Oleh: Adibatus Shohifah
(Aktivis Dakwah Remaja Kalsel)

Permulaan babak baru permainan drama kapitalisme yang dituangkan dalam naskah nan terlihat elok dan penuh harap, namun berujung pada kenyataan yang semu.

Tepat pada jum'at (18/09/2020) untuk pertama kalinya Indonesia bersama dengan PBB turut serta merayakan hari Kesetaraan Upah Internasional, keterlibatan PBB dalam perayaan ini merupakan bentuk pembelaan terhadap hak asasi bagi perempuan dan anak perempuan. Perayaan ini dilatarbelakangi data global yang menunjukan upah perempuan dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Sebuah pernyataan dari Menteri Ketenaga kerjaan Republik Indonesia, Ida Fauziyah dalam pers yang dibagikan oleh Un Women "mempertimbangkan kesenjangan gender di pasar kerja saat ini, kementrian saya bersama dengan semua mitra sosial kami dan Organisasi Internasional, terus mendorong aksi bersama menentang diskriminasi berbasis gender di tempat kerja, ini saatnya bagi perempuan dan laki-laki untuk dihargai secara setara berdasarkan bakat,hasil kerja dan kompetensi, bukan berdasarkan gender" ujarnya.

Keadaan ini menjadi kesempatan emas bagi oknum yang gencar mengkampanyekan kesetaraan gender. Sehingga menuntut perempuan untuk memperjuangkan haknya agar disetarakan dengan laki-laki. Hal ini akan membuat perkerja perempuan terjun kedalam berbagai aspek bidang perkerjaan yang dikerjakan oleh laki-laki dan melupakan tanggung jawabnya yang utama dalam kepengurusan rumah tangga. Tanpa menyadari bahaya dan kehancuran yang akan di hadapai.

Dikutip dari detik.com sebagaimana pernyataan dari ketua umum Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) Jumisih mengatakan,FBLP telah melakukan sebuah penelitian yang didasarkan  pada wawancara langsung kepada korban,setidaknya sudah ada 25 kasus pelecehan seksual yang terjadi kepada buruh perempuan yang bekerja di pabrik sejak tahun 2012.

Nyatanya kesetaraan yang dicanangkan  hanyalah sebuah topeng, dan tidak akan pernah berhasil membawa keadilan bagi perempuan. Jika yang menjadi penggerak dari sistem sekarang ini masih sistem demokrasi yang mengadopsi paham kapitalisme. Mereka hanya melakukan suatu proyek bisnis berdasarkan maksud tertentu, yang  memperhatikan kepentingan dan keuntungan untuk memperkaya diri sendiri.
Tidak ada kisah manis yang di dengar dari sistem kapitalisme. Semuanya hanya bergerak demi keuntungan belaka, dengan meraup hasil yang sebesar-besarnya, tanpa memperdulikan hak seseorang.

Keadaan ini tentunya sangat bertolak belakang dengan sistem yang pernah diterapkan oleh Islam, dimana keberadaannya dapat memberikan hak dan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Tanpa ada pihak yang terzalimi. Keberhasilannya memimpin dunia dalam berbagai sistem kepengurusan telah tercatat rapi dalam rentetan sejarah.

Terlebih lagi Islam sangat memperhatikan dan menjaga  wanita. Bekerja bagi wanita bukanlah merupakan suatu kewajiban, para suami dan wali lah yang berkewajiban menanggung nafkah. Kewajiban  wanita adalah fokus kepada pengurusan keluarganya,  berbakti kepada suami, merawat mendidik anak-anaknya.

Kesetaraan dalam Islam bukan dilihat kepada apa yang tampak oleh zahir. Derajat seorang muslim dilihat berdasarkan iman dan ketakwaan nya kepada Allah Swt, semuanya memiliki kedudukann yang sama.

Bekerja memang sudah menjadi ruang lingkup bagi laki-laki untuk mendapat keridhoan Allah pun dengan wanita yang berdiam dirumah/memilih berkerja tidak menutup kemungkinan untuk memiliki kedudukan yang sama bagi laki-laki dalam mencari ridho Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis" dunia ini adalah perhiasan  dan sebaik baik perhiasan adalah istri yang shalihah"(HR.Muslim). Tidak menutup kemungkinan wanita dapat  menjadi sebaik-baik perhiasan yang berharga jika dirinya dihiasi dengan ilmu dan ketakwaan kepada Allah Swt. Syariat Islam yang mengatur hak perempuan bertujuan untuk menunjukan kemuliaan dan keutamaan bagi mereka. Sekaligus sebagai penjagaan terhadap fitrah-fitrah wanita.

Sementara musuh-musuh Islam mengesankan bahwa aturan dalam Islam adalah upaya untuk mengekang atau membatasi kebebasan-kebebasan kaum wanita. Tidak akan terjadi perubahan yang hakiki jika tidak berjalan  diatas hukum yang berasal dari Allah Swt.

Allah telah menurunkan Islam sebagai agama yang sempurna untuk mengatur segala ranah kehidupan,dan islam yang sempurna tidak akan mampu diterapkan secara menyeluruh tanpa adanya suatu institusi penyelanggara dan penjaganya.

Maka dari itu adalah kewajiban bagi kita seluruh umat muslim untuk mengembalikan institusi kepemimpinan Islam tersebut di tengah-tengah masyarakat ,yang keberadaannya tidak hanya akan mengurusi dan mengatur tentang kesetaraan hak, tetapi mengurusi segala bidang dalam semua aspek kehidupan.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi khalifah…” (TQS al-Baqarah [2]: 30). Sungguh dari dalil tersebut tidak dapat ditolak bahwa Allah ingin menjadikan  pemimpin-pemimpin dibumi.

Dan dalam sebuah hadis disebutkan sebutkan "..Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam  Sunan-nya (no. 2796). Dalam hadits tersebut terdapat bisyarah dari Rasulullah ´Ě║  bahwa akan tegak kembali di masa kepemimpinan khilafah ala minhajin nubuwwah, agama yang di ajarankan  Islam yang dibawa oleh Rasulullah´Ě║.
Maka sudah selayaknya kita memantaskan diri untuk menyambut kembali kehadirannya, dengan bersungguh-sungguh berjuang untuk kembalinya sistem pemerintahan Islam, yang membawa rahmat bagi semesta alam.

wallahu alam bishawab.

 
Top