandang orangtua harus siap dengan wawasan ilmu pengetahuan, dan menguasai  pengetahuan mengenai gadget, untuk memudahkan anak-anaknya mengikuti pelajaran jarak jauh. 

Tapi di sisi lain ada potret  dimana orangtua tidak mampu untuk memfasilitasi  perangkat pendukung pelajaran jarak jauh, seperti ponsel, laptop komputer, jaringan internet, yang sudah tersedia buat anak-anak yang mampu, tapi bagi mereka yang kurang mampu, dimana mereka juga kurang wawasan, tidak menguasai alat-alat penunjang PJJ, belum lagi tidak mampu untuk beli kuota, karena ekonomi yg terbatas, untuk makan sehari-hari saja terbatas dan dilema ini sangat menghambat pembelajaran jarak jauh buat anak-anaknya.

Di dalam kondisi normal saja para murid sudah terbebani dengan tuntutan kurikulum, ditambah kondisi yang sekarang ini, yang sedang mengalami wabah murid semakin tertekan dengan fasilitas yang tidak memadai, menjadikan tekanan, dan tidak menyenangkan bagi murid-murid selama mengikuti pelajaran jarak jauh, itulah pendidikan di era kapitalis sekuler, sebab arah tujuan dari pembelajaran itu sendiri hanya sebatas mengejar nilai secara akademis yang bersifat parsial. 

Di dalam sistem Islam, negara akan menjadi pilar utama pengaruh suksesnya pendidikan, yang di dalam Islam, pendidikan sebagai kebutuhan primer yang wajib dijamin oleh negara, karena di dalam Islam negara menjadi raa'in (penangung jawab) dimana negara bersungguh-sungguh memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh rakyatnya untuk membentuk  generasi yang cemerlang.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top