Oleh : Pri Afifah


Disahkannya Ominubus Law Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) tak hanya mendapat penolakan dari buruh. Tapi, mahasiswa pun turun ke jalanan untuk menyuarakan penolakan Omnibus Law UU Ciptaker. Terkait demo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun mengimbau para mahasiswa untuk tidak ikut aksi unjuk rasa.

Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 1035/E/KM/2020 yang berisikan himbauan pembelajaran secara daring dan sosialisasi UU Ciptaker tertanggal 9 Oktober. SE yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Nizam ini ditujukan untuk para pimpinan perguruan tinggi di lingkungan Kemendikbud. Serta tembusan kepada Mendikbud Nadiem Makarim, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah I-XVI. JawaPos.com 13/09/2020.

Selain pelarangan yang dilakukan Kemendikbud, aksi ini juga mendapat respon dari Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani. Shinta merasa heran dengan aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Alasannya kelak ketika sudah lulus, mahasiswa akan membutuhkan pekerjaan. Undang-Undang “Sapu Jagat” dibuat untuk menciptakan lapangan kerja, yang manfaatnya bisa dirasakan oleh mahasiswa.

“Mahasiswa itu kan pencari kerja nantinya. Jadi ini kan kita lakukan untuk mereka juga gitu supaya lapangan pekerjaannya ada. Kok malah didemo. Jadi kadang-kadang kita juga nggak mengerti nih tujuannya apa kok bisa ada demo-demo mahasiswa seperti ini,” kata dia saat dihubungi detikcom, Kamis (8/10/2020).

Ketua Umum Nahdatul Ulama Said Aqil Siraj juga menghimbau kepada siapa saja yang tidak setuju dengan Undang-Undang Omnibus law, untuk menempuh jalur hukum melalui Mahkamah Konstitusi. Itu lebih terhormat daripada mengerahkan massa dan berakhir ricuh. 

Menyedihkan memang, saat ini peran mahasiswa dikerdilkan oleh opini yang berkembang. Mahasiswa yang berprestasi adalah mereka yang fokus dengan urusan akademisnya. Fokus pada materi kuliah dan tidak peduli dengan urusan masyarakat yang berkembang. 

Label mahasiswa sukses yang disematkan pemerintah adalah mereka yang bekerja di perusahaan bergengsi, memiliki gaji besar serta karir yang terus melejit. Mahasiswa digiring hanya untuk memikirkan dirinya sendiri. Acuh terhadap urusan umat dan masyarakat. Serta hanya memikirkan dirinya. Nilai-nilai akademik hanya untuk mengejar materi semata. 

Maka tidak heran jika ada kasus ketua mahasiswa yang pagi demo, lalu malamnya diundang makan malam di istana, esoknya lupa dengan aspirasi yang dibawa. Mahasiswa ber-IPK tinggi yang cuek terhadap urusan politik seolah lebih terhormat ketimbang meraka yang aktif memikirkan umat. 

Hakikatnya pemuda selalu memiliki sifat yang kreatif, ingin selalu mengetahui hal-hal baru, berani bertindak dan bertanggung jawab. Di tangan para pemudalah sejarah membuktikan telah terjadinya perubahan. 

Apabila menilisik lebih jauh tentang perjuangan bangsa Indonesia, pemuda telah memberikan sumbangsih yang signifikan. Mari kita tengok, bagaimana lahirnya organisasi non kedaerahan pada masa 1900-an. Tentunya, pemuda menjadi gerbang utama dalam perubahan itu. Seperti munculnya Organisasi Budi Utomo dan sebagainya. 

Kenyataan kedua ialah tentang adanya peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Pada peristiwa ini, pemuda ikut serta dalam penyatuan entitas bangsa dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, umat muslim mengenal sosok Ali bin Abi Thalib. Pemuda yang baru menginjak usia delapan tahun. Rasulullah saw. sangat memahami salah satu keberhasilan dakwah yang paling efektif adalah dari kalangan anak muda. 

Di tangan pemudalah ujung tombak perubahan ditentukan, berhasil atau tidaknya tergantung bagaimana kemampuan melejitkan potensi hebat para pemuda. Terbukti, sahabat muda ini berhasil mengalahkan Syaibah bin Abi Rabi'ah dalam duel pembuka Perang Badar yang menjadi titik tolak kemenangan Islam pertama dalam sejarah. 

Selain Ali, Rasulullah juga merekrut seorang pemuda yang rumahnya dijadikan sebagai markas perjuangan dakwah yang dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi. Berawal dari Baitul Arqam “Rumah Arqam” itulah menjadi landasan dan pondasi dakwah pertama yang melahirkan sejumlah tokoh penting sahabat lainnya, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf.

Abas Rasulullah saw. pernah berkata, “Tidak diutus seorang Nabi melainkan pemuda, dan tidak diberi ilmu seseorang melainkan di masa mudanya.”

Mahasiswa adalah corong perubahan, dengan ilmu dan energinya akan membawa umat pada perubahan yang hakiki. Yaitu sistem Islam yang terbukti mampu menaungi negeri ini.

Maka sudah saatnya para mahasiswa untuk rela berlelah-lelah membina diri dengan tsaqofah Islam. Hingga memahami perjuangan yang benar sesuai dengan tuntunan Nabi saw.

Maka sudah saatnya para pemuda bangkit, membawa umat kepada perubahan yang hakiki, yaitu perubahan Islam. Jangan biarkan waktu, pikiran serta tenaga kita habis hanya untuk memikirkan urusan dunia yang fana ini.

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top