Oleh : Dowey Santi Alfatih


Konsekuensi keimanan seorang muslim mewajibkannya terikat dengan hukum syara'. Yaitu hukum-hukum yang merupakan seruan pembuat hukum yaitu Allah Ta'ala. Hukum syariat itu merupakan manual bagi setiap manusia utamanya muslim agar dapat meraih kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah ayat 208, "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah engkau ikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya dia musuh yang nyata bagimu."

Dalam ayat ini Allah memerintahkan agar orang yang beriman masuk Islam secara total artinya menjalankan syariat Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan tanpa terkecuali.

Dimana Islam telah memberikan seperangkat aturan kehidupan yang meliputi:

1. Hubungan manusia dengan Tuhan

Melalui akidah dan ibadah

2. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri

Melalui hukum yang mengatur cara makan, minum, berpakaian dan akhlak.

3. Hubungan manusia dengan sesamanya

Melalui hukum tentang Idiologi, politik, budaya, hubungan sosial, ekonomi, pendidikan, sanksi, pemerintahan, dan lain-lain.

Nah agar segala hukum syariat ini dapat dijalankan oleh umat Islam, maka butuh sebuah lembaga/institusi yang menerapkannya. Mengapa? Karena tidak semua hukum-hukum syariat itu bisa dilaksanakan secara individual/pribadi tetapi harus kolektif bahkan bisa jadi harus negara yang melakukan.

Untuk aturan jenis pertama dan kedua Insyaallah gholabatud dzan, semua muslim bisa melakukan secara pribadi. Meskipun tidak dipungkiri masih banyak sekali umat Islam yang melanggarnya misal perintah salat, zakat, puasa, tidak minum khamr, berpakaian muslimah, dan lain-lain.

Namun untuk aturan jenis ketiga tentu tidak bisa dilakukan sendiri tetapi harus kolektif/negara. Misalnya dalam memberikan saksi kepada pencuri yang telah mencapai nishab kurang lebih 1/4 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram, jika harga emas @900rb, maka perhitungannya 1/4 x 4,25 x 900rb = Rp 956.250,-) maka wajib dipotong tangan jika mencurinya bukan karena lapar. Tentu tidak boleh dilakukan individu tapi harus level negara sebagai eksekutornya.

Atau kasus perzinaan yang marak terjadi, maka pelakunya di dalam Islam harus dirajam jika dia muslim dan telah menikah. Maka aturan ini harus level negara yang menerapkan.

Contoh lagi, menyelenggarakan pendidikan maka ini merupakan kewajiban negara dan hak warga negara, karena pendidikan termasuk kebutuhan pokok kolektif umat, dan lain-lain.

Dengan demikian akan banyak aturan Islam yang tidak akan mampu dijalankan oleh kaum muslimin. Karena tidak ada institusi yang menerapkan aturan syariat ini secara total. Padahal Allah sangat jelas memerintahkan untuk berislam kafah. Maka institusi penerap syariah harus diadakan sesuai dengan kaidah syara' yang berbunyi, "Tidak sempurna suatu kewajiban karena sesuatu, maka sesuatu itu wajib adanya. "Nah di dalam Islam institusi penerap syariah ini disebut khilafah.

Kaidah syara' ini biasa digunakan juga dalam masalah berwudhu. Hukum wudhu sebenarnya tidak wajib, namun ketika kita akan salat maka wajib suci dari hadats (wudhu). Maka dengan demikian keberadaan khilafah itu juga wajib sebagaimana hukum wudhu dalam salat. Khilafah yang akan menerapkan seluruh hukum syara' secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.

Ketika hukum syara' tegak maka tentu persoalan hidup umat akan bisa teratasi. Negara juga akan menerapkan sanksi tegas pada pelanggar syariat. Misalnya bagi yang tidak mau salat akan ditakzir oleh khalifah.

Jika melanggar hudud seperti membunuh maka akan diqishas. Sehingga orang akan berpikir ulang jika mau bermaksiat, karena adanya sanksi tegas dari negara.

Negara Khilafah tegak atas 3 pilar yaitu ketakwaan individu, kontrol sosial masyarakat dan aturan tegas dari negara. Sehingga negara akan menjamin 7 hal yaitu: 

1. Menjaga akidah

Melalui pendidikan Islam (pembinaan akidah), memberantas aliran sesat dan larangan murtad.

2. Menjaga negara

Melalui larangan makar/bughot terhadap negara.

3. Menjaga mabda'

Melalui dakwah dan jihad.

4. Menjaga harta

Melalui hukum potong tangan bagi pencuri.

5. Menjaga nyawa

Melalu hukum qishas bagi pembunuh, jika ahli waris memaafkan maka dengan membayar had. Membunuh 1 orang dewasa dendanya 100 ekor unta dimana 60 di antaranya harus dalam keadaan bunting.

Begitu juga ketika melukai anggota tubuh, maka dendanya disesuaikan dengan jumlah organnya misal melukai 1 mata maka dendanya 1/2 x had, jika 1 bibir dendanya 1/2 had, jika melukai hidung maka 1 had penuh dan seterusnya.

6. Menjaga nasab/keturunan

Melalui hukum rajam bagi Pezina Mukson (menikah) maupun jilid 100 kali dan diasingkan satu tahun bagi ghoiru Muhkson.

7. Menjaga kehormatan

Melalui larangan memfitnah dan menyebarkan isu yang kurang baik bagi individu tertentu.

Dengan aturan ini, maka orang berpikir ribuan kali untuk melakukan pelanggaran. Sehingga orang akan menjadi pribadi yang taat. Mungkin awalnya bagi individu tertentu dia terpaksa dalam ketaatan itu, namun jika ketaatan itu terus berulang-ulang maka hal itu akan menjadi suatu habit dan lama-lama menjadi karakter individu tersebut. Sehingga wajar ada ungkapan hidup di dalam khilafah itu akan ada orang yang masuk surganya dengan cara diseret. Karena awalnya terpaksa tapi lama-lama biasa dalam taat.

Sehingga jika sudah demikian, maka Islam Rahmatan Lil'Alamin itu akan terwujud dengan sendirinya. Rahmat itu berarti menambah kebaikan dan menolak mafsadat. Maka akan tercipta negara Khilafah Islamiyah yang Baldatun Thoyyibatun warobun Ghofur yang menjadi impian setiap orang.

Allahu a'lam bishshawab.

 
Top