Oleh : Tri Sundari

Member AMK dan Pendidik Generasi


Wabah virus Corona sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, malah sebaliknya, di Indonesia jumlah penderita terus mengalami peningkatan. 

Berdasarkan data Satgas Covid-19, jumlah kumulatif kasus positif virus Corona di Indonesia sudah mencapai 262.022 orang per Kamis (24/9), atau bertambah 4.634 orang dari hari sebelumnya.

Menurut data yang ada, sebanyak 191.853 orang dinyatakan telah sembuh dan 10.105 orang meninggal dunia atau bertambah 128 kasus pada hari ini. 

Dilansir oleh CNN Indonesia 24/09/2020, Jawa Timur merupakan provinsi penyumbang kasus kematian akibat Covid-19 terbanyak di Indonesia per hari Kamis (24/9), dengan 27 kasus meninggal. Sehingga secara total Jatim memiliki 3.062 kasus kematian.

Sementara itu, Jawa Tengah berada di bawah Jatim dengan tambahan 25 kematian, dengan akumulasi kematian 1.359 kasus. Kemudian disusul oleh Provinsi DKI Jakarta di urutan selanjutnya yang mengalami penambahan 20 kasus kematian dengan akumulasi korban meninggal berjumlah 1.648 kasus. 

Tambahan kasus kematian juga terjadi di Jawa Barat yakni 12 kasus, sehingga akumulasi kasus kematian menjadi 355 kasus.

Sangat memprihatinkan, ketika kita melihat grafik yang menunjukkan tambahan kasus kematian, bahkan pernah beberapa kali pecah rekor, yaitu pada 16 September 135 kasus, kemudian 22 September 160 kasus.

Masyarakat seringkali mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menangani pandemi ini, terlebih setelah data menunjukkan angka 10 ribu kematian akibat Covid, akan tetapi sangat disayangkan karena alih-alih melakukan perbaikan agar angka kematian akibat pandemi ini mengalami penurunan, pemerintah malah menyoal definisi kematian. 

Dilansir oleh Kompas.com, 22/09/2020, Staf Ahli Menteri Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan Mohamad Subuh menegaskan, pemerintah tidak akan mengubah penulisan angka kasus kematian akibat Covid-19, tetapi hanya akan menambah detail pada definisi kasus kematian akibat Covid-19.

Hal tersebut disampaikan Wiku untuk menanggapi permohonan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada Kementerian Kesehatan. Gubernur Jawa Timur meminta untuk membedakan angka kematian akibat Covid-19 antara pasien yang menderita penyakit komorbid dan tidak.

Di saat masyarakat dihinggapi rasa cemas oleh virus Covid-19 yang semakin banyak menelan korban jiwa baik di pihak tenaga medis maupun rakyat biasa, di sisi lain presiden terus menyuarakan keberhasilan meningkatkan angka kesembuhan. 

Dilansir oleh Okenews, Sabtu 26/09/2020, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan persentase kesembuhan pasien virus Covid-19 di Indonesia mencapai di angka 73.25 persen. Angka itu mengacu data harian kasus Covid-19 pada tanggal 25 September.

"Alhamdulillah per 25 September, angka kesembuhan kita mencapai 196.000 orang dengan tingkat kesembuhan 73,25 persen,” ujar Jokowi saat membuka Muktamar IV PP Parmusi Tahun 2020 secara virtual, Sabtu (26/9/2020).

Pemerintah mengajak masyarakat agar ikut bersama-sama mengatasi pandemi virus Covid-19. Salah satu langkah yang ditempuh oleh pemerintah untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 adalah menyiapkan vaksin.

Akan tetapi, epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengingatkan pemerintah untuk mengutamakan aspek keamanan dalam penyediaan vaksin Covid-19.

Dilansir oleh Okezone, 24/09/2020, Dicky menerangkan, saat ini vaksin yang dibuat Sinovac belum melaporkan hasil risetnya ke dalam jurnal ilmiah. Kata dia, hanya ada tiga vaksin yang telah melaporkan hasil uji fase III yakni vaksin Modrena Therapeutics, Pfizer, dan Universitas Oxford dan AstraZenecca.

Jika kita melihat saat terjadi wabah pada masa Khalifah Umar ra. Negara selalu hadir sebagai penanggung jawab urusan umat. Negara tidak berlepas tangan, bahkan senantiasa ada dan terdepan dalam setiap keadaan. Pada saat itu, negara tidak menyerahkan urusan rakyatnya pada pihak lain.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Seorang imam yang berkuasa atas masyarakat bagaikan penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya (rakyatnya).”

Sejatinya dalam situasi seperti saat ini, pemerintah jangan hanya memikirkan bisnis semata dengan menyediakan vaksin. Karena yang akan diuntungkan dari pengadaan vaksin tersebut adalah kaum kapitalis. Rakyat tetap dibebankan agar membeli vaksin jika mengharapkan kesembuhan.

Rakyat saat ini tidak membutuhkan pemberitaan tentang keberhasilan pemerintah mengotak-atik data infografis untuk sekadar memperbaiki citra. Misalkan dengan memberikan rincian jiwa yang meninggal tersebut, disebabkan oleh virus Covid-19 ataukah pasien tersebut mempunyai komorbid. 

Rakyat hanya menginginkan kerja nyata dan kesungguhan pemerintah dengan kebijakan yang benar-benar berorientasi keselamatan jiwa bukan menurunkan angka kematian di atas kertas.

Islam adalah agama yang sempurna, sesuai fitrah & menentramkan hati. Dengan menerapkan aturan Islam, permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia akan dapat segera diatasi. 

Pemerintah seharusnya lebih mengutamakan keselamatan nyawa warga negaranya dibandingkan dengan mencari keuntungan dengan pengadaan vaksin. Nyawa satu orang yang tidak bersalah itu sangat dihargai dalam Islam.

Pada masa kejayaan Islam, para pemimpin mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk melindungi rakyatnya. Bukan dengan menganggap enteng suatu wabah dan ketika sudah menjangkiti warganya mencari solusi dengan pengadaan vaksin.

Saat ini, yang diperlukan oleh umat adalah penerapan Islam secara kafah, karena dengan sistem Islam maka seluruh permasalahan akan sanggup diatasi.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top