Oleh : Siti Fatimah

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Ternyata tidak hanya kasus Covid-19 yang semakin hari semakin meningkat, kasus-kasus islamophobia pun belakangan ini juga makin menjadi-jadi. Rentetan kejadian yang dialami umat Islam di dalam dan di luar negeri seakan menunjukkan bahwa masyarakat dunia benar-benar membenci keberadaan Islam. Mengapa hal ini bisa terjadi? 

Sebagai umat Islam mayoritas di negeri ini, seharusnya umat berusaha mencari jawab atas apa yang terjadi. Mengapa Islam dimusuhi, mengapa para ulama dipersekusi, dikriminalisasi bahkan dilukai sehingga mengancam nyawa para ulamanya. Islam selalu diserang dan dizalimi, bahkan berbagai fitnah datang bertubi-tubi salah satunya adalah dalam bentuk islamofobia. 

Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan muslim. Istilah ini sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. (wikipedia.org)

Islamofobia bertujuan untuk menyebarkan rasa takut di kalangan umat Islam sekaligus dijadikan sarana untuk mendiskriminasi bahkan kriminalisasi terhadap umat Islam oleh kaum kafir. 

Salah satu bentuk nyata dari islamofobia adalah aksi gila majalah Perancis Charlie Hebdo yang mencetak ulang karikatur Nabi Muhammad saw. yang tentu saja membuat marah umat Islam sedunia beberapa waktu silam.

Kemudian di dalam negeri juga ada aksi nekad wawancara media asal German (Deutch Welle/DW Indonesia) terhadap kaum  Liberal yang mengulas tentang "sisi negatif anak memakai jilbab sejak kecil". Sontak saja hal ini memicu amarah banyak pihak, terutama kaum ibu yang paling terlukai hatinya dengan konten video yang dinilai telah memfitnah para orangtua yang berusaha untuk menanamkan pemahaman terhadap ketaatan memakai hijab sejak usia dini.

“Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” kata Rahajeng Ika yang berprofesi sebagai seorang psikolog menjawab pertanyaan DW Indonesia.

“Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul,” tambahnya. (jurnalgaya.pikiran-rakyat.com, 26/9/2020)

Benarkah memakai jilbab sejak kecil dapat berdampak negatif dan merupakan bentuk pemaksaan terhadap anak? Bagaimana ajaran Islam memandang masalah islamofobia yang menyerang area akidah bab jilbab ini?

Islam dengan jelas memerintahkan muslimah untuk menutup aurat bila sudah memasuki masa baligh.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَا جِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَا بِيْبِهِنَّ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰۤى اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. al-Ahzab 33 : 59)

Jadi hukum memakai jilbab adalah wajib bagi setiap muslimah. Seorang ibu yang memakaikan jilbab kepada anaknya sejak dini merupakan bentuk tanggung jawab selaku orangtua terhadap Allah Swt. dalam rangka mengajarkan buah hati mereka tentang ketaatan karena jilbab merupakan kewajiban. Segala sesuatu perbuatan harus melalui pembiasaan dan pembiasaan yang efektif adalah pembiasaan sejak dini, supaya anak tidak merasa berat hati memakai jilbab saat memasuki usia baligh. Apalagi lingkungan yang saat ini dikuasai oleh paham sekularisme akan sangat mudah sekali mempengaruhi pendirian anak yang tidak memiliki kebiasaan dari sejak awal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya: Seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya.” (HR al-Bukhâri)

Jelas sudah bahwa pembiasaan sejak dini bukanlah "pemaksaan" karena pada masa kanak-kanak mereka belum terikat oleh hukum syara'. Artinya kewajiban mereka untuk menutup aurat belumlah ada pada dirinya. Apabila anak mengeluh gerah, maka boleh untuk melepas jilbab mereka dan tidak ada larangan sama sekali. Sementara bagi orangtua merupakan bentuk tanggung jawabnya kepada Rabb pembuat aturan bagi manusia yang wajib ditunaikan terkait kewajiban pemeliharaan atas anak-anak yang dianugrahkan Allah Swt. kepada mereka.

Dunia memang sedang dikuasai oleh paham sekularisme, maka tak heran bila segala bentuk islamofobia ada dan seakan tumbuh semakin subur. Mengeluarkan ide-ide sesat untuk memperburuk citra ajaran Islam. Bahkan pemerintah di bawah rezim ini seakan anti terhadap Islam dan seolah memberi panggung kepada kaum liberal yang getol mengeluarkan opini dengan konten-konten yang mendiskreditkan ajaran Islam. 

Berbeda sekali dengan sistem pemerintahan Islam yang secara tegas akan menindak para penghina dan pemfitnah dengan hukuman yang berat untuk memberikan rasa jera. Kaum kafir memang tidak akan berhenti hingga akhir zaman untuk memadamkan cahaya Allah, namun yang pasti usaha itu akan sia-sia belaka.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّطْفِـئُــوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَ فْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّٰهُ اِلَّاۤ اَنْ يُّتِمَّ نُوْرَهٗ وَلَوْ كَرِهَ الْـكٰفِرُوْنَ

"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai." (QS. at-Taubah 9 : 32)

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top