Oleh : Lilis Suryani


Bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2020 lalu, umat Islam telah memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad saw. atau yang lebih dikenal dengan peringatan Maulid Nabi. Setiap tahun umat Islam memperingatinya dan turut hanyut dalam euforia acara perayaan. Di berbagai daerah banyak dilaksanakan pawai obor, pengajian-pengajian, atau perayaan seremonial lainnya. Walaupun sedang terjadi pandemi, umat Islam sepertinya akan tetap bersemangat untuk merayakannya. Namun sayangnya, sedikit sekali yang bisa benar-benar memahami makna di balik peringatan Maulid Nabi ini.

Bukankah Allah Swt. mengutus Rasulullah saw. adalah untuk memberikan keteladanan yang paripurna?

Pribadi Nabi saw. seluruhnya adalah kebaikan untuk semua bidang kehidupan. Akhlak, ibadah bahkan hingga pemerintahan yang beliau jalani penuh dengan keteladanan. Maka dari itu, sudah semestinya jika kaum muslim menjadikan Nabi saw. sebagai satu-satunya contoh kebaikan dalam kehidupan. sebagaimana firman Allah Swt.:

 "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi siapa saja yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir dan dia banyak mengingat Allah." (QS. al-Ahzab [33] : 21)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjabarkan bahwa ayat yang mulia ini adalah pokok yang besar dalam mengikuti Rasulullah saw. dalam berbagai perkataan, perbuatan dan keadaan beliau. Imam Ibnu Katsir juga menuturkan, inilah perintah kepada manusia (para Sahabat) untuk meneladani Nabi saw. pada saat Perang Ahzab; dalam hal kesabaran, kedisiplinan, kesungguhan dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Tuhannya (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 6/391).

Memperingati Maulid Rasul saw. juga menjadi cermin rasa cinta kita kepada beliau. Bukti kecintaan kita yang paling pertama dan sederhana kepada Rasulullah adalah banyak menyebut beliau, banyak bershalawat kepada beliau. Kecintaan kepada Nabi saw. adalah kewajiban. Beliaulah yang telah membawa kita ke jalan Allah Swt. Orang yang membaca shalawat pasti orang yang mencintai Nabi saw., tak mungkin orang yang membenci beliau.

Shalawat yang selalu kita lantunkan sebagai wujud kecintaan kita kepada Rasulullah inilah yang kiranya akan menjadikan orang mendapat syafaat dari beliau. Ibnu Mas’ud ra. bertutur bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Orang yang paling berhak mendapatkan syafaatku pada Hari Kiamat adalah yang paling banyak shalawat kepadaku.” (HR. at-Tirmidzi)

Selain itu, bukti kecintaan kita kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya adalah dengan mengikuti syariah beliau. Allah Swt. berfirman:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31)

Ayat di atas menjelaskan bahwa bukti cinta kita kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya adalah dengan mengikuti segala apa yang beliau bawa. Dengan itulah Allah Swt. akan mencintai kita.

Kecintaan kita kepada Baginda Rasul saw. juga merupakan harapan akan kedudukan kita pada Hari Akhir. Dalam hal ini Anas bin Malik ra. berkisah, bahwa seseorang pernah mendatangi Nabi saw., lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan kiamat terjadi?” Beliau balik bertanya, “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak menyiapkan puasa yang banyak, tidak juga sedekah. Hanya saja, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda, “Engkau bersama yang kaucintai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Adapun, momentum kelahiran Baginda Rasulullah saw. adalah ekspresi napak tilas perjuangan hidup beliau. Tak ada satu pun dari ayat atau sunnah Rasul saw. yang hanya sekadar teori. Semuanya adalah bentuk aplikasi dari semua hukum yang telah Allah syariatkan dan jejak perjuangan beliau. Beliaupun memulai titik dakwah di Makkah, membentuk kutlah (kelompok dakwah), interaksi dengan masyarakat, baiat ‘Aqabah 1 dan 2, hingga mendirikan negara Islam di Madinah. 

Beliau juga menata masyarakat di Madinah, menghancurkan dan menghilangkan hambatan fisik dakwah dengan qitâl (peperangan), menguatkan posisi Madinah dalam kelangsungannya sebagai sebuah negara, melakukan kegiatan politik dalam dan luar negeri, sampai beliau diwafatkan Allah Swt. pada tanggal 12 Rabiul awal tahun 11 H, atau bertepatan dengan bulan Juni tahun 632 M.

Semua yang dilakukan dan diperjuangkan oleh Baginda Nabi saw. di atas tentu layak dan wajib kita teladani. Terlebih, saat ini umat Islam tengah berada dalam kegelapan karena penerapan sistem kapitalisme di negara-negara muslim. Sudah selayaknya, kita mengambil jalan perjuangan sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Agar Islam kembali bersinar menerangi seluruh penjuru negeri melalui konstitusi yang menerapkan syariat secara kafah yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah.

Wallahu a'lam bishahawab.

 
Top