Oleh : Dian Fitriani


Ide kesetaraan gender tak putus-putusnya disuarakan oleh para aktivis emansipasi wanita juga para lembaga pemangku kepentingan lainnya. Seperti peribahasa berbunyi "ada asap ada api". Ide ini tentunya muncul karena suatu sebab yang jelas, kejadian berbeda dengan penyebab yang sama terulang terus menerus, tentunya masalah ini membutuhkan solusi yang tepat bukan hanya parsial yang berbentuk jargon kosong belaka.

Indonesia bersama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), turut berpartisipasi dalam merayakan Hari Kesetaraan Upah Internasional yang jatuh pada 18 September. Dengan memperingati hari kesetaraan, PBB berkomitmen ingin menentang berbagai bentuk diskriminasi tak terkecuali diskriminasi terhadap perempuan. Mereka memandang bahwa kesetaraan adalah hak asasi manusia, maka mereka beranggapan bahwa ini adalah momen yang tepat untuk bertindak sebagai pahlawan keadilan yang membawa angin segar bagi para perempuan yang merasa didiskriminasi.

Bukan hanya PBB, Momen ini juga turut didukung oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan UN Women, dua badan PBB yang memimpin pendirian Koalisi Internasional untuk Kesetaraan Upah (Equal Pay International Coalition/ EPIC), bersama dengan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD).

Dilatarbelakangi rendahnya upah pekerja perempuan 23% dibandingkan pekerja laki-laki di Indonesia. Menurut data global, kesengajaan upah antara pekerja perempuan dan laki laki pun tak jauh berbeda, yakni sebesar 16%.

Bukan hanya itu, kesempatan kerja yang dimiliki perempuan cenderung lebih sedikit dibandingkan laki laki, posisi perempuan di dunia kerja pun lemah, meski kita tahu bahwa banyak faktor yang memicu bukan hanya faktor gender tapi juga pendidikan dan pengalaman kerja, namun nyatanya perempuan tetaplah memiliki posisi lebih rendah dibandingkan laki laki di dalam dunia kerja. Baik mereka yang berpendidikan, berpengalaman juga terlatih tetap saja tidak menjamin terlepasnya dari kesenjangan sosial yang hadir di dunia kerja.

Dilansir oleh bisnis.com, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ida Fauziyah, menegaskan bahwa Indonesia telah meratifikasi Konvensi ILO No. 100 tentang Kesetaraan Upah pada 1958, lebih dari 60 tahun lalu. Pentingnya kesetaraan upah bagi pekerja laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan bernilai sama tidak mengalami perubahan. Ida menyatakan dengan mempertimbangkan kesenjangan gender di pasar kerja saat ini, kementerian bersama dengan semua mitra sosial dan organisasi internasional, terus mendorong aksi bersama menentang diskriminasi berbasis gender di tempat kerja.

"Ini saatnya bagi perempuan dan laki-laki untuk dihargai secara setara berdasarkan bakat, hasil kerja dan kompetensi, dan bukan berdasarkan gender,” ujar Menteri Ida.

Dalam upaya kesetaraan upah Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan UN Women, dua badan PBB yang memimpin pendirian Koalisi Internasional untuk Kesetaraan Upah (Equal Pay International Coalition/EPIC), bersama dengan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) membentuk koalisi.

Berangkat dari isu ini, para lembaga bersangkutan berupaya bersama-sama memperjuangkan kesetaraan gender atas nama hak asasi manusia, yang kita kenal sebagai produk paling laris para pengemban liberalis.

Jika kita tarik akar masalahnya, maka kita akan temukan bahwa penyebab utamanya karena sistem sekuler kapitalisme yang meradang di negeri ini, persaingan dunia kerja antar gender dibangun demi kepentingan ekonomi, padahal jelas sekali bahwa kekhasan fisik yang diciptakan setiap gender berbeda, yang jelas saja perbedaan itu menimbulkan fungsional dan struktural dalam sosial pun berbeda, hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki pun akan berbeda, kendati upah antara pekerja perempuan maupun laki-laki disetarakan apakah lantas masalah pelecehan terhadap perempuan, kesenjangan sosial antar gender bisa diselesaikan? Masalahnya apa yang diurus apa. Bak memotong ekor ular yang hendak mematuk, bukan malah memotong kepalanya, alih-alih terselesaikan justru terlarut oleh masalah yang tak kunjung selesai.

Padahal seharusnya kita memfokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, perluasan lapangan kerja dan meningkatkan kesempatan kerja.

