Oleh : Rahmi Ummu Atsilah
(Praktisi Pendidikan dan pengamat sosial)

Patut disyukuri, bahwa akhir-akhir ini khilafah sudah menjadi perbincangan umum dan dikenal khalayak ramai. Bahkan, mulai mendapatkan tempat di hati kaum muslimin. Utamanya mereka yang sudah jenuh dengan keadaan yang ada. Yaitu, gagalnya sistem kapitalisme sekuler membawa masyarakat ke dalam kemakmuran dan kesejahteraan.
Hasrat menuju kehidupan yang lebih baik membuncah seiring dengan bangkitnya kesadaran untuk hijrah kembali kepada Islam. Islam pandangan hidup sempurna yang mampu mengentas peradaban jahiliyah menuju peradaban yang agung dan gemilang. Kalimah Tauhid Laa ilaha illallah menjadi landasannya, aturan sempurna sesuai fitrah manusia terpancar darinya. Diturunkan oleh Sang Pencipta untuk mengangkat manusia menuju derajat yang mulia. Dia Allah SWT. yang paling mengerti makhluk-Nya, demikian halnya manusia. Zat yang mengetahui apa yang terbaik dan apa yang mendatangkan binasa. Oleh karena itu mengambil Islam sebagai jalan hidup adalah sebuah keharusan dan kebutuhan. Supaya kehidupan terang oleh cahaya petunjuk dan tidak tersesatkan oleh rusaknya zaman.

Akan tetapi, indahnya Islam sebagai  sebuah ideologi tak mungkin dapat dirasakan, apabila tidak ada institusi negara yang menerapkan. Imam al-Ghazali mengatakan agama dan kekuasaan seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dalam fase perjalanan hidupnya, beliau tidak meninggalkan nasihat-nasihatnya kepada khalifah sang pemimpin kekuasaan. Dari usahanya tersebut, terlihat bahwa memang negara yang ideal adalah negara yang orang-orangnya beraqidah Islam yang kuat, sehingga negara diurus dengan parameter syariat. Ibarat syariat Islam adalah air maka Daulah Islam atau khilafah adalah wadah yang mampu membuat air tersebut bermanfaat dalam kehidupan.

Namun, beragam kiranya orang memaknai khilafah. Ada yang menyerupakan dengan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), ada yang menyamakan dengan Uni Eropa dengan satu jenis mata uang saja. Ada yang mengatakan cukup dengan memberdayakan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk menyatukan. Ataukah yang seperti Negara Islam di Irak dan Suriah atau Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Apa dan bagaimana sebenarnya khilafah yang dimaksud oleh syariat?

Definisi Khilafah merupakan mashdar  dari fi’il madhi khalafa berarti menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984: 390). Khilafah adalah orang yang datang setelah orang lain dan menggantikan tempatnya (jâ’a ba‘dahu fa shâra makânah). (Ibrahim Anis 1972, Al-Mu‘jam Al-Wâsith, I/251). Dalam kitab Mu‘jam Maqâyis al-Lughah (II/210) dinyatakan,  khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. Menurut Imam Ath-Thabari, makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthân al-a‘zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah, karena dia menggantikan penguasa sebelumnya, lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari, I/199).
Dalam pengertian syariat, khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi saw. dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islâmiyyah) (Al-Baghdadi, 1995: 20). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, istilah khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi, 1980: 226). Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fikih siyâsah ketika mereka berbicara tentang khilâfah atau imâmah. Para ulama salaf telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik, yaitu istilah khilafah/imamah atau istilah dâr al-Islâm (Lihat Dr. Sulaiman Ath-Thamawi, As-Sulthat ats-Tsalats, hlm. 245; Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islâmi wa Adillatuh, IX/823).
Nash-nash syariat khususnya hadis-hadis Nabi saw., telah menggunakan istilah khalifah dan imam yang masih satu akar kata dengan kata khilafah/imamah. Imam al-Bukhari dalam Shahîh-nya telah mengumpulkan hadis-hadis tentang Khilafah dalam Kitab Al-Ahkâm.  Imam Muslim dalam Shahîh-nya telah mengumpulkannya dalam Kitab Al-Imârah (Ali Belhaj, 1991: 15). Dengan demikian istilah Khilafah merupakan istilah syar’i yang definisinya harus digali dari nash.

