Oleh : Sri Indrianti

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


"Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah." (Milan Kundera)

Quotes itulah mungkin yang melatarbelakangi terjadinya persekusi buku "Muhammad Al-Fatih 1453" karya Felix Siauw. Ketakutan akan kebangkitan peradaban Islam di kalangan generasi muda membayangi jika mereka membaca buku tersebut. 

Dilansir oleh detikNews.com pada 2 Oktober 2020 bahwa Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Bangka Belitung (Babel) membatalkan surat yang berisi mewajibkan siswa SMA atau sederajat membaca buku "Muhammad Al Fatih 1453" yang ditulis Felix Siauw.

Sementara itu, Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama Bangka Belitung menyayangkan dan mengkritik keras apa yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Babel. 

Ketua PW Nahdlatul Ulama PWNU Bangka Belitung, KH Jaafar Siddiq, menuturkan bahwa isi buku tersebut bukan sejarah asli. Melainkan ada penggiringan opini. Salah satunya harapan Felix Siauw yang tertulis di halaman 314 yakni agar generasi-generasi yang ada (generasi Islam) membenamkan ide-ide kufur lalu menggantinya ide-ide Islam yang orisinil dengan generasi yang akan meninggikan kalimatullah dan membangkitkan kembali kaum Islam dalam penerapan syariat Islam dalam bentuk khilafah Islam. (detikNews.com, 2/10/2020)

Sebegitu takutnya kalangan pembenci Islam dengan sebuah buku. Benarkah buku MAF 1453 ini berbahaya? 

Islamofobia Kalang Kabut

Tak ada yang salah dengan Buku MAF 1453. Justru buku karya Felix Siauw tersebut memberikan inspirasi dan motivasi bagi semua kalangan berbagai level masyarakat akan pentingnya sebuah perjuangan untuk menggapai mimpi besar.

Buku tersebut merupakan buku sejarah perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih 1453 dalam mewujudkan bisyarah Rasulullah saw. menaklukkan Konstantinopel. Buku sejarah yang ditulis secara apik oleh Felix Siauw, sehingga membuat buku ini tidak seperti buku sejarah kebanyakan. Penulisannya begitu menggugah dan tidak membosankan membuat Buku MAF 1453 langsung menjadi best seller di awal penerbitannya tahun 2011.

Tentu saja kalangan pembenci Islam begitu ketakutan dengan buku ini. Takut jika banyak kalangan muda yang tersadarkan dan terinspirasi akan perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih. Takut jika generasi muda banyak yang terinspirasi, maka kebangkitan Islam tinggal sekejap saja. Apabila hal ini terjadi, maka mereka para pembenci Islam hanyalah tinggal nama. 

Perjuangan Takkan Surut

Upaya penjegalan Islam dan kaum muslimin menyerang dari semua arah. Islamofobia digencarkan agar kaum muslimin semakin alergi. Penghinaan Rasulullah, pembakaran Al-Qur'an, pengaburan pemahaman Islam, persekusi ulama, persekusi buku, dan masih banyak lainnya merupakan bukti akutnya islamofobia yang menjangkiti kalangan pembenci Islam. 

Dengan memegang kunci penguasa, ditumbangkan segala bentuk upaya yang ingin membangkitkan kaum muslimin. Dakwah Islam kafah dijegal sedemikian rupa agar tidak semakin meluas. Benih-benih kebencian ditanam pada benak kaum muslimin, dipupuk secara berkala agar kebencian dan ketakutan semakin tumbuh subur. Lebih jauh lagi, panen berupa alergi Islam pada kalangan kaum musliminlah yang diharapkan.

Namun, dakwah tidak akan berhenti hanya karena penjegalan atau persekusi. Karena dakwah tidak butuh izin penguasa melainkan izin dari Sang Penguasa Jagat Raya.

"Kisah Nabi Musa takkan keren tanpa Fir'aun, Kisah Nabi Muhammad tak lengkap tanpa Abu Jahal dan Abu Lahab, bahkan The Avengers tak punya cerita tanpa villainnya.

Hari ini, Allah hanya ingin menghibur kita dengan Fir'aun dengan casting baru, Abu-abu lainnya yang sama pandirnya. Agar kita punya cerita yang kelak kita obrolkan di dipan-dipan." (Ustadz Felix Siauw)

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top