Oleh : Ummu Brilliant

Kontributor Media


     Tak pernah berhenti mencaci dan tak kenal lelah membuat tingkah. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Para pembenci islam selalu menyerang ajaran Islam yang suci. Seperti berita yang akhir-akhir ini mencuat di sosial media terkait pemakaian hijab di usia dini alias anak-anak. Sebagaimana dilansir oleh Jurnal Gaya bahwa media asal Jerman, Deutch Welle (DW) yang mengulas tentang sisi negatif anak yang pakai jilbab sejak kecil.

     Dalam video itu, DW Indonesia mewawancarai perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak kecil. DW Indonesia juga mewawancarai  psikolog Rahajeng Ika. Ia menanyakan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab. "Mereka menggunakan atau memakai sesuatu yang belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu," kata Rahajeng Ika menjawab pertanyaan DW Indonesia.

     Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian mereka punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul," tambahnya. Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?," tulis DW Indonesia. 

     Kontan postingan DW Indonesia ini menuai hujatan dari para netizen dan sejumlah tokoh. Mereka menganggap DW Indonesia membuat konten islamofobia. "Liputan ini menunjukkan sentimen "islamofobia" dan agak memalukan untuk kelas @dwnews," kata anggota DPR yang juga wakil ketua umum Partai Gerindra, Fadli Zon melalui akun Twitternya, @fadlizon.

     Dalam Islam, menjadi kewajiban orangtua mendidik anaknya, bahkan dimulai sejak masih dalam kandungan. Menanamkan akidah sejak dini agar menancap kuat dalam dada mereka, serta mendidik mereka dengan aturan Islam. Dengan mengajarkan salat,  menutup aurat, dan aturan lain sejak dini merupakan bentuk pembiasaan bukan pemaksaan. Tentunya diiringi dengan pemahaman yang benar, hingga anak benar-benar mengerti. Dan dengan akidah yang kuat maka akan tertanam dalam benak mereka bahwa menjadi muslim harus taat dengan aturan Allah, di manapun dan kapanpun. Taat tanpa tapi dan nanti. Pun dalam kewajiban berhijab, adalah memahamkan mereka bahwa hijab bukan pilihan, tapi kewajiban dari Allah.

     Dan perlu diketahui bahwa pembiasaan dengan diiringi pemahaman yang benar serta penanaman akidah sejak dini bukanlah pemaksaan. Namun sebagai bentuk tanggung jawab orangtuanya yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: 

"Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya: seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki  juga pemelihara dalam keluarganya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya." (HR. al-Bukhari)

     Tentu berbeda sekali jika kita bandingkan dengan pendidikan yang serba bebas yang digaungkan oleh peradaban Barat. Dalam mendidik anak mereka adalah dengan tidak mengganggu kebebasannya dalam berbuat/bertingkah laku. Mereka bebas melakukan apa saja asal mereka senang dan tenang. Dan tidak kita temui dalam pendidikan mereka kata tidak, jangan, atau larangan terhadap anak-anak mereka. Dengan dalih bisa menghambat kreativitas. Dan bukan hal yang aneh bagi mereka yang tidak mengenal aturan Sang Pencipta. Semua serba boleh, serba bebas karena memang kebebasan diagungkan.

     Dalam Islam, seperti kita ketahui jika anak melakukan perbuatan yang membahayakan diri dan sekitarnya atau melakukan tindakan yang melanggar aturan Sang Pencipta, maka orangtua wajib melarang dan menjelaskannya. Bahwa kita diajarkan untuk taat, tunduk dan patuh dengan aturan Allah. Di manapun dan kapanpun, tidak terbatas ruang dan waktu.

     Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Bukan hanya mengatur urusan ibadah semata. Oleh karenanya seorang muslim pastinya paham bahwa segala aturan yang ditetapkan Allah bagi mereka adalah untuk ditaati. Dan merupakan wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya dalam menjalani kehidupan agar selamat di dunia dan akhirat bukan pengekangan.

     Terlihat jelas sekali kebencian mereka terhadap Islam. Pendidikan ketaatan dalam berpakaian disoal, dianggap pemaksaan dan berakibat negatif bagi perkembangan anak. Padahal berhijab adalah sebuah kewajiban bukti ketaatan kepada Allah. Sangat nampak islamofobia digencarkan kepada kaum muslim dari semua sisi. Setelah sebelumnya serangan, tuduhan miring bertubi-tubi diarahkan kepada Islam. Islam teroris,  radikal, intoleransi dan sebagainya. Dan jelas bahwa tujuannya adalah untuk membentuk opini negatif di tengah-tengah umat tentang Islam kafah. 

     Semua ini terjadi karena negeri ini  masih menerapkan aturan kapitalis sekuler dalam kehidupannya. Aturan yang memisahkan agama dari kehidupan dan menyerahkan kekuasaannya kepada para pemilik modal. Hingga mereka leluasa menyebarkan ajarannya. Padahal negeri kita tercinta Indonesia adalah negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Seharusnya kita bangga dan mulia dengan agama ini. Dan sudah semestinya tugas negara untuk melindungi rakyatnya dari segala marabahaya termasuk para pembenci Islam. Agar tidak ada lagi musuh-musuh Islam yang selalu menyerang, menista agama ini. Semuanya hanya bisa terwujud saat negeri ini menerapkan seluruh aturan Islam secara kafah dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya. Dan dengannya maka Allah akan menurunkan keberkahan dan rahmat-Nya untuk seluruh alam. Insyaallah.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top