Oleh : Mega Turuy 

(Penulis Bela Islam)


SERAMBINEWS.COM, Seorang ibu berinisial LH (26) menganiaya anaknya sendiri yang berusia 8 tahun hingga tewas.

Dikutip TribunJakarta.com dari Kompas.com, LH tega membunuh darah dagingnya lantaran korban sulit diajari belajar online. Korban saat ini duduk di bangku sekolah dasar kelas satu.

"Dia merasa kesal, merasa anaknya ini susah diajarkan, susah dikasih tahu, sehingga kesal dan gelap mata," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma, pada Senin (14/9/2020).

Akhir-akhir ini ada banyak berita yang menyayat hati. Bagaimana tidak, ada seorang ibu yang tega menganiaya anaknya lantaran anaknya susah diajarkan dalam mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh gurunya. 

Di masa pandemi saat ini, tentunya para siswa-siswi yang duduk di bangku SD, SMP, SMA, bahkan Mahasiswa sekali pun sistem pembelajarannya masih dalam bentuk daring atau online. Apalagi siswa SD, dimana mereka sangat membutuhkan kehadiran ibu yang mendampingi proses belajar mereka selama pandemi. 

Adapun sikap seorang ibu dalam menghadapi permasalahan anak, dimana anak sulit untuk diajari dan susah diberi tahu, menjadi problematika sendiri bagi orangtua. Tetapi tidak seharusnya mengeluarkan kata-kata kasar bahkan sampai tindakan yang melukai fisik hingga membawa pada kematian.

Hari ini kita dihadapkan dengan berbagai macam problematika umat yang ada di negeri ini. Sistem demokrasi sekuler telah membuktikan bahwa sistem tersebut telah gagal menghasilkan orang-orang yang berkualitas, beradab, dan lain-lain.

Peran seorang ibu sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Sebab apa? Sebab peran ibu akan menentukan kualitas generasi muda. Karena ibu adalah pendidik utama bagi anak-anaknya.

Namun sayang, peran ibu di sistem sekuler hari ini telah memudar. Ibu kehilangan kesadaran dirinya dalam mendidik anak. Perlu untuk disadari, menjadi ibu sekaligus mengurusi rumah tangga bagi suaminya itu tidak mudah, harus pandai dalam membagi waktunya untuk mengurus itu semua. Yang terpenting adalah butuh ilmu. Ia harus dapat membaca pribadi anak-anaknya, persoalan dan problem yang dihadapi, bagaimana berinteraksi dengan mereka, bagaimana cara mendidik, bagaimana mengajarkan Al-Qur’an, dan bagaimana mengajarkan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama dan pendidikan. Serta harus memiliki pengetahuan tentang sarana pendidikan modern dan cara penggunaannya. 

Ilmu yang dibutuhkan tersebut hanya didapatkan dengan ilmu Islam. Dengan begitu kita akan tahu bagaimana mendidik dengan benar dan menjadi istri sholihah bagi suaminya. Sungguh, ibu hebat di mata Allah Swt. Adalah ibu yang dapat mendidik anak-anaknya menjadi generasi pejuang Islam yang tangguh.

Demikian, ibu merupakan orang pertama yang menjadi contoh dalam pendidikan bagi keluarga serta melindungi anak-anaknya dari kobaran api neraka.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At-Tahrim ayat enam, yang bunyinya:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا وَّقُوۡدُهَا النَّاسُ وَالۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُوۡنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُوۡنَ مَا يُؤۡمَرُوۡنَ 

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Ibu merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Dari pengajaran ibulah anak-anak diharapkan mampu menjadi anak yang sholih dan sholihah. Pendidikan utama awal bagi anak adalah pendidikan yang diterimanya ketika di dalam keluarga. Pendidikan keluarga sangat penting, karena mempunyai pengaruh besar bagi anak kelak ketika mereka bergaul dan bermasyarakat. Dan ibu yang shalihah sajalah yang akan berusaha memberikan pengaruh keimanan dan ketakwaan yang kuat dalam setiap jiwa anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi muslim yang taat dan terhindar dari api neraka. 

Bukan sekadar mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, dan mendidik supaya buah hatinya tumbuh besar dan cerdas. Akan tetapi, ibu berkewajiban untuk mendidik anaknya menjadi anak yang sholih-sholihah, yang kelak mampu ikut mengambil peran dalam mendakwahkan Islam di tengah-tengah masyarakat. Berbekal akidah Islam yang kokoh, ketakwaan kepada Allah, serta ilmu-ilmu Islam yang dimilikinya, anak-anak diharapkan mampu menjadi penerus dakwah orang tuanya.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top