Oleh : Verawati, S.Pd

(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Opini Islam)


''Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.'' (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas, merupakan gambaran bahwa posisi umat Islam adalah satu, tidak bisa dipisah-pisahkan satu dengan yang lainnya. Adapun pengikatnya adalah akidah atau kalimat tauhid. Bagaikan tubuh, apabila ada satu anggota tubuh yang terluka, maka tubuh yang lain akan merasakan sakit atau demam. Begitu pula dengan umat Islam, bila ada salah satu umat muslim yang terluka atau teraniaya, sejatinya muslim yang lain akan turut berduka dan merasakan sakit dan sedih. Seperti yang terjadi baru-baru ini, beberapa ulama mengalami penyerangan, yaitu menimpa Syekh Ali Jaber pada minggu 13 September 2020 di Daerah Lampung. Peristiwa ini terjadi saat Syekh tengah memberikan ceramah pada acara wisuda tahfizh.  

Perisistiwa tersebut menambah daftar panjang penyerangan terhadap ulama di tanah air.  Selain diserang secara fisik, mereka juga banyak yang dipersekusi, dibubarkan saat akan mengisi acara, dipenjara dan bahkan hingga nyawa melayang. Sungguh, dalam kondisi seperti ini, umat muslim tidak boleh berdiam diri, harus merasa sakit seraya berupaya untuk bangkit dari keterpurukan ini. Sebab yang disakiti adalah ulama, yang oleh nabi disebut warotsatul anbiya (pewaris para nabi). Mereka adalah sosok yang dekat dengan para nabi dari sisi ilmu dan sikap serta rasa takut mereka kepada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt. :

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir : 28)

Para ulama adalah mereka yang melakukan amar makruf nahi mungkar. Memberikan petunjuk dan pencerahan serta yang berani mengingatkan penguasa. Ulama seperti inilah yang menjaga agar Islam tetap istiqamah di muka bumi. Tiidak ditukar dengan uang dan jabatan. Seperti yang dikatakan oleh salah satu ulama al-azhar, “Sungguh orang yang kakinya menjulur tidak akan menjulurkan tangannya”. Mereka hanya menyampaikan kebenaran dan takut kepada Allah semata.

Dengan posisinya yang mulia tersebut, seharusnya ulama mendapatkan tempat dan perlindungan dalam aktivitasnya. Akan tetapi di alam demokrasi-kapitalisme saat ini, peran ulama justru diabaikan dan tidak dihargai bahkan cenderung dibenci. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang aneh. Sebab Islam dan ulama tidak memiliki tempat di alam demokrasi-kapitalisme. Justru adanya kasus-kasus penyerangan terhadap ulama ini adalah sebuah indikasi tengah merebaknya wabah islamofobia, yakni takut dan benci terhadap Islam. 

Wabah ini digulirkan oleh Barat setelah terjadinya kasus WTC tahun 2001 silam. Dimana AS menggambarkan bahwa sosok pelakunya adalah Al-Qaeda. Sejak saat itu, penyematan nama terorisme terus diberikan pada Islam dan kaum muslim. Tak hanya itu, Islam diframing sebagai agama yang keras, fundamental, radikalisme dan lain sebagainya. Sehingga wabah islamofobia tersebut merebak hingga penjuru dunia termasuk Indonesia. Di negeri ini pun nampak jelas terlihat dengan adanya upaya pelarangan terhadap ide-ide Islam. Seperti pencabutan ijin BHP ormas Islam HTI, pelarangan cadar, penggantian materi khilafah dari pelajaran fiqih menjadi sejarah, dan lain sebagainya.

Apa yang mereka lakukan tidak lain adalah dalam rangka melenyapkan cahaya Islam, menghambat kebangkitan Islam dan tegaknya institusi khilafah. Akan tetapi, sungguh cahaya Islam tidak akan padam, sebagaimana tidak akan ada yang mampu memadamkan cahaya matahari dan rembulan. Hal ini sudah diingatkan oleh Allah Swt. dalam firmannya :

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. at-Taubah [9] : 32)

Umat dan Ulama Butuh Khilafah

Bagaikan ikan yang hidup di darat. Begitulah perumpamaan umat Islam saat ini yang hidup di alam demokrasi kapitalisme. Nasibnya tertindas dan terzalimi. Tidak hanya ajarannya yang dilecehkan bahkan ulamanya pun diserang dan disakiti. Berbeda halnya ketika Islam diterapkan secara kafah oleh sang khalifah. Khalifah akan melindungi dan menjaga Islam dan umatnya. Mendudukan pada posisinya yang mulia terlebih pada para ulama. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw. :

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. al-Bukhari)

Dalam hadis tersebut jelas bahwa para khalifah, sebagai para pemimpin yang diserahi wewenang untuk mengurus kemaslahatan rakyat, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. kelak pada hari kiamat, apakah mereka telah mengurusnya dengan baik atau tidak.

Sabda Nabi Muhammad yang lain, juga menguatkan keberadaan khalifah :

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Demikianlah peran penguasa (khalifah) di dalam Islam, perannya sebagai junnah sangat jelas. Fungsi junnah dari khalifah ini tampak ketika ada muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, Nabi saw. melindunginya, menyatakan perang kepada mereka, dan mereka pun diusir dari Madinah. Selama 10 tahun, tak kurang 79 kali peperangan dilakukan Rasulullah saw., demi menjadi junnah bagi Islam dan kaum muslim. Begitu pula yang dilakukan oleh para khulafaur rasyidin dan setelahnya, mereka menjalankan fungsinya dengan baik. 

Oleh karena itu, saatnya umat menyadari akan kondisi ini dan segera bangkit, berjuang bersama untuk mewujudkan tegaknya institusi Islam tersebut. Sehingga Islam sebagai rahmatan lil alamiin segera terwujud. Aamiin. 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 
Top