Meski yang dibahas bukanlah masalah pengangguran, namun tentunya faktor maraknya pekerja perempuan, terlepas dari upah yang tak setara adalah hilangnya peran laki laki sebagai kepala keluarga dalam rumah tangga, baik karena perceraian, PHK massal dan berbagai masalah keluarga lainnya, namun dalam Islam, masing masing gender memiliki peran dan fungsi yang berbeda, bukan masalah siapa yang lebih berkompeten atau lebih mulia, namun setiap kekhasan yang dikaruniai bukan berarti tanpa sebab, perempuan yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidik anak, serta mengurus urusan rumah tangga lainnya karena faktor biologis yang dikaruniai sejak lahir, perempuan memiliki rahim untuk mengandung, apakah lantas jika kita menginginkan kesetaraan secara mutlak berarti kita menginginkan laki-laki memiliki peran yang sama seperti perempuan tak terkecuali melahirkan anak, bukankah mustahil?

Jika kita lebih bijaksana dalam mengatasi masalah kesenjangan ini, maka seharusnya kita berpikir akan resiko yang dihadirkan dari solusi  parsial yang ditawarkan oleh para pejuang HAM, seandainya kesetaraan upah benar-benar tercapai, apakah tidak menimbulkan eksploitasi sumber daya manusia khususnya perempuan? Maraknya pelecehan seksual terhadap perempuan karena seringnya pulang malam akibat jam kerja, retaknya hubungan rumah tangga, rendahnya tingkat pengasuhan anak dalam rumah tangga, dan berbagai masalah lainnya.

Dalam Islam, gender bukan hanya soal identitas, seperti kapitalis sekuler tanamkan. Islam memandang bahwa gender lebih dari sekadar identitas, gender adalah seperangkat fungsional yang saling melengkapi, memiliki kewajiban dan hak masing-masing, sehingga terbentuklah sebuah harmoni dalam kehidupan, peran suami yang menjadi kepala keluarga maka wajib menafkahi anak dan istrinya, peran istri yang menjadi ibu rumah tangga maka wajib mengasuh anak anak dan mengurus urusan rumah tangga, apabila tertukar atau justru satu di antaranya tak berperan dengan baik maka tentunya akan menimbulkan masalah.

Islam memandang perbedaan gender berarti juga perbedaan kepribadian, budaya dan karakter. Maka dalam syariat Islam pakaian laki-laki dan perempuan pun berbeda, bahkan dalam perihal hak waris. Jika dianggap itu adalah ketidakadilan, justru keadilan dalam Islam adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya bukan tercapainya kesetaraan, sangat keliru jika kita menganggap kesetaraan adalah keadilan yang sesungguhnya, contoh, anak SD dan anak SMA memiliki uang saku yang berbeda karena tentunya mereka memiliki kebutuhan yang berbeda, dalam contoh sederhana saja kita dapat membedakan mana yang adil mana yang tidak, apalagi masalah makro seperti gender.

Keseteraan upah yang disuarakan bukanlah hal yang salah secara mutlak, namun jika kita tinjau dari peran wanita dalam bekerja, kita akan menemukan beberapa faktor adanya kesengajaan, seperti tuntutan peran rumah tangga yang dimiliki perempuan, fisik perempuan yang cenderung lebih lemah, juga banyak pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus yang dimiliki laki laki yang mana tak dimiliki oleh perempuan. Seharusnya kita menerima dan mensyukuri akan adanya perbedaan dari kedua gender, dengan melaksanakan kewajiban dan memenuhi hak masing-masing, hanya Islam yang mampu mengembalikan segala sesuatu kepada fitrahnya. Menginginkan kesetaraan gender berarti menyalahi fitrah dan tidak mensyukuri apa yang telah Allah tetapkan.

Ketika Islam belum datang di muka bumi, perempuan hanyalah menjadi pelengkap dan pemenuh nafsu birahi laki-laki, namun ketika Islam datang, perempuan dimuliakan, perempuan diberikan hak yang sama dalam mempertahankan kehormatan. Jika Islam yang dikambinghitamkan atas masalah kesenjangan sosial antar gender justru ini pernyataan yang keliru.

Perbedaan dalam peran bukan berarti perbedaan dalam meraih kemuliaan dan kehormatan, Allah Swt. memberikan peluang yang sama untuk meraih kemuliaan, Allah tidak membeda-bedakan gender, ras dan etnis, siapapun yang paling bertakwa, maka dialah yang paling mulia, dalam surah al-Hujurat ayat 13, Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Maka demikian kita dapat menyimpulkan bahwa hanya Islam yang mampu menjawab berbagai persoalan, baik masalah lokal maupun masalah global, karena Islam datang sebagai 'Rahmatan Lil A'lamin' atau Rahmat bagi seluruh alam, tidaklah tuntas permasalahan yang tengah dunia hadapi jika tidak menggunakan solusi yang fitrah, yakni syari'at Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top