Oleh : Inge Oktavia Nordiani

Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Publik


Seorang anak SD bertanya pada ibunya, "Bu BTS itu apa ya bu? Kata teman saya BTS itu ganteng-ganteng orangnya?"


Apa yang ada di pikiran para ibu kira-kira mendengar pertanyaan polos tersebut? Marah, sedih, bingung atau apa lagi? Semua bergantung pada ibu tersebut tahu atau tidak tentang fenomena BTS. Ya BTS adalah salah satu boyband asal Korea (K-POP) yang beberapa tahun terakhir ini mendadak diminati para millenials dunia khususnya Indonesia dengan `segudang` potensinya. Keberadaan K-pop sebenarnya sudah sejak 1990 yang hingga sekarang telah turun temurun meregenerasi hingga generasi ke4.


K-POP awalnya banyak dikenal kalangan millenial. Namun akhir-akhir ini kemungkinan besar keingintahuan tentang K-POP juga merambah pada kalangan orangtua.


Ini terjadi setelah viralnya sebuah apresiasi RI 2, KH. Ma`ruf Amin. 

"Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri," ujar Ma'ruf saat memberi sambutan secara virtual pada peringatan 100 Tahun Kedatangan Warga Korea di Indonesia, Ahad (20/9). ( https://republika.co.id)


Pernyataan Wakil Presiden ini sontak mendapatkan komentar dari berbagai pihak. Mulai dari merasa industri musik Korea lebih baik  dibandingkan dengan Indonesia dan tentang ketikdakmengertian RI 2 mengenai K-POP itu sendiri karena hanya membaca naskah pidato.


Menanggapi komentar publik, Juru Bicara Wakil Presiden, Masduki Baidlowi angkat bicara. Masduki menjelaskan maksud pernyataan Ma'ruf soal budaya Korea bisa dijadikan inspirasi dalam mengembangkan kreativitas anak muda.


"Titik tekan Wapres adalah agar kita bisa belajar dari kemajuan Korea. Kita jangan sekadar menjadi konsumen produk kebudayaan populer Korea. Tapi kita belajar dan mengambil inspirasi dari pengalaman Korea, khususnya dalam suksesnya mengenalkan budaya ke mancanegara," katanya. (https://news.detik.com, 24/9/2020)


Idola Semu


Terlepas dari kontroversi publik yang terjadi patut kita cermati bersama memang di Indonesia kecintaan terhadap artis K-POP sudah sangat menjamur. Ini terbukti dengan banyaknya para fans K-POP (KPopers). Hampir di setiap jenjang usia generasi tahu apa itu K-POP. Bahkan bisa jadi ketika para generasi diberikan pertanyaan tentang siapa saja nama-nama boyband yang mereka ketahui akan sangat mudah dibanding menyebutkan nama-nama para sahabat Rasulullah. 


Pernyataan RI 2 tampaknya sangat disayangkan karena kurang menggambarkan secara proporsional keberadaan K-POP baik manfaat dan mudharatnya pada generasi. Hal ini bisa menyebabkan para generasi millenial semakin terdukung untuk `mengidolakan` K-POP.


Padahal apabila diteliti lebih mendalam, lebih banyak kita temukan sisi negatif dari mengidolakan K-POP dan hal tersebut tentu akan mempengaruhi gaya hidup Kpopers.  

 

Di sisi yang lain apabila ditelusuri kehidupan orang Korea lewat serial dramanya, pasti kita merasa kalau hidup di Korea itu romantis, seru dan menyenangkan.


Tapi yang sebenarnya menurut OECD Better Life Index, Korea Selatan termasuk salah satu negara yang menduduki peringkat terendah dalam tingkat kebahagiaan warganya. Di antaranya mereka melewati musim dingin yang berat tiap tahun, tidak bisa bersantai, senioritas yang juga mengakibatkan bullying. Ditambah adanya standar kecantikan yang kurang realistis, kompetitif dalam segala hal. Juga menganganya kesenjangan sosial dan dalam hal pendapatan, masih sedikit tertutup, perseteruan dengan Korea Utara yang tak kunjung selesai. Semua itu berakhir dalam tingkat stres yang luar biasa tingginya.

(https://www.idntimes.com, 5/10/2017)


Efek Idola Semu


Banyaknya KPopers akan berdampak pada kualitas generasi lebay, alay dan halu.


Dikutip dari idntimes.com ada 5 penyakit psikologis yang derita oleh banyak fans berat artis Korea alias KPopers, meskipun tidak semuanya.


Pertama Celebrity Worship Syndrome adalah suatu kondisi dimana individu menjadi terobsesi kepada seseorang atau beberapa selebriti serta menjadi tertarik dengan kehidupan pribadi sang selebriti.


Penderita sindrom ini tidak akan rela jika idolanya dihina atau di kata-katai oleh orang lain.


Kedua, Mungkin membeli album, aksesoris dan lain-lain yang berhubungan dengan sang idola merupakan hal yang sudah biasa. Namun lain cerita dengan penderita kecendrungan pembelian kompulsif.


Biasanya fans yang seperti ini akan membeli barang dengan jumlah banyak secara terus-menerus, tanpa memikirkan risiko keuangan dan perilaku kompulsif ini sangat susah dikontrol.


