Oleh : Dr. Hj. Septimar Prihatini, M.Pd
(Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Keumatan)

Belum selesai rangkaian panjang kasus-kasus penghinaan terhadap ulama hingga beberapa aksi intimidasi.  Kini kembali publik di kejutkan dengan aksi penikaman kepada seorang ulama.

Penikaman terhadap Syekh Ali Jaber seorang ulama hanif yang tengah memberikan ceramah di Kota Bandar Lampung pada tanggal 13 September 2020 Ahad lalu.  Sangat memprihatinkan, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba dalam suasana  pengajian sang ustadz dihadang oleh aksi tikaman yang disyinyalir sebagai tikaman nekat.

Benarkah tikaman ini tanpa sebab??, tentu tidak mudah untuk dipercaya.  Saat kejadian banyak pasangan mata yang menyaksikan.  Selain diduga sebagai penikam nekad, pria dengan postur lengkap dan bertubuh normal bak anak muda ini sempat diduga gila.  Barangkali bisa dianggap selesai perkara karena tidak ada urusan kalau berhadapan dengan orang gila.

Hanya saja pertanyaannya apa benar yang bersangkutan gila?, sementara tentunya publik bisa membedakan antara orang gila dan orang waras.  Akal sehat manapun akan bisa menangkap pesan kejadian ini sebagai kasus yang irasional.  Sangat tidak masuk akal, dari beberapa sumber berita menjelaskan betapa rapihnya prosedur aksi pelaku, mulai dari duduk di tengah-tengah jamaah sebagai peserta, tiba-tiba bergerak ke depan menyasar sang Ustadz yang tengah berceramah.  Awalnya tikaman ditujukan di dada, namun dengan gerakan menghindar tusukan mengenai lengan kanan.

Pemuda gagah dan sehat bernama Alfin Andrian sebagai pelaku penusukan rupanya bukan pemuda bodoh yang tidak tahu apa-apa, petualangannya di dunia medsos yang memiliki IG, bermain HP dan hidup layaknya orang normal, bagaimana bisa  diklaim sebagai orang gila.  Tentu membuat publik tak habis pikir dan tambah penasaran.  Inikah era hidup di penghujung zaman, sudah tampak kejadian-kejadian sebagai fitnah dunia.

Sekalipun tepat sikap seorang ulama hanif dalam menghadapi musibah yang menimpa dirinya.  Dengan iman serta penuh keyakinan kejadian tersebut adalah takdir Allah atasnya karena tidak akan menimpa suatu apapun kecuali atas izin Allah.  Benar, kejadian yang menimpa dan terluka di tangan beliaupun sudah ketetapan dari Allah.  Secara pribadi tepatlah sikap bagi seorang muslim yang shalih.  Namum apakah sang pelaku akan dibiarkan begitu saja?, dengan pembenaran sebagai orang gila? tentu tidak semudah itu.

Sebagai negara hukum mestilah mengusut tuntas dan menegakan sangsi setimpal kepada pelaku ataupun pihak lain jika ada dibalik kasus ini.  Secara logis tentulah berbeda jika seseorang yang dinyatakan gila.  Perbedaan orang gila dan orang waras itu pada akalnya. Orang gila rusak akalnya sehingga tidak mampu menggunakannya sebagai media berfikir dan bersikap rasional. Sehingga dia tidak memiliki alat pengendali dalam tindakan, berpenampilan kucel, baju compang camping, berjalan tanpa arah, bahkan sering mengais makanan dari tong sampah.  Coba perhatikan orang gila yang sering ditemukan di pinggir jalan nyaris tidak mengganggu.  Dia sibuk dengan kehidupan sendiri.  Sangat berbeda bukan?, dengan sosok Alfin si pelaku  penusukan.  Publik  bisa cerdas menilai.

Kasus berulang seperti ini sudah seharusnya diatasi dan dihentikan.  Bukan pertama kali kejadian serupa seperti sebuah skenario yang direncanakan terhadap ulama menjadi fakta yang biasa.  Ada apa dengan para ulama?, dan lebih ironis lagi ditujukan menimpa ulama-ulama yang dekat di hati umat.  Dan kejadian di tempat-tempat umat Islam harusnya merasa nyaman dan aman.  Sebelumnya juga kejadian menimpa M Arif, ketua imam Masjid Nurul Iman kelurahan Tanjung Rancing Kecamatan Kayuagung menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Muhammad Husein Kota Palembang.   Setelah dua hari sebelumnya menjadi korban pembacokan saat sedang menunaikan ibadah magrib (tribunnews.com 14/09/2020).

Ulama shaleh yang komitmen terhadap dien-Nya adalah pewaris nabi  (waratsatul anbiya).
Mereka bagaikan lentera yang dapat menerangi pemikiran umat. Mengeluarkan umat dari kegelapan, kejahilan serta membebaskan dari segala keyakinan yang merusak menuju penghambaan manusia kepada Allah Azza Wajalla.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda :
"Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, berarti dia telah mengambil bagian yang sempurna (HR.At- Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Para ulama akan mengeluarkan pemikiran umat dari sistem rusak Sekulerisme Kapitalisme yang saat ini telah menjauhkan manusia  dari aturan Allah Swt.  Merekalah yang mampu menjaga umat dari upaya bermurtadan melalui faham komunisme, yang secara terang-terangan mencoba memaksakan diri marasuk  dalam tubuh kaum muslimiin.  Untuk itu ulama dan para ustadz adalah aset dakwah yg hrs dijaga.  Umat harus menjaga dan melindungi  mereka dari berbagai ancaman ataupun atas keamanannya.  Di saat jaminan serta perangkat hukum saat  ini tidak memberikan perlindungan kepada para ulama dan pengemban dakwah.

Ironis, para ulama dan umat akan jauh dari perlindungan selama sistem Kapitalis menjadi acuan mengatur kehidupan ini.  Kesadaran yang harus dibangun ditengah tengah umat adalah betapa pentingnya sistem Islam yang agung untuk dikembalikan ke pangkuan umat.  Sistem yang mampu melindungi rakyat secara adil bahkan memuliakan para ulama dalam mengingatkan rakyat dan para penguasa agar tetap selamat dunia akhirat. 

Saatnya umat Islam kembali menorehkan tinta emas kegemilangan Islam dengan berserah diri pada Allah azza wa jalla.  Melindungi dan memuliakan para ulama yang berjuang di garda terdepan menyongsong kembalinya kejayaan Islam.
 
Top