Oleh : Ummu Syam

(Aktivis Muslimah Majalengka)


Lagi, kasus pemerkosaan di India terjadi. Setelah pada 2012 lalu India dihujami unjuk rasa besar-besaran atas kasus pemerkosaan yang terjadi kepada mahasiswi fisioterapi berusia 23 tahun yang dijuluki Nirbhaya - artinya tanpa takut - oleh media karena namanya tak boleh disebutkan menurut undang-undang di India. Kini, seorang perempuan berusia 19 tahun dari kasta Dalit meninggal dunia setelah dia diduga diperkosa beramai-ramai oleh empat lelaki dari kasta lebih tinggi. (BBC Indonesia, 29/9/2020)

Di dalam agama Hindu, diyakini bahwa Manusmriti, yang secara luas dianggap sebagai buku paling penting dan otoritatif tentang hukum Hindu dan telah ada sejak 1.000 tahun sebelum Kristus dilahirkan, "Mengakui dan membenarkan sistem kasta sebagai dasar keteraturan dan keteraturan masyarakat".

Sistem kasta telah membagi umat Hindu menjadi empat kategori utama. Di puncak hierarki adalah para Brahmana yang sebagian besar adalah guru dan intelektual dan diyakini berasal dari kepala Brahma. Kemudian datanglah para Ksatria, atau para pejuang dan penguasa, konon dari keturunannya. Slot ketiga jatuh pada para Vaishya, atau para pedagang, yang diciptakan dari pahanya. Di bagian bawah tumpukan adalah Shudra, yang datang dari kaki Brahma dan melakukan semua pekerjaan kasar.

Kasta-kasta utama selanjutnya dibagi menjadi sekitar 3.000 kasta dan 25.000 kasta, masing-masing berdasarkan pekerjaan spesifik mereka. Di luar sistem kasta Hindu ini ada orang-orang Dalit atau yang tak tersentuh. Masyarakat kelompok ini adalah warga negara yang paling tertindas di India. Jumlahnya mencapai 200 juta jiwa atau menduduki sekitar 16% dari populasi India. (Liputan 6, 25/7/2019) 

Dilansir oleh The Reuters, bahwa dalam setahun sebanyak 145.000 kasus kekerasan terjadi pada orang-orang Dalit di India, dan 90% kasusnya diabaikan. Tidak cukup sampai di situ, Biro Catatan Kejahatan Nasional India (NCRB) melaporkan bahwa dalam seharinya 2 orang Dalit disiksa, 3 wanita Dalit diperkosa, 2 rumah orang Dalit dibakar dan 2 orang Dalit dibunuh.

Selain itu, kedudukan sosial mereka ditentukan dari bagian-bagian tubuh manakah mereka diciptakan, misalnya dengan siapa mereka dapat menikah dan pekerjaan apa yang dapat mereka lakukan. Kaum Dalit berada di luar sistem varna dan secara historis telah dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun kecuali pekerjaan-pekerjaan yang paling rendah. Di antaranya termasuk para penyamak kulit, petani-petani miskin dan para buruh yang tidak bertanah, pemulung sampah, para pekerja kerajinan di jalan-jalan, seniman-seniman rakyat, pencuci pakaian dhobi, dan lain-lain.

Orang-orang Dalit juga tidak diperbolehkan bersekolah, jika mereka bersekolah maka mereka akan dikucilkan. Itulah mengapa 45% orang Dalit mengalami buta huruf dan 90% orang Dalit hidup di bawah garis kemiskinan. 

Meskipun pemerintah India telah membuat undang-undang untuk melindungi orang-orang Dalit dari diskriminasi, namun pada kenyataannya bahwa masyarakat India menganggap ini adalah sebuah tradisi yang harus dipertahankan. Inilah ketika ekstrimisme agama dianggap lebih berbahaya dibandingkan ekstrimisme politik.

Islam: Sistem Hidup yang Unik 

India adalah negara dengan ekonomi terbesar kesembilan di dunia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) nominal dan yang terbesar ketiga berdasarkan keseimbangan kemampuan berbelanja (PPP). Namun sayang, kemajuan ekonomi itu tidak berdampak sama sekali bagi kelangsungan hidup orang-orang Dalit.

Tindakan diskriminasi yang terjadi kepada orang-orang Dalit memberikan sinyal kepada kita bahwa ada yang tidak beres dengan tatanan dunia saat ini. Tatanan dunia saat ini seharusnya indah dan selaras seperti yang diinginkan oleh PBB dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Pasal 1 bahwa, 

"Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan."

Namun adalah sebuah ironi, ketika Deklarasi Hak Asasi Manusia itu tak sedikit pun menjadikannya proklamator kemerdekaan untuk membebaskan belenggu kemelaratan orang-orang Dalit dari diskriminasi kasta, ekonomi, dan pendidikan.

Dari tindakan diskriminasi yang dialami orang-orang Dalit, dunia hendak mengkonfirmasi bahwa dunia saat ini membutuhkan tatanan/sistem kehidupan yang baru. Yang tidak mensekat-sekat masyarakat dari kasta (strata sosial), agama, maupun ras. Sistem kehidupan itu adalah Islam, sebuah sistem kehidupan yang unik. 

Allah Swt. berfirman: ".... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. al Hujurat (49) : 13)

Ath Thobari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thobari, 21:386)

Dalam tafsir Al Jalalain (528) disebutkan, “Janganlah kalian saling berbangga dengan tingginya nasab kalian. Seharusnya kalian saling berbangga manakah di antara kalian yang paling bertakwa".

Maka, jika makna takwa dalam arti melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan Allah, sebagaimana didefinisikan oleh jumhur ulama, sejalan dengan firman Allah dalam QS. al-Hasyr ayat 7:

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

Yang diberikan oleh Rasulullah saw. adalah Islam, dan sudah seharusnya kita menerimanya. Maka, sudah saatnya kita kembali mengambil Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan ini. Yang akan membebaskan manusia dari segala macam bentuk diskriminasi. Dan syari'ah Islam mustahil dapat diterapkan secara sempurna tanpa adanya Daulah Khilafah Islamiyyah. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top