Oleh : Yanti Mursidah Lubis

Ibu Rumah Tangga


Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh(PJJ) atau Daring (dalam jaringan) sampai saat ini masih banyak menemui kendala, di daerah-daerah terpencil masih banyak ditemukan para siswa yang tidak memiliki smartphone. Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda melihat faktanya di satu sisi, pandemi Covid-19 masih merajalela, di sisi lain kegiatan belajar harus tetap berjalan. Syaiful mengatakan, hanya perlu satu kurikulum yaitu kurikulum darurat. Intinya, Semua guru dan sekolah, tidak boleh dipaksakan untuk memenuhi standar, seperti pada saat dalam kondisi normal. Sehingga baik sekolah maupun siswa tidak boleh dipaksakan. Selanjutnya, mengenai program subsidi kuota. Dimana, saat ini sudah ada 21 juta siswa dari 45 juta siswa, yang sudah menyetorkan nomor handphone untuk subsidi pulsa. Artinya, setengah siswa tidak bisa mengikuti PJJ.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) terpaksa diterapkan oleh Kemendikbud sebagai upaya percepatan penanganan wabah Covid-19 dalam dunia pendidikan. PJJ dinilai sebagai solusi yang tepat untuk tetap menjalankan proses pendidikan di tengah pandemi. Sebab, ketika wabah melanda hanya ada dua pilihan, melakukan pembelajaran jarak jauh meskipun tidak terlalu optimal atau tidak melaksanakan pembelajaran sama sekali. Namun, tidak bisa dipungkiri PJJ yang diterapkan pada peserta didik di Indonesia mengalami banyak tantangan dan hambatan. Mulai dari keterbatasan fasilitas, sulitnya jaringan internet di beberapa daerah, beban pembelian pulsa kuota internet, keefektifan pembelajaran yang mulai dipertanyakan, hingga dampak psikologis pelajar jika PJJ dilaksanakan dalam jangka panjang. Oleh karenanya, PJJ saat ini mendapat perspektif yang kurang positif dari masyarakat, baik kalangan pelajar, pendidik, bahkan pihak sekolah. 

Kelemahan Sistem Demokrasi Kapitalis

Perubahan kurikulum yang sudah menjadi ritual dalam sistem pendidikan Indonesia ini, sebenarnya membuktikan sistem pendidikan produk sistem pemerintahan demokrasi kapitalisme memang penuh kelemahan. Belum tuntas implementasi kurikulum sudah harus diganti dengan kurikulum yang baru yaitu kurikulum darurat. Inilah konsekuensi menerapkan sistem yang terlahir dari akal manusia semata. Sistem yang memisahkan aturan Sang Pencipta dalam kehidupan, termasuk dalam ranah pendidikan. Akibatnya generasi pun akan menjadi korban. Perubahan kurikulum demi kurikulum tidak akan menghasilkan solusi tuntas bagi nasib generasi. Ketika banyak orang yang menginginkan perubahan atas kondisi pendidikan hari ini, sesungguhnya solusi terbaik hari ini adalah solusi islami. Dulu, peradaban Islam menjadi mercusuar untuk bangsa-bangsa lain selama lebih dari seribu tahun. Daulah Islam mengeluarkan putra-putri yang menjadi pionir dan pemimpin dalam berbagai bidang semisal matematika, kesehatan, fikih, dan ilmu astronomi. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top