Oleh : Maryatiningsih

(Ibu Rumah Tangga) 


Allah memerintahkan kepada setiap umat manusia untuk taat kepada-Nya. Yakni, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Tidak heran jika banyak masyarakat lebih memilih anak-anaknya disekolahkan di sekolah yang lebih dominan banyak keagamaannya dibandingkan dengan bersekolah di sekolah umum. Atau lebih tepatnya masuk ke pesantren- pesantren. Dengan harapan, anak-anak lebih terdidik dengan pendidikan agama. 

Dalam Islam pendidikan di rumah adalah madrasah ula, maka jika anak usia dini sudah memakai jilbab atau menutup aurat dengan benar itu adalah suatu pendidikan yang wajib untuk disampaikan dan bersegera untuk menerapkannya. Walaupun, ada batas tertentu bagi seorang wanita untuk memakai jilbab,yaitu ketika sudah baligh tetapi justru itu memudahkan anak-anak mereka untuk terbiasa dan memahami bahwa menggunakan jilbab itu wajib ketika sudah baligh. Akan tetapi, ketika anak sedari kecil sudah mampu menggunakan jilbab bahkan istiqomah itu bukan hal yang negatif tetapi keberhasilan pendidikan dalam ketaatan kepada Sang Khaliq dan bukan untuk dipersoalkan. 

Seperti yang dilansir oleh JURNALGAYA - Media asal Jerman Deutch Welle (DW) dihujat sejumlah tokoh dan netizen karena membuat konten video yang mengulas tentang sisi negatif anak memakai jilbab sejak kecil. Dalam video itu, DW Indonesia mewawancarai perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak kecil.

DW Indonesia juga mewawancarai psikolog Rahajeng Ika. Ia menanyakan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab. Perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak masih kecil. “Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” kata Rahaeng Ika menjawab pertanyaan DW Indonesia.

“Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul,” tambahnya.

DW Indonesia juga mewawancarai feminis muslim, Darol Mahmada tentang dampak sosial anak yang diharuskan memakai hijab sejak kecil. Menurut Darol Mahmada, wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai hijab sejak kecil. “Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk “berbeda” dengan yang lain,” kata Darol Mahmada.

Sebagai manusia yang dineri kelebihan oleh Allah Swt. yaitu akal untuk berpikir, maka pernyataan menyoal masalah hijab atau jilbab ini perlu dikritisi dari berbagai sudut pandangan. Jika seorang muslim yang paham akan syariat Islam, maka mereka akan bangga dan bahkan mendukungnya. Tetapi pernyataan tersebut adalah pernyataan yang jelas diarahkan kepada ajaran Islam, supaya umat menjadi terusik keimanan mereka. Dan merusak agama Islam dengan menggaungkan Islamofobia. 

Kekhawatiran mereka dengan penerapan syariat Islam sedari dini tidak terbukti sama sekali, tetapi sebaliknya justru mereka tercetak menjadi anak yang salehah. 

Lalu, bagaimana dengan mereka yang liberal atau bebas? Apakah mereka menjadi lebih baik? Justru angka kriminalitas dan pelecehan seksual semakin meningkat, dan mengakibatkan meningkatnya aborsi lebih tinggi. Itu semua buah dari sistem liberal saat ini. 

Serangan kaum liberal begitu masif dan sistematis. Maka untuk meniadakan serangan tersebut diperlukan sistem yang mampu untuk mencegah serta memberikan efek jera terhadap para pelakunya. Khilafah yang menerapkan syariat Islam secara sempurna, akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, khilafah akan menanamkan keimanan dan ketakwaan terhadap seluruh anggota masyarakat, agar menjauhi paham-paham maupun perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam, misalnya sekularisme, liberalisme dan lain-lain. Dengan begitu masyarakat akan punya kendali internal yang akan mampu memfilter informasi, pemikiran dan perilaku yang merusak.

Kedua, khilafah akan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam.

Ketiga, khilafah akan mengawasi dan memfilter media-media yang ada ditengah-tengah masyarakat.

Keempat, khilafah akan menerapkan sistem sanksi (uqubat) yang mampu mencegah dan memberikan efek jera kepada pelaku yang melakukan serangan-serangan terhadap ajaran Islam.

Dengan adanya khilafah yang menjalankan tugasnya sebagai pemelihara agama dan urusan kehidupan, maka masyarakat akan benar-benar terlindungi dan terayomi dari segala macam ancaman. Hal ini sesuai dengan sabda Baginda Nabi saw., "Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah Swt. dan berlaku adil, baginya terdapat pahala jika ia memerintahkan dengan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya." (HR. Bukhari, Muslim, Annasai dan Ahmad) 

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top