Oleh : Rohmah SE.Sy


Lagi panas dan hangatnya baru satu hari kabar buruk datang dari penguasa atau dari DPR ( Dewan Perwakilan Rakyat). Yang nyatanya tidak mewakili rakyat malah rakyat menjadi sengsara. Segala sesuatu untuk rakyat, yang berkorban untuk rakyat dan pastinya membela rakyat. Tapi apakah sesuai dengan kenyataan? 

Kenyataannya sama sekali tidak berpihak pada rakyat. Sekarang di media sosial para netizen heboh, sedih, gundah campur aduk dibuat ulah oleh para penguasa. 

Kenapa tidak, ketika rakyatnya tertindas adakah mereka di garda terdepan? Adakah mereka sebagai tameng pembela rakyatnya? Seharusnya sebagai wakil rakyat sepenuhnya berpihak dengan rakyat siap siaga di kala rakyatnya dizalimi, tapi tidak. 

Tepat pada malam hari tanggal 5 Oktober 2020, di gedung DPR mengesahkan Undang-Undang Omnibus Law yang isinya kontra, sama sekali tidak mengguntungkan justru malah menyengsarakan rakyat. Apa yang membuat DPR tergesa-gesa mengesahkan undang-undang tersebut.

Mereka tidak lagi mewakili kepentingan rakyat. Mereka sejatinya bukan kepanjangan tangan rakyat. Lebih tepatnya wakil dan perpanjangan tangan kaum kapitalis.

Mereka bukan hanya merampas hak rakyat, tapi merampas masa depan anak cucu negeri ini. Karena produk legislasi yang mereka buat bukan hanya menyengsarakan rakyat saat ini, tetapi juga masa depan rakyat sesudahnya.

DPR memeras keringat rakyat, merampas hak rakyat, dan mempersembahkan seluruh keringat,  darah dan air mata rakyat untuk pesta pora kaum kapitalis. Itulah bahayanya kapitalis liberalis.

Mereka berdalih investasi, penjajahan rakyat akan diintensifkan, demi memenuhi kerakusan kaum pemodal negeri ini. Dibuat sumber bahan baku, pusat produksi, dan pasar bagi produk kapitalis. Semua keuntungan digondol asing, sementara rakyat hanya kebagian ampas, kerusakan alam, eksploitasi tenaga kerja, dan rasa geram menjadi babu di negeri sendiri.

Memarginalkan buruh, pada peran 'jongos' dan hubungan penindasan. Hubungan industrial tak lagi dibangun atas asas kemitraan, melainkan di atas asas eksploitasi. Memaksa buruh untuk tetap berada di pabrik dengan asap dan bisingnya mesin produksi. Mengabaikan hak kemanusiaan buruh. Buruh tak diperlukan sebagai manusia yang memiliki rasa, cipta, dan karsa. Namun buruh tak lebih sekadar alat produksi, hanya mesin.

Islam memiliki solusi yang tuntas dan universal untuk manusia. Mari kita ambil pelajaran dari kisah fir'aun.

Perhatikan baik-baik, ketika Allah berfirman: "Najjainakum" dengan, "Fa Anjainakum" (Kami selamatkan kalian) pada konteks yang berbeda.

Pertama, Allah Swt. gunakan, "Najjainakum" (Kami selamatkan kalian) dari kezaliman dan kekejaman Fir'aun dan pasukannya.

وَإِذۡ نَجَّیۡنَـٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ یَسُومُونَكُمۡ سُوۤءَ ٱلۡعَذَابِ یُذَبِّحُونَ أَبۡنَاۤءَكُمۡ وَیَسۡتَحۡیُونَ نِسَاۤءَكُمۡۚ وَفِی ذَ ٰ⁠لِكُم بَلَاۤءࣱ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِیمࣱ

"Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu." (QS. al-Baqarah : 49)

Kedua, Allah gunakan, "Fa Anjainakum" (Kami selamatkan kalian).

وَإِذۡ فَرَقۡنَا بِكُمُ ٱلۡبَحۡرَ فَأَنجَیۡنَـٰكُمۡ وَأَغۡرَقۡنَاۤ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ وَأَنتُمۡ تَنظُرُونَ

"Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedang kamu menyaksikan." (QS. al-Baqarah : 50)

Apa bedanya? Perhatikan, Allah menggunakan bentuk kata kerja, dengan wazan Fa'ala-Yufa'ilu, Najjaina, karena waktunya panjang dan lama. Bertahun-tahun.

Sedangkan, "Fa Anjainakum" dengan wazan, "Af'ala-Yuf'ilu", karena menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari Laut Merah tidak membutuhkan waktu lama, tapi singkat.

Karena itu, bersabar terhadap kezaliman orang zalim membutuhkan waktu panjang. Sekaligus menguji kebenaran iman dan komitmen kita. Tetapi yang pasti, Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya

Cara Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya juga di luar nalar, meski ada hukum sebab akibat yang harus dilakukan sebagai syarat, yaitu memukulkan tongkat ke laut, sehingga Allah membelah, dan terbelahlah laut itu (QS. al-Syu'ara' : 63).

Allah hendak mengajari kita, agar hati kita 100% hanya bersandar kepada-Nya. Juga ikhtiar sebaik mungkin, sebagai hujah kita kelak.

Hanya dengan sistem Islamlah hidup kita semua sejahtera. Karena diatur dengan Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah saw.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top