Oleh : Azizah Nur Hidayah

(Homeschooler dan Member Akademi Menulis Kreatif)


Pendakwah Syekh Mohammad Ali Jaber ditusuk orang tak dikenal saat berceramah di Masjid Falahuddin, Jalan Tamin, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Kota Bandar Lampung, Ahad (13/9) petang. Syekh Ali menderita luka tusuk di lengan kanan bagian atas. (republika, 14/09/2020)

Peristiwa yang terjadi sangat cepat tersebut mengejutkan tamu undangan yang menghadiri forum ceramah beliau. Peristiwa tersebut pun menarik perhatian publik secara cepat. Media sosial dan media elektronik ramai memberitakan peristiwa yang menimpa Syekh Ali Jaber ini. Bahkan berita penusukan beliau trending topic di berbagai media sosial.

Tetapi jika melihat fakta-fakta terdahulu, kasus penyerangan ulama’ dan tokoh agama Indonesia bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, telah terjadi berbagai kasus-kasus kriminalitas yang menimpa ulama’. Seperti peristiwa penyerangan terhadap KH. Hakam Mubarak pada bulan Februari tahun 2018. Peristiwa penyerangan terhadap KH. Hakam Mubarak terjadi lantaran beliau meminta pelaku untuk berpindah tempat karena duduk di depan gapura Masjid Al-Manar menjelang sholat dhuhur. Akan tetapi pelaku tak mau berpindah dan tiba-tiba menyerang pimpinan Ponpes Karangasem Muhammadiyah Paciran, Lamongan, Jatim, ini. 

Adapula peristiwa penusukan yang menimpa imam Masjid Al-Falah, Pekanbaru, Ustadz Yazid Nasution. Beliau ditusuk ketika sedang berdo’a setelah mendirikan sholat Isya’ berjamaah. Serta berbagai peristiwa-peristiwa penyerangan lain yang menimpa ulama’ dan tokoh agama di Indonesia.

Ulama’ Musuh Sekularisme

Peristiwa yang menimpa Syekh Ali Jaber maupun tokoh-tokoh agama lainnya, telah menyadarkan tidak adanya jaminan keamanan bagi ulama’ dalam sistem sekuler hari ini. Dalam sistem ini, para ulama’ dan pemuka agama dikriminalisasi, diteror, hingga mengalami kriminalitas. Sistem sekuler berhasil merenggut keamanan ulama’. Mereka tidak memberikan perlindungan dan keamanan kepada ulama’ sedikit pun.

Namun demikian, wajar bagi sekularisme bersikap seperti ini. Sebab dalam sistem sekuler, ulama’ merupakan musuh besar baginya. Sekularisme yang mengemban paham memisahkan agama dari kehidupan tentu tidak ingin keberadaan tokoh agama berada dalam lini kehidupan masyarakat. Sistem ini akan memusuhi siapa saja yang bertentangan dengan ide dan propaganda yang sedang digaungkan. Menjadi hal yang wajar bila kini tokoh-tokoh agama tidak dipedulikan bahkan dimusuhi.

Negara yang menjadikan sekuler sebagai asas bernegara akan membawa umat menuju kesengsaraan. Ketika suara ulama’ dibungkam, maka pada saat itu masa depan negeri menuju jurang kesuraman. Ketika tidak ada lagi aktivitas dakwah di tengah-tengah umat, di waktu yang sama umat kehilangan arah. Mereka tidak mengetahui mana yang benar dan yang salah. Inilah bukti bahwasanya sekularisme mengabaikan keamanan para penyampai kebenaran dan pembimbing umat menuju cahaya Islam.

Hilangnya Perisai Ulama’

Kegagalan negara sekuler memberikan jaminan keamanan bagi ulama’ sangat bertolak belakang dengan negara Islam (Daulah Islam). Di bawah naungan Daulah, keamanan, pendidikan, dan kesehatan merupakan kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi oleh negara. Daulah bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pokok tersebut. Daulah berkewajiban untuk melindungi dan memberi keamanan bagi rakyatnya, terutama bagi ulama’. Sebab ulama’ dimuliakan dengan ilmu dan kedudukannya sebagai lentera umat.

Kehadiran ulama’ merupakan lentera di tengah kegelapan bagi umat. Ulama’lah yang membimbing, mendidik, dan membina umat menuju jalan cahaya Islam. Tak salah bila ulama’ disebut sebagai pewaris para nabi. Sebab perannya di tengah-tengah umat sangatlah krusial dan merupakan kebutuhan. 

Namun sayangnya, 96 tahun yang lalu, Daulah Islam runtuh tak tersisa. Khilafah Utsmaniyyah yang merupakan Daulah Islam terakhir, runtuh tepat pada tanggal tiga Maret 1924 lalu. Umat muslim dan ulama’ kehilangan perisainya. Tak ada lagi yang dapat memberikan perlindungan, penjagaan, dan keamanan bagi ulama’. 

Padahal dulu, ketika Daulah Islam tegak, keamanan umat dijamin sepenuhnya. Daulah Islam memberikan keamanan dan penjagaan berupa diberlakukannya sistem sanksi (‘uqubat). Penegakan sistem sanksi oleh Daulah, fungsinya dibagi menjadi dua di dalam Islam.

Pertama, penegakan sistem sanksi berfungsi sebagai pencegah, atau zawajir. Dimana artinya, sanksi diberlakukan untuk mencegah segala bentuk kejahatan dan kekerasan di tengah-tengah umat. Kedua, sistem sanksi dalam Islam juga berfungsi sebagai penebus dosa, atau jawabir. Sanksi berupa jawabir disebut sebagai penebus dosa sebab dapat menebus sanksi di akhirat. Sanksi yang seharusnya diterima di akhirat akan gugur ketika ditebus di dunia dengan sanksi jawabir yang dijatuhkan oleh negara ini. 

Adapun penerapan hukum Islam oleh Daulah Islam tujuannya jelas dan terintegrasi. Penerapan hukum Islam akan memelihara lima komponen. Yaitu memelihara agama (hifdzud diin); memelihara jiwa (hifdzun nafs); memelihara keturunan (hifdzun nasl); memelihara harta (hifdzul maal); dan memelihara akal (hifdzul aql). Dengan diterapkannya seluruh hukum Islam ini, ulama’ serta umat seluruhnya akan terjaga jiwa dan muru’ahnya.

Namun, penerapan seluruh hukum Islam tersebut tidak dapat diterapkan dengan sempurna bila Daulah Islam, atau Khilafah, belum tegak. Karena hanya dalam Daulah Islam sajalah seluruh hukum dan syari’at Islam dapat diterapkan secara menyeluruh dan sempurna. Dengan kesempurnaan penerapan hukum dan syari’at Islam, akan terwujud keamanan dan ketentraman hidup bagi umat dan ulama’.

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top