Oleh : Mulyaningsih

(Pemerhati Masalah Anak, Remaja, dan Keluarga)


“Dan hendaklah takut kepada Allah Swt. orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. an-Nisa : 9)

Dari ayat di atas, tergambar jelas bagi kita akan kewajiban orangtua untuk mendidik anak-anak mereka. Ditambah lagi dengan menanamkan akidah yang kuat pada diri anak hingga menghujam pada dada-dada mereka. Semua itu dilakukan agar anak mengetahui serta paham apa sebenarnya hakikat dari seorang hamba kepada Rabb-nya. Tentulah dengan pembahasaan gaya mereka. Ini amat penting karena lewat orangtua, penanaman akidah benar-benar harus dimulai sejak dini dan peran ibu amatlah penting.

Baru-baru ini kembali lagi, kontroversi terjadi di tengah-tengah umat. Media asal Jerman Deutch Welle (DW) yang berada di Indonesia telah mengusik sisi pengajaran akidah pada keluarga muslim. Dalam video tersebut DW Indonesia mewawancarai keluarga muslim yang mengajarkan anaknya memakai hijab sejak kecil. Selanjutnya mewawancarai psikolog (Rahajeng Ika) terkait dengan dampak negatif pemakaian hijab sejak kecil?

"Biasanya anak-anak itu belum mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut. Jadi, resikonya adalah mereka menggunakan atau memakai sesuatu, tapi belum paham betul dari pemakaiannya itu, sehingga yang dikhawatirkan pada umur-umur SMP, SMA. Itu juga kan masa pakai konsep diri. Jadi siapa identitasnya itu lagi dibentuk; dia siapa, dia yang sedang memakaikan, dia yang berhijab, dia yang segala macam, dia yang pakai pakaian tertutup, dia muslim. Dia di kemudian hari bergaul dengan teman-teman yang kemudian punya pandangan agak berbeda, boleh jadi dia akan mengalami kebingungan. Apakah dengan pakaian seperti itu dia punya batasan tertentu untuk bergaul?" (dekannews.com, 26/09/2020)

DW Indonesia juga mewawancarai feminis muslim (Darol Mahmada) tentang dampak sosial bagi anak yang diharuskan memakai hijab sejak kecil. "Wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak-anaknya memakai hijab sejak kecil. Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain,” kata Darol Mahmada. (pikiranrakyat.com, 26/09/2020)

Tentunya gambaran fakta di atas menimbulkan kontroversi di masyarakat. Hujatan dan 'cemoohan' tentunya terlontar karena memang ini adalah bagian dari sisi fundamental alias mendasar. Tentunya jika menyangkut masalah fundamental maka pasti menimbulkan polemik. Seharusnya mereka melakukan wawancara secara objektif. Misalnya saja wawancara juga kepada para ulama atau muballigoh agar menjadi berimbang dan akurat.

Melihat fenomena tersebut, lantas apakah pembiasaan berhijab sejak dini adalah sebuah bentuk pemaksaan? Lalu mengapa hujatan terhadap ajaran Islam terus diaruskan? Bagaimana peran negara dalam menghalau narasi negatif dari para pencela agama?

Pemaksaan vs Pembiasaan

Narasi negatif yang dilontarkan oleh kaum liberal sungguh di luar nalar. Perkara kata pemaksaan dan pembiasaan tentulah akan berbeda makna. Sebelum baligh, tentunya anak-anak belum terkena beban hukum Islam. Hal tersebut bermakna anak-anak belum secara pasti alias wajib untuk menutup auratnya. jikalau suatu saat si anak yang awalnya memakai kerudung kemudian tiba-tiba melepaskannya karena merasa gerah, maka hal tersebut diperbolehkan alias tak dilarang. Hal tersebut akhirnya dinamakan pembiasaan, bukan paksaan. Narasi paksaan itu jika orangtua kemudian menyuruh kepada anak yang belum baligh tersebut untuk memakai hijab tanpa melihat situasi dan kondisi. Hal tersebut akhirnya bisa dikatakan sebagai narasi pemaksaan. Tentunya orangtua harus mengerti serta paham benar karakter anaknya. Pembelajaran menutup aurat ini teramat penting apalagi jika anaknya adalah perempuan. Perlahan tapi pasti, itulah gambaran nyata ketika memahamkan masalah aurat kepada anak.

Selain bukanlah paksaan, pembiasaan dan pemahaman yang diberikan sejak dini adalah bagian dari tanggung jawab orangtua. Semua itu dilakukan karena kelak di Yaumul Hisab, akan dimintai pertanggungjawaban atas semua anak-anak kita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya: Seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya.” (HR al-Bukhâri)

Sistem ini Sumbernya

Semua itu akan sangat wajar dilakukan manakala sistem yang menaunginya adalah sekuler yang berkawan akrab dengan liberalisme. Pemahaman itu yang diduga kuat akhirnya mampu menghembuskan nuansa-nuansa pemantik negatif terhadap Islam, ajaran, dan pada pemeluknya. Sungguh, saya sebagai ibu merasa marah dan kesal terhadap pernyataan dan wawancara itu. Karena sejatinya orangtua inilah yang kemudian menjadi pondasi pertama pembentukan akidah si anak. Tentunya penanaman akidah ini harus dimulai sejak dini agar pemahaman itu melekat erat dalam diri si anak. Tentunya agar kata salehah atau saleh tertanam kuat pada anak. 

