Oleh : Hanin Syahidah


Korean waves menjamur, anak-anak remaja millenial demam hallyu. Tak kalah ibu-ibu juga ikutan, alasannya mengisi waktu selama di rumah saja tersebab pandemi. Kenapa mereka tidak memilih sinetron Indonesia? Bedanya drama Korea hanya disajikan dalam durasi episode yang pendek, tidak seperti sinetron Indonesia yang stripping dengan ribuan episode yang cenderung monoton. Seorang pengamat film Yan Wijaya menyimpulkan bahwa drama Korea memiliki skenario apik, emosional, dan pemeran dengan akting yang sangat baik.

"Kalau sejujurnya, kita ketinggalan dengan aktingnya. Sebab, aktris dan aktor Indonesia akan habis energi jika dipaksa bermain striping, mana bisa dia memperbaiki aktingnya," katanya lagi. (Kompas.com, 30/5). Simak saja Drakor yang populer  di kalangan ibu-ibu dan sempat tayang di stasiun TV swasta yang berjudul "World of married, "Crash landing on you", cukup mengaduk-aduk emosi. Bahkan tak jarang K-Drama lovers ini menanti-nanti jam tayangnya di setiap harinya. Mereka siap mencari streamingnya di beberapa aplikasi situs streaming film yang gampang didownload di play store, sangat mudah dan murah hanya bermodal kuota android, laptop, PC.


Belum lagi demam K-Pop ala anak-anak muda. Simak saja Boyband BTS, Girlband Black Pink yang menghebohkan dunia K-popers sampai-sampai saking mengidolakannya mereka biasanya menggunakan akunnya untuk berselancar ke dunia maya untuk mencari tahu kegiatan sehari-hari sang idola. Bisa berupa foto, video, apa yang mereka suka, atau tidak suka. Bahkan ada yang sampai menfantasikan dan mengikuti gaya hidup baik dari style maupun perilaku sehari-hari. Tak jarang mereka harus menghabiskan uang ratusan ribu bahkan jutaan demi meniru idolanya.


Dari boomingnya Korean waves itu barangkali Bapak Wakil Presiden kita K.H. Ma'roef Amin menyampaikan "Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreatifitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri," ujar Ma'ruf saat memberi sambutan secara virtual pada peringatan 100 Tahun Kedatangan Warga Korea di Indonesia. (Republika.co.id, 20/9).


Kalau kita simak dari pernyataan di atas, kita menangkap logika yang disampaikan cukup mengundang kekritisan kita. Logikanya kalau seseorang itu suka dan mengidolakan pada sesuatu pasti dia cenderung akan meniru semua hal yang dia idolakan. Jadi justru kita yang dipengaruhi bukan kita yang memengaruhi mereka. Misalnya banyak ibu-ibu, remaja kita yang demam korea saling memanggil sesamanya dengan sebutan ala Korea "oppa", "ajussi", "omma" atau kata-kata "Daebak",  "Annyeong haseyo", "Kamsahamnida" dan lain-lain, yang justru itu semakin menjadikan generasi negeri ini meniru mereka. Bahkan bahasa dan makanan Korea menjadi favorit setelah Mandarin disusul oleh Jepang. 


Contoh makanan yang digandrungi K-Popers, K-Drama lovers antara lain: Ramyeon (Ramen versi Korea), teokbokki, Bulgogi, dst. Jadi, statement yang disampaikan wapres tadi justru jadi logika terbalik, tidak sesuai fakta. Sudahlah mereka tidak tahu apa yang menjadi budaya negeri ini. Gempuran Korean waves pun justru kian memperkeruh kondisi yang akhirnya ditiru oleh generasi muda tanpa filter. Mulai dari cara berpakaian perempuan yang cenderung terbuka, goyangan erotis, yang laki-laki tampilannya metroseksual, crossdresser, yang akhirnya tidak jelas jati dirinya. Intinya budaya kebebasan berperilaku dan berekspresilah yang diagungkan. Simak saja bagaimana pidato BTS di sidang umum PBB ke-75 bertajuk "Love yourself." (Kompas.com 23/9).


