Oleh : Siti Juni Mastiah, S.E.

(Anggota Penulis Muslimah Jambi dan Aktivis Dakwah)


Jambi merupakan daerah yang berada di tengah wilayah sumatera. Ada beberapa ikon di Jambi yang menjadi pusat pariwisata religi baik dari dalam maupun luar daerah. Salah satunya adalah masjid Agung Al Falah Jambi.

Masjid ini terkenal dengan arsitekturnya yang unik dengan memiliki bangunan tanpa dinding yang dirancang tanpa pintu dan jendela. Hal ini agar sesuai dengan nama yang disematkan pada masjid tersebut. Lokasi masjid ini terletak di tengah-tengah pusat keramaian kota.

Masjid Agung Al-Falah Jambi diberi gelar "Masjid Seribu Tiang" dikarenakan bangunannya ditopang dengan banyak tiang-tiang tanpa sekat dinding. Jika dihitung jumlah tiang yang ada sekitar 288 buah tiang. Keunikan susunan tiang yang menjadi sorotannya ini dibangun seperti Masjid Agung yang berada di wilayah Eropa Timur yang masuk dalam kawasan kekhilafahan Islam.

Masjid Agung Al-Falah Jambi mempunyai makna yang menginginkan kemenangan dan kebebasan dari kungkungan para penjajah, agar bebas dalam menjalankan ibadah secara totalitas kepada syariat Allah. Ini terbukti dari struktur interior bangunan yang tak ada sekat, luas, dan lepas memandang.

Makna sejarah yang terpenting adalah Masjid Agung ini sebelum tahun 1855 dijadikan lokasi pusat pemerintahan Kerajaan Melayu Jambi. Masjid yang dibangun tak jauh dari lokasi pembangunan Museum Perjuangan Rakyat Jambi di Jalan Sultan Thaha, Legok, Telanaipura Kota Jambi ini merupakan salah satu bukti bahwa peradaban 'Khilafah Islam' pernah masuk wilayah Jambi.

Bukti tersebut adalah keterkaitan antara pusat pemerintahan masa Sultan Thaha' di lokasi bangunan Masjid Agung Al-Falah dengan Museum Perjuangan Rakyat Jambi sebagai salah satu tempat penyimpanan medali penghargaan yang diberikan oleh khalifah masa Turki Utsmani. 

Diabadikannya nama Sultan Thaha' dan nama-nama para "wali songo" sebagai nama jalan yang disematkan di beberapa lokasi wilayah Jambi termasuk nama jalan lokasi "Masjid Agung Al-Falah Jambi". Hal itu menunjukkan bahwa "jejak khilafah" ada di bumi Nusantara Jambi. Jalan yang terkenal selain Jalan Sultan Thaha' adalah Jalan Sunan Kalijaga, Jalan Sunan Bonang, dan Jalan Sunan Giri.

Selain itu, yang menjadikan perasaan Islam melekat di tanah "pusako betuah" Jambi ini adalah kebiasaan petuah dari penghulu awal yang mendakwahkan Islam ke Jambi. Petuah itu yang alhamdulillah masih sering dipakai kebanyakan warga Jambi, yakni petuah "adat bersendi syara', syara' bersendi kitabullah."

Adapun arti dari petuah tersebut adalah bahwa kebiasaan atau adat istiadat yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat harus sesuai dengan syariat Islam yang berasal dari kitabullah.

Inilah yang menjadi bukti hingga saat ini warga Jambi kental dengan aroma islami. Hanya saja saat mulai masuk budaya Barat dan tren-tren kaum kafir, kekentalan islami itu menjadi pudar. Sehingga yang benar-benar memegang petuah tersebut adalah para ulama dan keturunannya yang masih lurus dan hanif, serta para pejuang syariah dan khilafah yang berpegang teguh pada syariat Allah Swt.

Selain dari keunikan ikon religi yang ada di wilayah Jambi. Sebenarnya masyarakat Jambi memiliki amanah yang besar untuk kembali membangun peradaban Islam yang pernah ada saat di bawah kepemimpinan para sulthan yang berhubungan erat pada masa Kekhilafahan Turki Utsmani.

Sejarah peradaban Islam yang melekat di wilayah Jambi tidak hanya pada Masjid Agung Al Falah saja. Akan tetapi banyak bangunan-bangunan bersejarah jika kita telusuri yang berkaitan erat dengan masa pemerintahan Islam yang sudah lama menaungi wilayah Jambi dan sekitarnya termasuk negeri Indonesia secara keseluruhan.

Maka dari hal tersebut, sejarah telah membuktikan bahwa para wali songo atau istilah sebenarnya adalah sembilan utusan para ulama yang dikirim untuk menyebarkan syiar-syiar Islam di bumi Nusantara wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke, semua sudah dijajaki oleh para wali utusan khalifah masa Turki Utsmani termasuk di wilayah Jambi yang dulunya dikenal sebagai daerah Sumatera Bagian Selatan.

Kini saatnya umat menyadari betapa pentingnya memperjuangkan kembali tegaknya Islam di muka bumi ini. Di bawah naungan Khilafah Islamiyah kita akan merasakan persatuan akidah yang kuat, tidak hanya dalam lingkup wilayah Nusantara, akan tetapi lingkup dunia secara keseluruhan, insyaallah.

Semoga kita termasuk pada bagian yang menjemput kemenangan akan tegaknya kembali Islam di muka bumi ini. Sebagaimana kabar gembira yang disampaikan Baginda Rasulullah saw., yang artinya "....kemudian akan kembali khilafah di atas manhaj kenabian." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top