Oleh : Ummu Syanum

(Anggota Komunitas Setajam Pena)


Utang luar negeri merupakan utang suatu negara terhadap kreditor asing. Peminjam utang ini bisa merupakan pemerintah, perusahaan, ataupun warga negara tersebut. Utang ini termasuk utang kepada bank asing, pemerintah negara lain, atau kepada institusi keuangan internasional.

Baru-baru ini Menteri Keuangan Sri Mulyani mendapatkan penghargaan sebagai Finance Minister of the Year for East Asia Pasific tahun 2020 dari majalah Global Markets, penghargaan yang diberikan karena prestasinya dalam menangani ekonomi Indonesia saat wabah Covid-19.

Ini merupakan penghargaan kedua yang diterima Sri Mulyani dari majalah yang sama, stelah terakhir di tahun 2018 memperoleh penghargaan serupa.

Melihat hal ini, Fadli Zon mengungkap banyak pihak yang mempertanyakan penghargaan yang didapatkan oleh Menkeu Sri Mulyani tersebut. "Saat ini Indonesia banyak menghadapi masalah ekonomi. Nilai tukar rupiah yang melemah dan juga utang negara yang terus menumpuk yang akan menjadi warisan anak cucu kita". Fadli Zon menyimpulkan bahwa Menkeu Sri Mulyani merupakan menteri terbaik di mata asing dan bukan di mata rakyat Indonesia (TribunPalu.com, 17/10/20).

Laporan Bank Dunia berjudul Internasional Debt Statistic (IDS) 2021 yang menempatkan Indonesia di daftar 10 negara dengan utang luar negeri terbesar yang terbit pada 12 Oktober 2020 ini berisi data dan analisis posisi utang negara di dunia dimana dalam  salah satu bagian laporan menyebutkan perbandingan beberapa negara berpendapatan kecil dan menengah dengan Utang Luar Negeri (ULN) terbesar, termasuk Indonesia ( Bisnis.com, 14/10/2020).

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$498,6 miliar atau setara Rp6.026,85 triliun (kurs Rp 14.700 per dolar AS) pada kuartal II 2020. Jumlah utang meningkat 5 persen secara tahunan, dari US$391,8 miliar pada kuartal II 2019. Rasio utang Indonesia meningkat dari 34,5 persen pada kuartal II 2019 menjadi 37,3 persen pada kuartal II 2020. Meskipun utang terus meningkat, namun BI memandang derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar utang memberikan bukti kepercayaan investor  terhadap perekonomian Indonesia (JurnalNews.id, 14/08/2020).

Dari data tersebut sudah jelas menunjukkan kenaikan utang Indonesia yang sangatlah besar. Penumpukan utang ini akan menjadi sesuatu yang berbahaya bagi generasi yang akan datang. 

Di saat pandemi seperti sekarang ini, utang menjadi solusi utama dalam penyelamatan ekonomi. Utang tersebut membuat ekonomi Indonesia menjadi rentan krisis. Dengan alih-alih menyelamatkan ekonomi saat pandemi, utang yang terus menumpuk menjadi jerat bagi negara kreditur untuk menguasai SDA Indonesia.

Utang yang terus bertambah menjadi jurang yang curam dan telah memandulkan peran negara karena tidak memungkinkan negara akan disetir oleh negara asing pemberi utang. Negara yang hanya bertindak sebagai regulator atas kepentingan asing menyebabkan Indonesia harus melepaskan satu per satu kepemilikan umat kepada negara atau kreditur.

Dalam sistem kapitalis, utang merupakan senjata politik untuk mengendalikan negeri lain, baik untuk kepentingan politik, pendidikan maupun ekonomi, yang akan berada di bawah bayang-bayang negara kreditur.

Melakukan pinjaman kepada negara asing atau lembaga keuangan global adalah strategi yang jelas tidak dibenarkan dalam syariah. Karena resiko yang akan dihadapi oleh negara yang berhutang dengan negara kafir merupakan ancaman serius negara Islam. Dimana kaum kafir akan mencengkeram negeri kaum muslim.

Islam sendiri memiliki konsep keuangan yang tidak akan menyengsarakan umat. Islam memberikan konsep keuangan yakni Baitul mal yang sudah dipraktikkan selama 13 abad dalam peradaban Khilafah Islam. Dimana di dalamnya memiliki sejumlah pos-pos pemasukan tetap yakni fai', jizyah, kharaj, 'usyur.

Dan jika pemasukan Baitul mal tidak stabil atau mengalami kekosongan kas, strategi yang dapat diterapkan yakni menetapkan pajak kepada kaum yang dipilih dari kalangan yang memiliki kelebihan harta.

Sudah saatnya kita kembali pada aturan yang berasal dari Allah, yang tidak menzalimi umat. Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top