Oleh : Lafifah

(Ibu Rumah Tangga dan Pembelajar Islam Kaffah)

 

"Bagaikan anak ayam kehilangan induknya", para petinggi negeri ini lirik sana lirik sini tanpa pegangan, tidak percaya diri. Seperti tidak ada roll model dari anak bangsa ini yang bisa dijadikan panutan kebanggaan bangsa. Belum hilang dari ingatan akan kontra versi pernyataan Ma'aruf Amin Wakil Presiden RI yang berharap bahwa anak bangsa ini bisa mencontoh kreatifitas K-Pop.

Dan baru-baru ini Menko Luhut Binsar Panjaitan melakukan kunjungannya ke Tiongkok Cina, untuk tujuan kerjasamanya antara Indonesia-Cina. Dilansir Xinhua News, Sabtu (10/10/2020) yang dikutip Kompas.Com. Menko Luhut merupakan utusan khusus Presiden Indonesia Jokowi Dodo sekaligus berperan sebagai koordinator kerjasama Indonesia dangan Cina.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjawab pihak-pihak yang nyinyir soal hubungan Indonesia dengan Cina. Luhut menjelaskan beberapa alasan Indonesia butuh Cina. Apa saja?

Pertama, 18% pergerakan ekonomi dunia dikontrol Cina.

"Dampak Covid-19 ini ada dampak di Tiongkok, kita nyinyir lihat Tiongkok. Tiongkok itu 18% mengontrol ekonomi dunia. Kita suka tidak suka saya harus sampaikan, kita nggak bisa ignore keberadaan dia. Nah ini punya dampak. Apalagi jarak kita dekat dengan dia," terang Luhut dalam rapat bersama Banggar DPR RI, Senayan, Senin (22/6/2020).

Kedua, selain Amerika Serikat (AS), Cina juga memiliki pengaruh kuat terhadap pergerakan ekonomi dunia.

"Supaya anak muda tahu nih ekonomi Tiongkok ini hampir 18% pengaruhnya ke ekonomi global, kalau Amerika Serikat 25%. Maka Anda suka tidak suka, senang tidak senang, mau bilang apapun, Tiongkok ini kekuatan dunia yang tak bisa diabaikan," jelas Luhut dalam sebuah diskusi via Zoom, Jumat (5/6/2020).

Ketiga, Indonesia menganut sistem bebas aktif.

"Kita nggak boleh berpikir sempit, karena dalam UUD 1945 pun kita bebas aktif. Maka kita harus bisa berhubungan sama semua negara di dunia untuk buat negara kita kuat," jelas Luhut.

"Nggak ada alasan buat permusuhan," sambung Luhut.

Mungkinkah tidak ada udang di balik batu tentang kerjasama ini.

Di era sistem kapitalisme yang mengedepankan materi, tidak akan ada hubungan kerjasama yang sifatnya hanya sosial kemanusiaan, yang terjadi setiap kerjasama ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari kerjasama tersebut. Dari kerjasama tersebut jelas Indonesia akan dirugikan dan menguntungkan pihak Cina itu sendiri.

Seperti yang disebutkan oleh Luhut Binsar Panjaitan tentang tiga keuntungan kerjasama dengan Cina, jelas Cina justru cenderung akan mengontrol gerak perekonomian Indonesia, yang sebelumnya juga Indonesia melakukan kerjasama dengan Cina dalam bidang infrastruktur, seperti kereta cepat yang pendanaannya berasal dari Cina, bahkan sebagian besar pekerjanya berasal dari Cina. Yang akan  semakin menguatkan hegemoninya terhadap Indonesia.

Intervensi asing semakin terpampang nyata, di tengah kelabilan negara menghadapi pandemi Covid-19 dan bertumpuknya masalah di tengah-tengah masyarakat dalam berbagai aspek. Tentu masyarakat tidak siap dengan kerjasama ini.

Pada dasarnya Indonesia bisa bangkit tanpa campur tangan asing, negeri ini kaya akan sumber daya manusia, kaya dengan sumber daya alamnya. Walaupun saat ini banyak yang sudah beralih menjadi kepemilikan asing. Semua tergantung dari kepengurusan negeri ini, selama masih terus diterapkan sistem kapitalisme yang lahir bukan dari Sang Maha Pencipta tapi sistem aturan yang berasal dari akal manusia yang bersifat terbatas dan cenderung terjadinya perselisihan dan pertentangan yang berujung pada kesengsaraan umat.

Bagaiman Islam mengatur hubungan dengan negara lain?

Dalam Islam wilayah negara terbagi menjadi dua:

1. Negara Islam. Yang seluruh aturan yang diterapkannya bersumber dari Al-Qur'an dan As-sunnah.

2. Negara kufur. Aturan yang di gunakannya bukan berasal dari Al-Qur’an dan As-sunnah.

Islam tidak melarang kaum muslim  untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam perkara-perkara mubah. Seperti jual beli, kerjasama bisnis yang tidak merugikan kaum muslimin.

Larangan berinteraksi dengan negara lain terbatas pada perkara syariat,  seperti  ketergantungan  akan hutang yang berbunga, dan dalam sejarahnya negara Islam tidak pernah berhutang pada negara lain, sejarah mencatat negara Islam di sepanjang sejarahnya adalah negara yang sejahtera, semua kekayaan alam dikelola oleh negara untuk kesejahteraan seluruh warga negaranya. Tidak menjamin keamanan negara pada negara lain, tidak menjual aset milik negara, yang semuanya masuk pada keamanan dalam negeri dan intervensi asing.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu, sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan  kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.” (QS. Ali-Imran [3] :  18)

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top