Oleh : Dewi Sartika

(Muslimah Peduli Umat)


Kini serangan kaum liberal kembali diarahkan kepada ajaran Islam. Pendidikan dalam berpakaian disoal. Dianggap pemaksaan dan berakibat negatif pada perkembangan anak. Sebagaimana yang ditampilkan oleh media asal Jerman Deutch Welle, mereka membuat konten video yang mengulas sisi negatif seorang anak yang dibiasakan memakai hijab sejak dini.

Dalam video itu, DW Indonesia mewawancarai perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak kecil dan mempersoalkannya. DW Indonesia juga mewawancarai psikolog rahajeng Ika. Ia menanyakan dampak psikologis bagi anak-anak sejak dini yang diharuskan memakai jilbab, "Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaian itu," kata Rahajeng Ika menjawab pertanyaan DW Indonesia. Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian punya pandangan yang  mungkin agak berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia berpakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul," tambahnya.

Tak hanya Rahajeng Ika, DW juga mewawancarai feminis muslim, Darol Mahmada tentang dampak sosial anak yang diharuskan memakai hijab sejak dini. Menurut darol mahmada, wajar-wajar saja jika seorang ibu atau guru mengharuskan seorang anak berhijab sejak kecil. tetapi khawatir saya lebih kepada membawa pola pikir si anak akan lebih eksklusif karena sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya berbeda dengan yang lain kata Darul mahmada (jurnal gaya, pikiran Rakyat.com, 26 /10/ 2020).

Tentunya kita masih ingat dengan kampanye 1 februari 2020 yang bertajuk No hijab Day free from hijab dimana 1 Februari diperingati kampanye untuk menanggalkan hijab, Niqob/cadar, menampakkan kepala mereka, yang dipelopori oleh tokoh feminis Yasmin Muhammad.

Rupanya musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti sedetik pun untuk melakukan rangkaian tipu daya dalam memalsukan dan menutupi kebenaran Islam di hadapan manusia, agar berpaling dari aturan syariah hingga mereka melakukan kedustaan,  mengada-adakan kebohongan, memberikan gambaran yang buruk serta memutarbalikkan fakta tentang Islam dan mereka menyerang muslimah dengan panah beracun dalam balutan feminisme.

Sesungguhnya krisis identitas dan menjauhkan muslim dari Islam inilah yang memang diharapkan oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam dan mereka berkepentingan mempromosikan islamfobia agar muslim melihat agamanya sendiri dengan tatapan malu dan minder, juga agar kaum muslimah meninggalkan atribut hijabnya lalu beralih memuji tatanan hidup sekuler liberal.

Pembiasaan Hijab Bukan Paksaan

Islam memandang pembiasaan hijab pada anak sejak dini bukanlah suatu paksaan. Mendidik anak sejak dini akan keterikatan terhadap hukum syara adalah kewajiban orangtua. Orangtua harus memahamkan anak bahwa hijab itu bukanlah pilihan, tetapi kewajiban.

Tentunya kampanye yang dilontarkan oleh kaum liberal sungguh tidak masuk akal. Karena, pembiasaan berbeda dengan pemaksaan. Sebelum baligh, anak-anak belum terkena beban taklif artinya kewajiban mereka untuk menutup aurat secara keseluruhan belumlah ada di pundak mereka.

Kewajiban Mendidik Anak

Kewajiban didik anak adalah tanggung jawab keluarga, apalagi seorang muslim. Sebelum anak-anak dewasa (baligh) orangtua wajib mendidiknya dan mempersiapkan anak agar mengenal agamanya. Supaya ketika dia baligh nanti sudah siap menerima taklif (beban hukum). Mereka tidak lagi merasa berat menjalankan syariat Islam yang terhindar dari kesesatan ketika dewasa kelak.

Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. at-Tahrim : 6)

Dan salah satu cara untuk menjauhkan keluarga dari api adalah dengan memahamkan mereka dengan Islam. Mengenalkan aturan Islam sejak dini termasuk memakai hijab yang merupakan bagian dari syariat Islam.

Anak adalah amanah dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Rasulullah bersabda, setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

"Seorang Imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari)

Abdullah bin Umar radhiallahuan pernah berkata, "Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban pendidikan yang telah engkau berikan kepadanya. Dan ia akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya pada dirimu.” (tuh fall al-maududi)

Benteng dari Liberalisme

Mengajari anak berhijab sejak dini, merupakan bagian dari pendidikan anak. Membiasakan mereka mengetahui batasan-batasan aurat yang tidak boleh ditampakkan dan yang boleh ditampakkan itu sangat diperlukan. Agar mereka dapat memahami dengan siapa saja mereka boleh menampakkan auratnya. Di dalam sistem hari ini dimana peran agama dihilangkan dari kehidupan. Dibutuhkan kehati-hatian dalam memahamkan anak untuk membentenginya dari paparan liberalisme melenceng sedikit saja dari ajaran Islam akan berakibat fatal. Pun dengan memahamkan anak tentang pakaian. Jika sejak kecil anak dikenalkan dengan budaya asing yang terkenal dengan ide kebebasannya. Akhirnya, anak akan memahami berpakaian seperti apa pun yang penting sopan. Sopan dalam hal ini Tentunya sebagaimana pandangan Barat. Begitu pula sebaliknya jika sejak dini seorang anak diperkenalkan dan budaya Islam, maka anak akan memahami pakaian mana yang sesuai dengan syariat Allah.

Peran Tiga Pilar Penjaga Generasi dalam Islam

Dalam Islam, menjaga generasi dari paparan liberalisme bukan hanya tanggung jawab keluarga meski tonggak utamanya adalah orangtua, tetapi merupakan tanggung jawab masyarakat dan negara.

Pertama, Orangtua. Orangtua adalah benteng pertama dalam menjaga anak-anaknya dari paparan liberalisme. Dengan kewajibannya mendidik anak serta sekolah pertama, orangtua yang harus menunjukkan mana aktivitas yang benar dan mana yang salah, orangtua mengajarkan agama pada anak-anaknya termasuk menutup aurat. Meski masih kecil dikenakan kewajiban berhijab.

Kedua, Masyarakat. Masyarakat memiliki peran penting dalam mendidik anak kebiasaan di masyarakat juga mempengaruhi pola pikir anak berimbas kepada pendidikan yang sudah diberikan di rumah. Masyarakat yang islami akan memberikan contoh yang baik bagi generasi, begitu pula sebaliknya. Masyarakat yang paham akan Islam, maka mereka akan mengontrol serta menasehati Jika ada yang melakukan kemaksiatan.

Ketiga, Negara. Negara adalah puncak segala kebijakan. Negara memiliki seperangkat aturan yang diterapkan kepada seluruh masyarakat, serta pengontrol utama pendidikan para generasi, dengan kewenangan yang dimilikinya sehingga negara mamapu mencegah dengan memberikan sanksi tegas bagi mereka yang melanggar syariat Islam. Negara pun dapat mengatur konten-konten yang ada di media televisi maupun di media sosial dan internet yang aman bagi anak-anak. Bahkan negara dapat memberi batasan dan pengaturan hubungan laki-laki dan perempuan serta bagaimana mereka seharusnya berpakaian.

Tentunya semua akan, kita dapatkan ketika negara menjalankan perannya sebagai perisai, serta aturan Islam benar-benar diterapkan oleh negara sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat. Negara Khilafah hadir menjadi benteng pertahanan, bagi kaum muslim dari berbagai serangan musuh-musuh Islam. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top