Oleh : Rahmayana, S.Pi

Dalam acara pembukaan Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/9), Presiden Joko Widodo dalam pidatonya mengingatkan masyarakat untuk mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya dengan berdzikir dan taubat. “Kita juga tidak boleh melupakan zikir, istighfar, taubat kepada Allah Swt". Selain itu Presiden juga mengingatkan untuk banyak berbagi atau infaq pada masa pandemi seperti saat ini dan juga berdoa semoga pandemi segera berakhir. (Merdeka.com 26/09)

Sebagai umat beragama terutama sebagai seorang muslim, sudah tentu ini merupakan sebuah kewajiban yang seharusnya dilakukan setiap individu dan bersegera melaksanakan taubat sebagaimana firman Allah Swt dalam QS Ali Imran ayat 133 yang artinya:
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan bersegeralah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” 

Namun taubat yang sesungguhnya tidaklah cukup hanya dengan melakukan dzikir, istighfar dan sedekah semata. Taubat sesungguhny adalah dengan menyadari segala bentuk kesalahan yang telah dilakukan, memohon ampunan dan segera melakukan ketaatan secara total dengan berupaya untuk melaksanakan seluruh aturan Allah baik urusan individu, keluarga, masyarakat dan negara.

Selain melakukan tobat nasional, untuk mengatasi pandemi yang terjadi saat ini haruslah dengan pengelolaan yang sitematis dalam segala aspek kehidupan sehingga pandemi ini dapat diputus rantainya dan krisis yang terjadi segera berakhir. Islam Sebagai agama yang sempurna, tidak satu pun persoalan kehidupan manusia kecuali ada penyelesaiannya yang tentunya bukanlah asal-asalan, tapi sesuai fakta, tuntas, manusiawi, dan pelestari kehidupan.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam memutuskan rantai penularan wabah yaitu pertama ; penguncian area wabah (lockdown syar’i) sehingga hal ini dapat menutup rapat celah penularan baik sudah terinfeksi tetapi belum diketahui dengan baik karakteristik kuman dan manivestasi klinisnya, maupun dari yang terinfeksi tanpa gejala.
Kedua, pengisolasian  yang sakit, sebagaimana hadist Rasulullah Saw  “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari). Ketiga ; pengobatan segera hingga sembuh bagi setiap orang yang terinfeksi meski tanpa gejala (asymptomatic). keempat, social distancing, sebab Kuman yang penularannya antarmanusia akan menjadikan kerumunan manusia sebagai sarana penularan, begitu juga sebaliknya. kelima, penguatan imunitas (daya tahan) tubuh.

Untuk melaksanakan kelima hal tersebut diatas tidak mungkin dapat dilakukan hanya oleh masing-masing individu. Tetapi harus dilakukan dengan sitematis oleh sebuah negara dalam hal ini adalah penguasa karena negaralah yang wajib menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai secara kualitas dan kuantitas serta SDM kesehatan yang mudah didapatkan kapan saja dan di mana saja di saat dibutuhkan masyarakat.

Selain itu, tentu harus didukung oleh sistem yang komplit sehingga dapat mendukung pelaksanaan sistem kesehatan Islam, khususnya sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam.

Sungguh, tidak ada jalan lain bagi penyelesaian persoalan bangsa ini, khususnya pandemi dengan berbagai persoalan yang menyertainya, kecuali dengan kembali pada pangkuan kehidupan Islam yakni khilafah islamiyyah yang telah terbukti mampu menghadapi pandemi dan menyelesaikan dengan baik.

Wallahu a'lam

 
Top