Oleh : Endang Seruni

(Ibu Peduli Generasi)


Hari Kesetaraan Upah yang jatuh pada tanggal 18 September 2020 diperingati oleh bangsa Indonesia bersama dengan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), sebagai bentuk komitmen PBB untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang bentuk deskriminasi, baik terhadap perempuan dan anak perempuan.

Dalam dunia kerja banyak pekerja perempuan yang pada faktanya mendapatkan upah yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Menurut data global yang dirilis oleh UN Women perkiraan kesenjangan upah sebesar 16%. Pada faktanya di Indonesia data menunjukkan perempuan yang bekerja memperoleh pendapatan 23% lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Banyak pekerja perempuan yang bekerja di bidang informal, sehingga pada saat pandemi mereka harus hidup tanpa asuransi kesehatan dan perlindungan sosial. Begitu juga dari sisi pendidikan tinggi pekerja perempuan tidak menjamin perempuan mendapatkan upah yang setara dengan laki-laki. Pekerja perempuan dengan gelar D3/D4 atau sarjana mendapatkan upah yang cukup rendah dibandingkan laki-laki. (Kumparan, 19/9/2020)

Menteri Ketenagakerjaan RI, Ida Fauziah menegaskan bahwa Indonesia telah meratifikasi konvensi ILO no100 tentang kesetaraan upah pada tahun 1958, lebih dari 60 tahun yang lalu, mempertimbangkan kesenjangan gender. Di pasar kerja saat ini, Kementerian bekerjasama dengan semua mitra sosial dan organisasi internasional terus mendorong aksi bersama menentang diskriminasi berbasis gender di tempat kerja. Saatnya perempuan dan laki-laki dihargai secara setara berdasarkan hasil kerja dan kompetensi bukan berdasarkan gender. (Bisnis.com, 21/9/2020)

Para pegiat gender beranggapan bahwa upah yang setara adalah bagian dari upaya menyejahterakan perempuan dan mewujudkan kesetaraan perempuan dengan laki-laki. Sesungguhnya ini adalah pemahaman yang menyesatkan dan merupakan sikap basa basi sistem sekuler mengatasi masalah perempuan.

Penyetaraan upah hanyalah bagian dari upaya untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja. Hal ini justru peran perempuan di ranah domestik terganggu bahkan bisa rusak karenanya. Kodrat perempuan adalah sebagai istri, pendidik generasi dan pengatur rumah tangga.

Perempuan yang bekerja justru menanggung beban ganda dalam keluarga. Kesetaraan upah hanyalah janji palsu belaka, sejatinya perempuan dieksploitasi demi kepentingan para pengusaha.

Berbeda jika perempuan hidup dalam naungan syariat Islam. Islam sangat menjaga kemuliaan perempuan. Perempuan dalam syariat Islam berperan secara optimal sebagai istri, ibu, juga pengatur rumah tangga yang keadaannya sejahtera dimana Islam memiliki mekanisme yang dapat menjamin nafkahnya.

Sekalipun di sisi lain Islam membolehkan perempuan untuk bekerja. Namun, bekerjanya perempuan adalah untuk mengamalkan ilmunya dan memberi manfaat bagi umat. Bukan sebagai penggerak roda ekonomi keluarga.

Islam sangat menghargai hasil kerja perempuan sebagaimana laki-laki sesuai keahliannya. Islam juga memenuhi hak perempuan dalam berbagai bidang dalam tuntutan syariat. Untuk itu kesejahteraan perempuan akan dapat dirasakan apabila tata kehidupan ini sesuai dengan syariat Islam.

Demikianlah cara Islam memuliakan perempuan. Bukan mengeksploitasi mereka dengan dalih kesetaraan. Pekerja perempuan dibius dengan iming-iming upah yang sesuai dengan pendidikan tinggi yang dimilikinya atau posisinya setara dengan laki-laki, padahal sejatinya adalah mengalihkan peran perempuan dari peran kodratinya. Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top