Berkaca dari kondisi di atas maka sebagai seorang muslim, fenomena Korean Waves ini harus dilihat secara jernih. Bukan latah mengikutinya hanya karena tren anak muda. Maka ada pilar yang harus diperhatikan dalam menghadapi gempuran budaya asing dalam masyarakat kita.


Pertama, Memperkuat Keimanan di Tengah Gempuran Korean Waves

Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk membendung Korean waves. Pertama, perkuat ketakwaan individu anak muda muslim. Bentengi mereka dengan keimanan yang kokoh dan mengakar, sehingga bisa menjadi filter setiap budaya  luar yang masuk. Karena faktanya, kondisi generasi muslim saat ini, sebagian besar keimanannya masih sangat rendah. Apatah lagi digempur dengan racun budaya luar, maka semakin tergeruslah keimanannya. Peran peningkatan ketakwaan individu ini bisa didapatkan dari keluarga, dan tokoh agama.


Bagaimana penguatan itu terjadi? Yakni dengan memahami betul siapa idola yang seharusnya ia teladani.


لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-ahzab:21). 


Rasulullah adalah teladan yang paripurna, untuk anak muda yang visi misi hidupnya berdimensi akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 


أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari)


Alhasil, jika ingin hidup di dunia berkah dan di akhirat masuk surga bersama Rasulullah, maka idolakanlah Beliau. Tiru dan ikuti semua yang Beliau ajarkan. Kedua, perketat kontrol masyarakat dan lingkungan. Lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku generasi muda. Jika lingkungannya baik, maka akan memudahkan anak-anak muda ini ada dalam rel yang benar. Karenanya perbanyak majelis-majelis taklim untuk pemuda, dan difasilitasi di masyarakat. Bukan malah distigmatisasi sebagai jalan munculnya radikalisme atau terorisme. 


Ketiga, kebijakan negara. Selain membuat aturan yang tegas dan jelas untuk memfilter gempuran arus budaya luar, negara juga  berpikir mempersiapkan generasi muda sebagai sosok kuat dan tangguh. Siap memegang estafet masa depan bangsa, karena mereka adalah agen penerus bangsa. Berilah tayangan-tayangan yang mendidik, yang mengasah kecerdasan. Serta membentuk mereka menjadi generasi yang visioner yang akan memegang peradaban di masa depan.


Simak saja bagaimana Islam pernah mengukir sejarah dunia dengan gemilang. Selama 13 abad menguasai 2/3 dunia, melahirkan para cendekiawan dan ilmuwan terkenal di masanya. Bahkan mereka peletak dasar ilmu pengetahuan di dunia. Sebutlah Ibnu Sina (tokoh kedokteran Islam), Al-khawarizmi (penemu angka nol), Al-Ghazali dan Al-Farabi (2 tokoh Filsuf muslim). 


Fakta tersebut seharusnya jadi lecutan yang kuat bagi umat Islam untuk menjadikan Islam di negeri ini sebagai mercusuar dunia yang memberi rahmat bagi seluruh alam. Maka sungguh ketika umat Islam berpegang kepada agamanya dia akan semakin kuat pengaruhnya. Namun, ketika umat Islam lemah atau mungkin dilemahkan dengan kebijakan regulasi yang kurang mendukung maka generasi yang dihasilkan juga akan lemah dan menjadi generasi pengekor budaya asing. Maka kebijakan negara yang mayoritas muslim dan dipimpin oleh pemimpin yang muslim harusnya bersinergi untuk kuat dan berpengaruh dengan identitas keislamannya bukan malah ragu dan merasa inferior.


Aneh memang. Fakta di depan mata kita, sekarang anak-anak muda yang rajin ke masjid bahkan hafiz Quran dan pintar bahasa Arab malah dicurigai sebagai pintu radikalisme. Sementara hedonisnya artis Korea malah diapresiasi. Bahkan dijadikan inspirasi. Lantas, sebenarnya mau dibawa kemana negeri ini? Kehancuran atau kemajuan? []

Wallaahu a'lam bi ash-shawaab.

 
Top