Oleh : Umi Rizkyi

Komunitas Setajam Pena


Sejak beberapa tahun terakhir ini, kurikulum pendidikan berganti sebanyak 11 kali. Tapi sungguh disayangkan, sampai saat ini belum juga menemukan resep yang manjur untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Begitu pula, banyaknya program yang dialirkan, sebagai upaya untuk menemukan solusinya, namun hanya tambal sulam semata. Dari program wajib belajar, program merdeka belajar dan kini upaya penghapusan Ujian Nasional tahun 2021.

Seperti data yang dilansir oleh kompas.com Minggu (11/10/2020), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan asesmen nasional sebagai pengganti Ujian Nasional pada 2021. Karena asesmen nasional tidak hanya mengevaluasi capaian peserta didik dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses dan hasil.

Masalah pendidikan sungguh sangat rumit. Biaya yang dikeluarkan pun begitu luar biasa besarnya. Apa lagi jika sampai perguruan tinggi, biayanya mahal dan harus banyak modal. Sesungguhnya hal ini berakar dari dua hal.

Pertama, adanya kesalahan paradigma pendidikan. Pendidikan yang lahir dari sistem sekuler akan melahirkan manusia-manusia yang materialis dan individualis. Berbeda dengan Islam, maka paradigmanya adalah akidah Islam. Sehingga akan melahirkan manusia-manusia yang senantiasa taat agama dan bertakwa.

Kedua, terdapat trifungsional yang lemah pada unsur pelaksanaan pendidikan. Baik dari lembaga pendidikan yang bertumpu pada kurikulum yang kacau, disfungsi guru dan lingkungan sekolah. Keluarga yang tidak mendukung, serta masyarakat yang tidak kondusif.

Hal ini akan jauh berbeda jika sistem Islam yang diterapkan oleh sebuah negara dalam kehidupan sehari-hari yaitu yang disebut dengan sistem khilafah. Dimana tugas khalifah adalah menjamin kebutuhan seluruh rakyatnya baik muslim non muslim. Kebutuhan rakyat menyangkut kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan dan juga termasuk pendidikan.

Inilah keunggulan sistem khilafah mengatur tentang pendidikan, pertama pendidikan dibangun atas paradigma Islam. Dengan tujuan untuk membentuk kepribadian Islam, menguasai berbagai tsaqofah Islam, juga mahir dalam penguasaan ilmu sains dan teknologi.

kedua, kurikulum pendidikan islam, tentunya berbasis akidah Islam. Sebab, kurikulum di sini merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang berjalan secara berkesinambungan pada seluruh jenjang pendidikan. Baik itu dilihat dari perangkat materi, pembelajaran, strategi belajar dan evaluasi belajar.

Ketiga, fasilitas pendidikan yang memadai dan berkualitas. Hal ini wajib dipenuhi oleh negara. Setiap daerah memiliki fasilitas yang sama. Agar tidak adanya kesenjangan sosial seperti yang terjadi saat ini. Siswa yang belajar di kota dipandang lebih pintar dan lebih baik kualitasnya daripada siswa yang sekolah di desa. Agar seluruh peserta didik bisa menikmati fasilitas pendidikan yang sama. Negara pun juga wajib untuk menyediakan infrastruktur yang baik dan memadai, misal gedung, balai penelitian, buku pelajaran dan lain sebagainya.

Keempat, pembiayaan pendidikan menjadi tanggung jawab negara. Adapun sumber pendanaan yang didapat oleh khilafah adalah dari Baitul Mal, yang berasal dari harta fa'i, jizyah, milkiyyah dan Kharaj.

Kelima, adanya guru dan tenaga pendidik yang profesional. Dan negara wajib menggaji guru dengan gaji yang cukup. Pernah dikisahkan pada kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau pernah menggaji guru sebesar 15 Dinar, jika dirupiahkan 45juta rupiah per bulan.

Keenam, sistem pendidikan Islam akan melahirkan keluarga yang beriman dan bertakwa. Dimana sistem pendidikan Islam akan membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan bagi bapak yang berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya. Dimana istri akan tinggal di rumah, melaksanakan kewajibannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Dengan begitu, maka bapak dan ibu akan maksimal menjalankan kewajibannya, sehingga akan melahirkan keluarga yang beriman dan bertakwa.

Ketujuh, pendidikan Islam akan menciptakan suasana masyarakat yang kondusif. Karena pada dasarnya, pendidikan Islam yaitu membangun masyarakat yang beriman dan bertakwa. Inilah yang merupakan kontrol sosial yang sesungguhnya. Jadi, dengan demikian maka tidak akan ada ruang bagi tsaqofah asing masuk di wilayah daulah Islam yaitu wilayah khilafah.

Kedelapan, Negara khilafah membolehkan individu/swasta menyelenggarakan pendidikan secara mandiri, asal kurikulum dan satuan pembelajaran sesuai dengan hukum syariat. Jika ada kelalaian atau bahkan kesengajaan, maka khilafah dengan tegas akan memberi sanksi atas pelanggaran hukum syariat yang dilanggarnya.

Dengan demikian, maka penghapusan Ujian Nasional tidak akan mampu untuk mendongkrak kualitas pendidikan. Hal ini hanyalah upaya tambal sulam semata. Begitu indahnya Islam jika diterapkan, hendaknya kita sebagai kaum muslim merindukan dan berjuang untuk kembalinya Islam dalam mengatur semua aspek kehidupan. Hal ini mustahil akan terwujud selama sistem yang diterapkan selain Islam.

Kini saatnya kita beralih, dari sistem kufur ke sistem yang diridai Allah Swt. yaitu sistem Islam dalam bingkai khilafah. Semoga tegaknya khilafah akan segera kembali. Allahuakbar.

 
Top