Oleh : Sulastri

(Pemerhati Umat)

 

Telah banyak yang dilakukan penguasa negeri ini untuk menghilangkan, bahkan hanya sekadar mengurangi pergerakan wabah corona yang sudah kurang lebih tujuh bulan melanda negeri ini. Namun, bukan semakin berkurang, wabah malah semakin tak terkendali. Hal ini tentu saja membuat segenap anak bangsa turut untuk memikirkan dan tidak tinggal diam mencari solusi yang terbaik untuk menghadapi masalah tersebut.  

Presiden Joko Widodo mengajak selaku pimpinan di negeri ini pun meminta masyarakat untuk saling membantu antar sesama di tengah pandemi Covid-19 yang turut berdampak pada perekonomian.

Bagi umat muslim, Jokowi mengajak untuk memperbanyak infak dan sedekah di masa pandemi ini. Hal tersebut disampaikan Jokowi saat membuka Muktamar IV Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) secara virtual. (KOMPAS.com, 26/9/2020)

"Kita juga tidak boleh melupakan istighfar, zikir, taubat kepada Allah Swt. dan memperbanyak infak dan sedekah," kata Jokowi yang memberi sambutan dari Istana Kepresidenan Bogor.

"Karena banyak saudara-saudara kita yang memang perlu dibantu di tengah kesulitan yang mereka hadapi," sambungnya.

Jokowi menyebut, pandemi Covid-19 telah menyebabkan perlambatan ekonomi dunia. Pertumbuhan seluruh negara yang biasanya di angka positif kini terkontraksi secara tajam. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga minus 5,32 persen. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Namun, kepala negara mengajak masyarakat untuk tidak menyerah dengan keadaan.

Dalam menghadapi musibah, kita memang dianjurkan untuk bertaubat dan rida terhadap ketentuan apa pun yang Allah tetapkan untuk kita. Seperti halnya dalam pandemi hari ini. Seharusnya menjadikan kita banyak introspeksi diri. Karena bisa jadi musibah yang terjadi saat ini disebabkan dosa-dosa kesalahan kita.

Di dalam Islam diajarkan untuk memperbanyak taubat untuk mengatasi wabah. Karena hal tersebut sebagai bagian dari ketaatan total kepada Allah. Namun, di samping taubat yang harus dijalankan, wajib pula menjalankan seluruh perintah syariat-Nya.

Taubat maknanya adalah penyesalan terhadap suatu perbuatan dosa yang sudah dilakukan, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Pun salah satu perbuatan dosa adalah ketika tidak menjalankan perintah Allah secara kafah (total) baik dalam kehidupan pribadi, masyarakat ataupun negara.

Dalam masalah pandemi, seharusnya benar-benar bisa membuat renungan dan muhasabah untuk kita. Bahwa, solusi tepatnya bukanlah taubat secara individu saja, karena hal tersebut sudah merupakan tanggung jawab masing masing individu. Namun, lebih kepada taubat secara total yakni dengan memantapkan hati untuk segera melaksanakan seluruh syariah-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Karena ketika kita mencampakkan syariah-Nya, maka akan banyak kerusakan yang terjadi. Lihat saja apa yang terjadi hari ini, mulai dari kemiskinan melanda, kriminalitas meningkat, penganguran di mana-mana, ekonomi semakin sulit, koruptor menjamur dan masih banyak lagi hal buruk yang menimpa negeri ini.

Dengan menerapkan syariah Islam secara sempurna dalam kehidupan, merupakan bentuk ketaatan kita sebagai hamba Allah, "Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya," (QS. al-A'raf : 96)

Maka, bukan hanya dari sisi keimanan saja taubat itu dilaksanakan, akan tetapi mencakup seluruh hal seperti apa yang pernah di ajarkan oleh Rasulullah, para sahabat dan para khalifah dengan ilmu dan ketegasan beliau ketika menghadapi wabah. Karena memang Islam memiliki konsep yang unik dan seperangkat aturan dalam menghadapi situasi wabah, baik pencegahan maupun pengobatan.

Ibnu hajar menceritakan kisah di dalam Fathu al bari bahwa Umar ra. keluar ke Syam. Ketika tiba di daerah Syargh, sampai kepadanya bahwa wabah terjadi di Syam. Lalu Abdurrahman bin Auf memberitahukannya bahwa Rasulullah bersabda, "Apabila kamu mendengar wabah terjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu terjangkit di tempat kamu berada maka janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri." (HR. al-Bukhari)

Pada saat itu Khalifah Umar benar-benar bersikap tegas dan tidak mentolerir siapapun untuk mendatangi daerah wabah, begitu pun sebaliknya orang-orang yang berasal dari daerah wabah ditutup aksesnya keluar demi menjaga agar wabah tidak tersebar luas. Untuk mencukupi kebutuhan pokok masyarakat, Negaralah yang mencukupinya. Dalam hal ini khalifah memaksimalkan pengelolaan kekayaan alam.

Pada masa paceklik dan kelaparan,  Amirul Mukminin Umar juga segera membagi-bagikan makanan dan uang dari baitul mal hingga gudang makanan dan baitul mal kosong total. Kemudian Khalifah Umar mengirimkan surat kepada dua Gubernur  untuk memberikan bantuan kepada wilayah yang sedang mengalami paceklik dan kelaparan. Bantuan pun datang hingga terpenuhi kebutuhan rakyat dan terbebas dari kelaparan. Hal tersebut mudah saja terjadi, karena dalam Islam tidak mengenal sekat negara. Sehingga negara yang kondisinya stabil dapat memberikan bantuannya kapada wilayah yang terkena paceklik.

Oleh karena itu, taubat yang dilakukan secara totalitas, dan bukan hanya dilakukan ketika ada musibah saja, namun benar benar dilaksanakan oleh segenap elemen masyarakat utamanya para pemimpin negeri, akan mampu mengurangi bahkan menghentikan wabah yang sedang melanda negeri ini. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top