Contohnya membeli album, merchandise, aksesoris dan lain-lain tanpa memikirkan uang saku atau gajinya habis.


Ketiga Delusi Erotomania, merupakan delusi atau keyakinan yang menganggap sang artis menyukai dirinya.


Keempat, halusinasi berlebihan. Hampir sama dengan delusi, tapi halusinasi lebih kepada panca indera akibat pengaruh otak.


Fans yang mengalami ini biasanya meyakini bahwa ia merasa melihat atau mendengar suara sang idola, atau mungkin ia bisa meraba sang idolanya yang pastinya itu tidak nyata alias khayalannya aja.


Kelima Werther Effect atau CopycSuidical. Dimana merupakan fenomena peniruan tindakan bunuh diri seseorang yang dianggap sebagai panutan, orang terdekat dan lain-lain. Karena para "fans" tersebut merasa depresi ditinggal oleh idolanya atau merasa memahami penderitaan sang idola. Kemudian ia ingin menunjukkan kesetiaannya pada sang idol dengan cara tersebut.


Seharusnya generasi muda tidak boleh kehilangan jati diri bangsa. Utamanya mayoritas penduduk di Indonesia beragama muslim yang memiliki tuntunan khas. Orang Barat saja bisa mengetahui letak kekuatan kaum muslimin, maka kita tidak boleh lengah sama sekali. Disebabkan ini bukan urusan sepele.


Tidak berlebihan kiranya bila kita cermat menganalisa tentang perwujudan simbol-simbol gerakan aneh syarat makna yang ditunjukkan para K-pop.


Apalagi Kpopers akan membuat seseorang membayangkan menjadi kekasih salah satu idolanya sampai mempengaruhi perilakunya. Halu yang pada hakekatnya sama dengan zina hati.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari. Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

William Edward Gladstone, mantan Perdana Menteri Inggris pernah mengatakan, “… percuma kita memerangi umat Islam dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada para pemuda Islam itu bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada 1000 meriam. Oleh karena itu, tanamkan dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.” (https://muslimah.or.id, 15/4/2019)


Oleh karena itu seharusnya generasi millenials bisa lebih berfikir cemerlang dalam memandang sebuah fakta yang mereka hadapi.


Idola Sebenarnya


Mengidolakan seseorang merupakan bagian dari sesuatu yang alami pada manusia. Bahkan memiliki idola bisa menambah motivasi dalam menjalani sebuah kehidupan. Namun hendaknya kita tidak boleh terjebak dalam memilih idola, karena lambat laun profil idola kita tersebut akan menjadi cermin diri.


Memilih idola hendaknya yang bisa dicontoh zahir dan batinnya. Sebagai muslim, bukankah kita telah memiliki tuntunan idola yang bisa kita jadikan inspirasi nyata dalam kehidupan. Ia yang telah terbukti nyata mampu memberikan tauladan nyata baik lisan maupun perilakunya. Beliau adalah nabi kita Muhammad saw.


Nabi Muhammad saw. adalah seorang yang terpercaya dalam segala-galanya, baik tutur kata maupun perbuatannya. Beliau adalah seorang yang terpelihara dari semua bentuk perangai jahat, keji, durhaka dan zalim. Bahkan beliau adalah seorang yang telah dijamin oleh Allah Swt. kebahagiaan hidupnya di akhirat. Akhlak Rasulullah saw. yang terkenal di antaranya adalah pemurah, tidak kikir dengan siapa saja. Berani, tidak pernah mundur di dalam kebenaran. Adil, tidak pernah zalim di dalam memutuskan hukum. Jujur dan terpercaya sepanjang hidupnya.


Demikianlah di antaranya akhlak dan sifat-sifat Rasulullah saw. yang patut diteladani dan diikuti. Sebagaimana Firman Allah Swt. di dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 21.


 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (TQS. Al-Ahzab: 21)


Namun, tidak banyak generasi millenial kini yang mencondongkan arah idolanya pada Baginda Nabi Muhammad atau setidaknya generasi didikan nabi seperti para sahabat dan salafush shaleh. Hal ini disebabkan kurangnya penyuasanaan lingkungan remaja yang alih-alih cinta nabi malah yang mereka saksikan lebih banyak informasi yang minus edukasi nyata.


Semua ini dibutuhkan penyuasanaan dan peran tidak hanya keluarga, tapi juga lingkungan utamanya Negara. Sebuah Negara tidak akan mampu memberikan suasana kondusif selain Negara yang menjalankan tuntunan Illahi. Negara yang mampu mengendalikan rakyatnya untuk bisa benar-benar menjaga prioritasnya dalam beramal dengan pertimbangan halal dan haram.


Hal itu belum bisa kita temukan di Negara kita sekarang. Dimana masih menganut sekuler-kapitalistik yang lebih mengedepankan asas manfaat di atas segalanya. Generasi bisa tumbuh lurus bila diluruskan sebab anak terlahir dalam keadaan fitrah. Ada sebuah PR besar bagi bangsa akan dibawa kemana kualitas generasi beberapa tahun ke depan? Karena idola adalah salah satu penentu kualitas generasi.

 
Top