Oleh : Emmy Rina Subki

 Buku karya dai kondang ustadz Felix  Y Siauw baru-baru ini viral. Pasalnya, buku yang berjudul Muhammad Al- Fatih 1453 yang  sebelumnya disetujui  untuk menjadi bahan bacaan dan rangkuman oleh disdik babel, belakangan di cekal alias di persekusi dengan alasan adanya sebuah keteledoran atas kebijakan ini. Mereka membatalkannya karena ada sejumlah pihak yang memprotes kebijakan ini, terutama dari pihak PWNU dan politikus PDIP.   Felix  Y Siauw adalah pengarang buku ini,  beliau aktif berdakwah bersama salah satu ormas Islam yang keberadaannya telah dipersekusi secara sepihak , sehingga BHP ormas tersebut  dicabut. 

Padahal keterikatan ustadz Felix Siauw sendiri dengan ormas tersebut  bukanlah suatu kesalahan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Karena beliau mendakwahkan syariah dan khilafah yang  merupakan kewajiban dan merupakan  ajaran Islam.  Sungguh ironis, ketua PWNU Bangka Belitung, KH Jaafar Siddiq mengkritisi tindakan kepala Dinas  Pendidikan propinsi Bangka Belitung atas surat edaran yang mewajibkan peserta didik SMA/SMK sederajat untuk membaca dan merangkum buku Muhammad Al Fatih 1453 tersebut. Beliau tidak setuju atas ide khilafah di dalam buku tersebut. "yang kita kritisi adalah  kenapa harus karangan Felix Siauw, karena di dalam buku Muhammad al-Fatih ada pengiringan terkait tentang khilafah. Hal itu disampaikan sendiri oleh felix siauw pada halaman 314,’’ ujar beliau. (bangkapos.com, 2/10/2020). 

Hal ini menunjukan kedangkalan berfikir yang tidak memahami bahwa khilafah adalah ajaran Islam, dan janji Allah. Kebijakan ini tidak beralasan, bagaimana tidak, di dalam buku itu yang mengungkapkan fakta dan  sejarah atas kegemilangan anak muda Islam yang usianya masih tergolong muda mampu memimpin pasukan kaum muslimin menaklukan Konstatinofel. Hal ini karena beliau percaya dengan bisyarah Rasullullah Saw, sehingga beliau berjuang dan berkorban sekuat tenaga untuk mewujudkannya.Jadi mengapa buku ini harus ditakuti? Generasi seperti apa yang sesunggunya di inginkan?.

Apakah kita tidak menginginkan anak muda seperti pejuang-pejuang Islam terdahulu yang layak di contoh. Lalu mengapa buku ini di halau? Apakah hanya sentimen saja karena pengarangnya simpatisan HTI? Padahal buku ini di jamin akan menumbuhkan semangat anak muda  yang akan meyakini bahwa Islam layak bangkit. Bukankah semangat anak muda dan bangkitnya pemikiran mereka itulah yang kita impikan? Bukan seperti anak muda sekarang, yang seperti tidak mempunyai semangat dalam hidup. 

Pemuda yang teracuni dengan ide liberal, sehingga anak muda dijauhkan dari aturan agama mereka. Bahkan cenderung mengarah pada pemikiran yang sesat. Dengan ide Islam moderat maupun komunis yang meninabobokan dengan silaunya kehidupan dunia. Buku maupun tontonan hanya mengikuti tren anak muda yang menyesatkan. Sibuk dengan drama Korea, sibuk dengan kebebasan berekspresi, sehingga banyak penyimpangan di dalamnya. Pergaulannya  bebas yang menghancurkan masa depan mereka. Tanpa disadari bahwa mereka terjajah baik secara pemikiran maupun akidah yang lurus. Ini menunjukan keberhasilan Barat dengan islamofobia.

Politikus PDIP yang melayangkan protes terhadap kebijakan diatas, ini patut di duga justru mempertontonkan kebutaan mereka akan sejarah kegemilangngan Islam yang pernah memimpin dunia dalam sistem khilafah islamiyah.  Sistem yang sudah terbukti  bisa mencetak generasi terbaik sepanjang sejarah. Sungguh  Al- Qur'an telah mengingatkan dalam  surat Ali Imran ayat: 118 yang artinya ‘’wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu [seagama] sebagai teman kepercayaanmu, [karena] mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu .mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat [kami], jika kamu mengerti’’. 

Hari ini kebencian musuh-musuh Islam tampak semakin nyata. Mereka jelas tidak  mau jika anak muda bangkit dengan pemikiran Islam. Untuk menghadang kebangkitan tersebut, di tebarkan racun pemikiran sekuler. Keadaan ini tentu berbanding terbalik  pada masa kejayaan Islam. Para pemuda di didik untuk memaksimalkan pemuda yang cerdas dan bersyakhsiyah Islam. Mereka  dibekali dengan akidah yang kokoh sehingga mampu menjadi generasi  beriman yang layak dijadikan pemimpin serta mampu mensyiarkan kemuliaan Islam.

 Sudah saatnya kita kembali ke sistem yang benar, untuk menyelamatkan generasi muda kita dengan menerapkan Islam kafah di bawah naungan khilafah yang pimpin oleh seorang khalifah. Sistem yang akan melahirkan generasi Islam yang kuat,  cerdas, dan takut kepada Tuhan-nya.

Wallahu a'lam bisshawab.

 
Top