Oleh : Ummu Naufal

Manajer Tumah Tangga dan Praktisi Pendidikan


Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Permisalan ulama di muka bumi seperti   bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia mendapatkan petunjuk." (HR Ahmad)


Demikianlah gambaran kedudukan Ulama merupakan sosok yang Allah Swt.  muliakan. Maka sudah sepantasnya kaum Muslim memuliakannya,  melindunginya  dan menjaganya. Kita dilarang untuk  memperolok-olok apalagi menyakiti mereka. 


Namun sayang, yang terjadi saat ini khususnya di  Tanah Air, telah terjadi kesekian kali serangan terhadap ulama dan tokoh Islam. Terutama ditujukan kepada ulama dan tokoh Islam yang giat melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Bukan saja diolok-olok, bahkan nyawa mereka sampai terancam.


Maraknya ancaman terhadap para ulama dan tokoh Islam adalah sebuah ironi. Pasalnya, kita hidup di negeri berpenduduk mayoritas Muslim. Pelecehan tersebut misalnya, baru-baru ini seorang elit parpol menghina keberadaan MUI. Kata-kata yang keluar dari mulut-mulut mereka terhadap para ulama jauh berbeda dengan predikat yang Allah Swt. berikan.


Perlu diingat kedudukan Ulama dalam timbangan agama adalah sosok yang istimewa. 

Pertama: Para ulama dinaikkan derajatnya oleh Allah Swt. beberapa tingkat di atas manusia, firman Allah Swt.

"Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (TQS. al-Mujadilah)


Kedua: Para ulama disebut oleh Rasulullah Saw sebagai pewaris para nabi. Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak." (HR. Tirmidzi).


Mengapa di dalam hadis ini disebut kata pewaris? Tidak menggunakan istilah yang lain?

Imam al-Munawi mengatakan, Karena warisan itu berpindah kepada manusia yang paling dekat. Sosok manusia yang paling dekat dengan para nabi dalam urusan agama adalah para ulama yang berpaling dari dunia, menghadap akhirat dan kedudukan mereka terhadap umat adalah sebagai pengganti dari para nabi. 


Ketiga: Demikian besar derajat para ulama, Allah Swt berkenan memberi mereka kesempatan

untuk memberikan syafaat pada Hari Kiamat. Rasulullah saw. bersabda

Akan memberi syafaat pada Hari Kiamat tiga golongan: para nabi, ulama, lalu para syuhada. (HR Ibnu Majah)


Keempat: karena keberadaan para ulama pula agama ini terpelihara dan umat akan terjaga dari berbagai kesesatan. Jika para ulama telah tiada, ilmu akan lenyap dan umat pun akan mudah tergelincir dalam kesesatan. Rasulullah saw. bersabda:

Sungguh Allah Swt. tidak mencabut ilmu dengan mencabut ilmu itu dari manusia. Namun, Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. (HR al-Bukhari)


Demikian vital kehadiran dan peran ulama, kematian mereka adalah musibah berat bagi umat Berpulangnya mereka tak bisa digantikan dengan mudah, bahkan oleh ribuan ahli ibadah sekalipun.  Dalam mukadimah Kifayah al-Akhyar, dituliskan perkataan Umar bin al-Khaththab ra., “Kematian seribu ahli ibadah yang senantiasa bangun malam untuk shalat dan berpuasa pada siang hari lebih ringan dari kematian satu orang alim yang mengetahui apa yang Allah halalkan dan apa yang Diaharamkan.


”Inilah derajat agung yang hanya dimiliki para ulama. Tentu yang dimaksud dengan para ulama di sini bukan sekadar orang yang berilmu namun lancang kepada Allah Swt., memutarbalikkan hukum-hukum-Nya dan bersekutu dengan kezaliman. Para ulama sejati ini disebut sebagai ulama akhirat. 


Di sisi lain ada yang dinamakan ulama dunia. Ibn al-Jauzi dalam Shaid al-Khatir menyebutkan, “Perbedaan antara ulama dunia dan ulama akhirat adalah  ulama dunia haus kekuasaan di dalam dunia dan suka mendapatkan harta plus gila pujian. Sebaliknya, ulama akhirat tidak mendahulukan itu semua. Mereka sangat takut dan sangat menyayangi siapa saja yang diuji oleh dunia.


Karena itu para ulama yang memiliki rasa takut kepada Allah Swt., giat amar maruf nahi mungkar, berjuang untuk menegakkan agama-Nya wajib untuk diikuti dan pantang untuk dimusuhi apalagi dikriminalisasi. Dalam hadis qudsi Allah Swt. berfirman:

“Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku telah mengumumkan perang kepada dirinya.” (HR al-Bukhari)


Begitu keras ancaman Allah SWT dan Rasul-Nya terhadap orang-orang yang memfitnah, memusuhi termasuk mengkriminalisasi para ulama dan pejuang Islam. Apalagi jika tindakan mereka disertai dengan pelecehan dan penistaan terhadap ajaran Islam.


Alhasil,  sudah sepatutnya kaum Muslim bersatu membela para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang mukhlis dan tegar menegakkan kalimatullah. 


Umat wajib melindungi dan membela mereka. Tidak memandang ormas atau kelompok manapun. Selama ia istiqamah dan ikhlas memperjuangkan agama Allah, sudah menjadi tanggung jawab umat untuk membela dan melindungi mereka.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

 
Top