Oleh : Adisa NF

Alumni Branding for Writer 212


Setelah protes, penolakan dari berbagai pihak, program Kementerian Agama (Kemenag) RI, "Sertifikasi Da'i diganti menjadi "Da'i Bersertifikat". Kemudian diganti lagi menjadi "Bimbingan Teknis Da'i Bersertifikat".


Program Bimtek Da'i Bersertifikat dilaunching pada Jumat, dibuka langsung oleh Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi. (18/9/2020) 


Fachrul Razi menyatakan bahwa program penceramah yang ada untuk mencegah penyebaran paham radikalisme. (Cnnindonesia, 03/09/2020)


Menurut Zainut Tauhid, "Penceramah agama bersertifikat ini bertujuan mengembangkan kompetensi para penceramah agama sehingga dapat memenuhi ketentuan zaman dan sekaligus meneguhkan perannya di tengah-tengah modernitas." (Merdeka.com, 18/09/2020)


"Di era modernitas, agama dituntut untuk menjawab perkembangan itu dengan pemahaman moderat," imbuhnya. 


Program penceramah bersertifikat ini diduga sedang menanamkan satu nilai yang berkaitan dengan kebangsaan, wacana radikalisme dan sebagainya.


Dan program ini rencananya akan diikuti oleh kurang lebih dari 8200 orang mubaligh. Untuk menyensor atau menyaring siapa penceramah yang layak mendapatkan sertifikat sesuai dengan alam pikiran dan kriteria rezim. 


Ini selaras dengan cara-cara kolonial dalam membungkam alam pikiran masyarakat. Karena harus selaras dengan ide dan keinginan rezim. Dari berbagai wacana sangat memperjelas bahwa demokrasi untuk semua, kecuali untuk Islam. Karena sejak awal demokrasi tidak menempatkan kedaulatan di tangan syariat, melainkan di tangan manusia. Dan tak pernah memberikan ruang kepada Islam untuk menyampaikan ajarannya secara jujur. 


Ini berawal dari fobia yang luar biasa terhadap penceramah yang diklaim kritis, suaranya yang tegas atau vokal dan lain-lain. Semua dituduh sebagai radikal, aksi biang aksi-aksi kekerasan (baca: terorisme). Meski tidak ada satu pun bukti dari mereka pernah ada yang melakukan aksi-aksi kekerasan apalagi terorisme, Yang ada ketakutan karena banyaknya penceramah yang sudah kritis terhadap pemerintah. 


Da'i hakikatnya adalah orang yang menyampaikan ajaran Islam dengan amanah, apa adanya, tidak menambah dan mengurangi, tidak membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, tidak juga mencampurkan antara yang benar dan yang salah. 


Islam hanya sekedar agama ritual, moral dan spiritual saja. Melainkan seluruh aspek kehidupan termasuk ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan dan lain-lain. Karena Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. 


Sudah menjadi kewajiban para dai untuk menyampaikan Islam secara utuh dan menyeluruh. Tidak hanya membahas masalah shalat, zakat, shaum, dan haji saja.


Wajib pula disampaikan tentang amalan yang lain seperti bagaimana muamalah dalam Islam, 'uqubat (sanksi hukimIslam), jihad, termasuk kewajiban menegakkan aturan Islam kaffah dalam sistem pemerintahan. 


"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh nyata bagi kalian." (TQS. Al-Baqarah [2]: 208)


Kaffah terdekat jami'an, artinya tidak boleh sedikit pun syariah dan hukum Islam itu ditanggapi. (Al-Jazairi, Aysar at-Tafsir, 1/97)


Wallahu a'lam bi ash-shawwab.


 
Top