Menambah sajian fakta, bahwa sistem ini dinilai sengaja untuk memberikan stigma-stjgma negatif. Framing negatif tentunya mereka berikan terhadap Islam dan kaum muslim hingga benar-benar menjauhi agamanya. Tentulah itu yang menjadi target utama mereka. 

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. al-Baqarah : 120)

Hembusan islamofobia terus dilakukan kepada kaum muslim dari segala arah. Apa yang dilakukan DW salah satu serangan media sekuler. Tentunya mereka berupaya dengan sekuat tenaga untuk melontarkan opini di tengah umat bahwa Islam kafah adalah agama yang ada kesan jelek, negatif, buruk rupa dan berbagai narasi lainnya. Senada juga yang dilakukan oleh para feminis liberal yang selalu menanamkan kepada umat menutup aurat sejak dini dinilai sebagai bentuk pemaksaan terhadap anak yang akan menimbulkan berbeda dengan yang lain serta berpengaruh pada muatan emosional dan psikologinya.

Islamofobia terlihat jelas makin menjangkiti pemerintah saat ini. Pun semakin jelas menjangkiti pemerintah negeri ini. Hal tersebut tampak dalam lontaran propaganda-propaganda yang sengaja dilempar ke tengah umat. Islam sebagai agama intoleran serta radikalisme yang terus disandingkan dengan Islam. Hal tersebut dijadikan alat yang berguna untuk membangun pandangan bahwa Islam kafah itu adalah musuh bersama. Harusnya yang terjadi adalah negeri dengan mayoritas muslim ini mampu menjaga serta mengayomi Islam dan para pemeluknya. Namun kenyataan ternyata jauh panggang dari api. 

Konsep Lahir dari Barat

Kebebasan yang erat hubungannya dengan liberalisme nyata melahirkan sesuatu yang di luar nalar manusia. Pola pikir yang serba bebas ini tentunya terlahir dari rahim peradaban Barat. Akan sangat berpengaruh pada dunia pendidikan, termasuk pada pola mendidik anak. Jika kita lihat dan saksikan pendidikan ala Barat tidak boleh sampai mengganggu pada ranah kebebasan si anak. Yang tergambar adalah sisi bertingkah laku dan tak boleh mengatakan 'jangan atau tidak' pada apa yang dilakukan anak. Mereka menganggap bahwa dengan kata-kata tersebut akan menghambat laju kreativitas si anak.

Kita bisa melihat bahwa dengan membolehkan seluruh yang dilakukan anak, maka menimbulkan kata 'nihil' pada aturan Sang Pencipta. Selalu menomorsatukan kebebasan secara mutlak. Hal tersebut amatlah bertentangan dengan apa yang ada dalam Islam. Konsep pendidikan pada anak dalam Islam sangatlah gamblang dan jelas. Jikalau anak melakukan sesuatu yang akan mencelakakan atau melakukan perbuatan yang melanggar syariat, maka orangtua berkewajiban untuk menjelaskan serta melarangnya. Sebagaimana yang ada dalam Al-Qur'an.

“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (TQS. Luqman : 13)

Islam selalu mengajarkan umatnya senantiasa taat pada seluruh aturan agamanya. Sebagai muslim, maka aturan-aturan yang ada lantas tak disebut sebagai pemaksaan, dan pengekangan. Aturan tersebut adalah rasa sayang Allah Swt. Jika kita melakukan aturan-aturan tadi maka kehidupan kita tetap berada 'on the track' dan nantinya akan selamat dunia akhirat serta ada sisi pahala di sana. 

Jadi, penulis mengajak kepada semua pembaca agar melaksanakan dengan ikhlas aturan-aturan tadi. Karena dengan begitu insyaallah jannah sebagai tujuan akhir kita bisa diraih. Tentunya perlu mengambil Islam secara sempurna dan menyeluruh. Semua itu hanya bisa terlaksana manakala sistem yang ada diubah kepada Islam. Dalam wujud dua perisai umat, yang akan melindungi, menjaga, dan mengayomi seluruh kaum muslim. Dua perisai itu adalah institusi khilafah yang dengannya Islam bisa diterapkan secara sempurna dan menyeluruh. Kemudian khalifah sebagai pemimpin kaum muslim yang dengan ikhlas mau menerapkan hukum syara. Semoga segera terwujud. Wallahu a'lam.[ ]

 
Top