Dengan menelaah nash-nash al-Quran dan hadis, akan kita jumpai bahwa definisi Khilafah dapat dicari rujukannya pada 2 (dua) kelompok nash, yaitu:

Kelompok Pertama, nash-nash yang menerangkan hakikat Khilafah sebagai sebuah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia misalnya hadis berikut: Imam yang (memimpin) atas manusia adalah bagaikan seorang penggembala dan dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya). (Shahîh Muslim, XII/213; Sunan Abû Dâwud, no.  2928, III/342-343; Sunan at-Tirmidzî, no. 1705, IV/308. Ini menunjukkan bahwa Khilafah adalah sebuah kepemimpinan (ri‘âsah/qiyâdah/imârah). Adapun yang menunjukkan bahwa Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum Muslim di dunia, misalnya adalah hadis berikut: Jika dibaiat dua orang khalifah, bunuhlah yang terakhir dari keduanya. (Shahîh Muslim, no. 1853). Ini berarti, seluruh kaum Muslim di dunia hanya boleh dipimpin seorang khalifah saja, tak boleh lebih. Ini telah disepakati oleh empat imam mazhab: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad, rahimahumullâh (Lihat Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba‘ah, V/308; Muhammad ibn Abdurrahman ad-Dimasyqi, Rahmah al-Ummah fî Ikhtilâf al-A’immah, hlm. 208).

Kelompok kedua, nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah, yang secara lebih rinci terdiri dari dua tugas berikut:

Pertama, tugas khalifah menerapkan seluruh hukum syariah Islam atas seluruh rakyat. Hal ini tampak dalam berbagai nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mengatur muamalat dan urusan harta benda antara individu Muslim (QS al-Baqarah [2]: 188; QS an-Nisa’ [4]: 58), mengumpulkan dan membagikan zakat (QS at-Taubah [9]: 103), menegakkan hudud (QS al-Baqarah [2]: 179), menjaga akhlak (QS al-Isra’ [17]: 32) , menjamin masyarakat dapat menegakkan syiar-syiar Islam dan menjalankan berbagai ibadat (QS al-Hajj [22]:32), dan seterusnya.

Kedua, tugas khalifah mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia dengan jihad fi sabilillah. Hal ini tampak dalam banyak nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mempersiapkan pasukan perang untuk berjihad (QS al-Baqarah [2]: 216), menjaga perbatasan negara (QS al-Anfal [8]: 60), memantapkan hubungan dengan berbagai negara menurut asas yang dituntut oleh politik luar negeri, misalnya: mengadakan berbagai perjanjian perdagangan, perjanjian gencatan senjata, perjanjian bertetangga baik, dan semisalnya (QS al-Anfal [8]: 61; QS Muhammad [47]:35). Berdasarkan dua kelompok nash inilah, dapat dirumuskan definisi Khilafah secara lebih mendalam dan lebih tepat. Intinya,  Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim seluruhnya di dunia untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab-kitabnya, misalnya kitab Al-Khilâfah (hlm. 1), Muqaddimah ad-Dustûr (bab Khilafah hlm. 128), dan Asy-Syakshiyyah al-Islâmiyah (Juz II, hlm. 9). Menurut beliau juga, istilah khilafah dan imamah dalam hadis-hadis sahih maknanya sama saja menurut pengertian syariat (madlûl syar‘î). Definisi inilah yang selayaknya diambil dan diperjuangkan agar terealisasi di muka bumi. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.
 
Top