Oleh : Verawati, S.Pd

(Pegiat Opini Islam dan Praktisi Pendidikan)


Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengajak Pemuda Muhammadiyah untuk membangun Indonesia sebagai negara islami. Islami yang dimaksud adalah akhlak seperti jujur, demokratis, toleran, dan egaliter. Hal itu disampaikan Mahfud dalam sambutannya pada acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemuda Muhammadiyah yang digelar secara daring, Minggu (27/9/2020).

Pernyataan tersebut tentu bukanlah hal yang sepele. Datang dari seorang tokoh yang tidak diragukan lagi keilmuannya dalam masalah kenegaraan. Sehingga tahu betul permasalahan yang dihadapi bangsa ini yang kian hari terus bertambah. Mulai masalah pemerintahan yang ditandai oleh banyaknya kasus pejabat korupsi. Masalah sosial, ditandai oleh banyaknya kasus kejahatan, pencurian, pembunuhan, narkoba, aborsi, hamil di luar nikah, LGBT, perceraian dan lain sebagainya. Termasuk masalah ekonomi, yang ditandai oleh sulitnya lapangan kerja, banyak yang mengalami PHK, harga-harga mahal, daya beli rendah, pajak kian naik. Dan yang tidak kalah penting adalah wabah Covid-19 yang telah menelan banyak korban dan belum ada tanda-tanda penurunan. Tentu semua persoalan kehidupan masyarakat dan bangsa ini butuh solusi yang tepat. Akan tetapi, tepatkah membangun Indonesia dengan menjadikan negara islami? Ataukah dengan negara Islam?

Negara islami yang dimaksud oleh Menko Polhukam di atas lebih kurang hanya menekankan pada menghiasi individu-individu dengan akhlak Islam semata, bukan pada sistem kehidupan secara menyeluruh. Betul bahwa akhlak adalah bagian dari ajaran Islam. Akan tetapi, keberadaannya bukan sebagai solusi menyeluruh atas persoalan kehidupan. Orang yang jujur dan baik sesungguhnya banyak di negeri ini, para pejabat pun banyak yang jebolan dari pesantren atau dari perguruan agama. Tapi nyatanya ketika mereka masuk dalam dalam sistem demokrasi kapitalisme, mereka menjadi koruptor ataupun pelaku kejahatan lainya. Hal ini pun, bukan satu atau dua orang pelakunya, tetapi hampir semua orang terlibat. Maka sejatinya permasalahannya bukan pada akhlak semata, tetapi pada sistemnya. Bahkan ada pernyataan dari tokoh nasional “Jangankan manusia, malaikat saja bisa jadi setan dalam sistem demokrasi kapitalis ini” atau ada istilah “orang jujur ancur”.

Inilah fakta, bahwa yang harus diperbaiki tidak hanya individu atau akhlaknya saja, tetapi juga sistem kehidupannya. Demokrasi kapitalisme yang saat ini diterapkan ternyata tidak mampu memberikan solusi atas segudang permasalahan tersebut. Bahkan yang terjadi adalah membawa umat pada jurang keterpurukan yang semakin dalam bahkan hancur. Jangankan di negara Indonesia, di negara Barat yakni Amerika Serikat kapitalis tidak mampu memberikan solusi tuntas. Karena pada dasarnya kapitalis telah cacat sejak lahir. Bukan hanya disebabkan sistem buatan manusia semata yang lemah dan terbatas, melainkan juga sistem ini hanya mementingkan pemiik modal, yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin.

Adapun negara Islam adalah negara yang berlandaskan pada perintah dan larangan dari Allah Swt. Yang Maha Segalanya. Manusia harus menyadari bahwa dirinya lemah. Curahan pikir manusia juga terbatas, tidak mampu mencapai hakikat. Apalagi, semua aturan yang dibuat tidak lepas dari kepentingan pribadi dan golongannya, rawan memunculkan pertentangan dan tidak akan sanggup mewujudkan maslahat bersama apalagi menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sebaliknya aturan dari Sang Khaliq adalah yang terbaik karena bersumber dari Dzat Yang Maha tahu. Tinggal kita gali dan kita sajikan sebagai tawaran nyata mengakhiri beragam krisis individual, lokal dan internasional. Yang jelas, tawaran menjadikan khilafah dan sistem Islam sebagai solusi bukan hanya berbasis imani tapi sudah teruji nyata dalam pemberlakuan khilafah dan mampu meri’ayah dunia sepanjang hampir 13 abad. 

Dari sisi kewajibannya, seluruh para ulama terdahulu menyepakati atas wajibnya sistem Islam atau pemerintahan Islam atau khilafah. Kewajiban ini bersumber dari dalil-dalil syar’i yakni Al-Quran, Sunah dan Ijma sahabat. Dalil Al-Quran di antaranya adalah surat al-Maidah ayat 48 “…maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…”

Sedangkan dari Sunah adalah sabda Nabi Muhammad saw., “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliah” (HR. Muslim nomor 1851) dan dari Ijma Sahabat adalah peristiwa pemakaman Nabi Muhammad yang ditunda hingga terpilih sahabat Abu Bakar sebagai khalifah.

Maka sejatinya tidak ada solusi lain dalam menghadapi berbagai persoalan umat muslim dan juga dunia, kecuali kembali kepada Islam. Islam sebagai agama dan juga ideologi memiliki solusi atas semua permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Mari kita berupaya semaksimal untuk mungkin meraih pertolongan Allah Swt. agar segera memenangkan agama ini dengan tegaknya Khilafah Islamiyyah.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top