Oleh : Novriyani, M.Pd.

(Praktisi Pendidikan)


Puska Gender Universitas Indonesia mendapat kritik dari berbagai akademisi terkait materi yang disampaikan ke mahasiswa baru saat Program Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2020. 

Pasalnya, materi tersebut memuat tentang sexual consent (persetujuan para pihak dalam melakukan aktivitas seksual).

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, Kamarudin. Dalam pernyataannya ia membenarkan bahwa ada materi mengenai sexual consent yang dimuat pada akun youtube resmi milik Direktorat Kemahasiswaan UI. Menurutnya pendekatan sexual consent dalam materi tentang kekerasan seksual itu kontroversial. Apalagi yang disampaikan berasal dari rancangan Undang-Undang yang belum resmi jadi Undang-Undang.

"Paradigma Sexual Consent adalah paradigma feminisme liberal Barat yang justru memberikan justifikasi untuk menerabas batas-batas norma kita sebagai bangsa yang menghormati norma agama dan budaya ketimuran," tegas Kamarudin. (medcom.id, 22/9/2020)

Pernyataan lain pun disampaikan oleh anggota DPR dari PKS, Al Muzammil Yusuf yang mengatakan bahwa materi ajar tersebut membawa budaya Barat berupa seks bebas. (TEMPO.CO 22/9/2020)

Jika diamati dalam materi tersebut dapat disimpulkan bahwasanya sexual consent adalah persetujuan yang diberikan secara sadar tanpa paksaan untuk melakukan aktivitas seksual tanpa peduli terikat dalam pernikahan ataupun tidak dengan rasa suka sama suka.

Materi sexual consent yang disampaikan bukan mengarah pada pencegahan seksual, namun malah justru membuat seks bebas akan semakin merajalela dan marak di kalangan generasi, karena mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Hal ini jugalah yang akan merusak moral, pergaulan dan masa depan generasi.

Kondisi ini terjadi karena penerapan pandangan orang-orang liberal Barat penganut kapitalis yang menyebarkan pemikiran-pemikiran yang mengundang hasrat seksual melalui penayangan film-film atau sinetron romantis, cerita, syair, buku-buku dan berbagai karya lainnya. Sehingga, pria dan wanita akan melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hasratnya meskipun dalam bentuk kekerasan sekalipun.

Dalam Islam hubungan pria dan wanita dipandang sebagai bentuk untuk melestarikan jenis manusia, bukan pandangan yang bersifat seksual semata. Islam melarang pria dan wanita berkhalwat (campur baur), wanita bertabarruj (dandan berlebihan), dan berhias di hadapan laki-laki asing (non-mahram). Selain itu, Islam juga melarang pria atau wanita memandang lawan jenisnya dengan pandangan birahi.

Islam membatasi hubungan seksual antara pria dan wanita hanya dalam dua keadaan yaitu pernikahan dan pemilikan hamba sahaya. Dalam hal ini, mereka tetap dibolehkan berinteraksi dalam aktivitas seperti perdagangan, pertanian, industri, dan lain-lain. 

Peran keluarga dalam mendidik generasi dengan syariat Islam sangat penting untuk mencegah terjadinya seks bebas, pemimpin (khalifah) juga akan mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menutup segala interaksi ataupun informasi yang mengarah pada fakta maupun pikiran-pikiran porno dan mengapresiasikan warganya berdasarkan kecerdasan dan keterampilan bukan dalam bentuk fisik. Inilah mekanisme dalam Islam untuk menyelesaikan kekerasan seksual.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top