By: Liza Khairina, Sumenep


Muharram tahun ini menjadi istimewa karena bersamaan dengan hari lahir Indonesia. momentum Agustusan. Negara dengan muslim terbesar di dunia, bersukacita mengenang peristiwa penting dalam mahakarya anak bangsa. Meski tidak seperti tahun-tahun sebelumnya disebabkan pandemi, teriakan MERDEKA di dunia maya masih membahana. Tak ketinggalan pula momentum Muharram yang lengket dengan peristiwa hijrah Rasul, menyumbul bernas pada banyak postingan saudara-saudara Muslim yang rindu kembalinya kemuliaan Islam dan kaum Muslimin.


Meski Muharram spesial terlewat sudah, namun persembahan cinta pada sejarah dan menyongsong masa depan Islam memimpin dunia! Tidak terbantahkan oleh siapapun yang membuka mata, melihat Indonesia sebagai bagian dari Nusantara. Islam dengan institusinya meninggalkan jejak di antara pesona sejarah singgasana raja-raja dan rakyat jelata. Pengakuan kebesaran Khilafah dari Maharaja Sriwijaya kepada bani Umayah melalui 2 pucuk suratnya (Fatimi, The Two Letters from The Maharaja To Khalifah), konten perundangan Islam di beberapa wilayah, bangunan, budaya, pakaian bercorak Islam dan banyak lagi yang lainnya adalah bukti bahwa Islam dengan sistemnya pernah meramaikan kekuasaan dan rakyat, sehingga Nusantara dalam rahmatNYA.


Muharram punya spirit hijrah dan rahmat. Hijrah dari keadaan gelap sebab tidak diterapkannya hukum Allah, menuju satu-satunya cahaya Islam yang memancarkan rahmat bagi seluruh alam, dengan membumikan Alquran pada setiap jengkal tanah hunian warga. Rahmat Allah benar-benar dirasakan oleh seluruh makhluk, Muslim dan non Muslim. tak terkecuali burung yang dijamin pakannya dan himar yang terpelihara kakinya dari terperosok ke lubang tempat dimana ia biasa melaluinya. Sungguh, dimanakah ada keadaan yang lebih baik daripada keadaan sistem Islam manakala memimpin?


Muharram menjadikan kita rindu pada masa dimana umat Islam dipersaudarakan oleh Aqidah. Benteng kekuatannya adalah Iman, penjaga kehormatannya adalah Khalifah, dan ilmu pengetahuan dihargai dengan emas dan permata. Sementara orang-orang miskin sibuk dengan ketakwaannya. Ilmuwan di bidangnya bermunculan seperti jamur di musim penghujan. Bahkan pernah sampai pada masa tidak ada satupun rakyat dalam negara Islam mau menerima zakat. Semua berlomba menjadi mulia dengan hanya menjadikan Islam sebagai aturan yang terus-menerus berbuah kebaikan. Begitulah para sejarawan yang adil menggambarkan indahnya hidup dalam sistem Islam.


Telah jamak di kalangan sejarawan dan ulama yang mengkaji sejarah Islam, bahwa akan ditemukan keterhubungan Nusantara dengan sumber kekuatan Islam di Timur Tengah yakni Khilafah. Baik pada masa otoritas Muawiyah , Bani Abbasiyah maupun Turki Usmani yang berakhir kekuasaannya pada tahun1924 Masehi. Islam sampai ke Nusantara, khususnya Indonesia adalah proyek negara Islam (Khilafah) yang mengemban dakwah Islam ke penjuru dunia. Indonesia dengan letaknya yang strategis dalam perdagangan dunia, menjadi kawasan sangat potensial bagi penyebaran dan perkembangan Islam mengingat interaksi dagang, sekaligus tempat transit para musafir dari Timur Tengah ke beberapa wilayah di Asia. Dan bukti jelas yang terekam oleh sejarah Nusantara adalah adanya para dai "Walisongo" yang diutus kekhilafahan ke Nusantara (kitab Kanzul 'Hum, Ibnu Bathuthah). Maka, sangat disayangkan jika ada sebagian umat Islam Indonesia belum melek sejarah keterhubungan Khilafah Islam dengan Nusantara. Bahkan bersikap pesimis dengan menyatakan: sistem Islam tidak layak tegak di Nusantara.


Karenanya, bermuharram tidaklah cukup menghikmatinya dengan doa, dzikir dan sedekah. Tapi  benar-benar menjadikannya tonggak penting untuk menumbuhkan ghirah berislam kita dengan ruh Islam kafah. Bersama-sama belajar pada sejarah bagaimana tersebarnya Islam di Nusantara. Jasa dakwah Khilafah Islamiyah yang pernah memimpin kurang lebih 13 abad lamanya adalah sejarah yang bisa dibaca rekam jejaknya.


Maka, harus menjadi perjuangan bersama mewujudkan persatuan dan kesatuan umat dalam satu kepemimpinan Islam dunia, sebagaimana dahulu. Melanjutkan karya para leluhur kita membangun Nusantara dengan menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan. Ambil posisi dalam barisan. Lantangkan suara perubahan untuk Indonesia lebih baik dan merdeka. Menyambut kabar gembira akan tegaknya Khilafah ala Minhajin Nubuwwah kedua

Allahu Akbar!

 
Top