Oleh : Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK

"Apa anda mengira khilafah Islamiyah akan benar-benar berdiri? Apa anda berpikir bahwa Amerika Serikat dan Israel akan membiarkan hal itu terjadi? Semua itu tidak mungkin terwujud dan lebih mirip khayalan daripada kenyataan."

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit dan meragukan bangkitnya kembali khilafah. Mereka akan berusaha mencari jalan untuk menghadang tegaknya khilafah.

Seperti yang hari ini terjadi. Rezim berusaha  membendung ide khilafah. Menurutnya, khilafah bukan ide yang dilarang, namun pelakunya dilarang jadi ASN. Mereka dicap radikal karena sudah dicecoki dengan Islam versi rezim melalui dai bersertifikat. Bahkan Rezim melalui Menag menuding bahwa orang yang berpenampilan menarik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang baik sebagai radikal. Majelis ulama pun angkat bicara terkait masalah ini.

"MUI minta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat Islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negara ini dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata," kata Wakil Ketua MUI Muhyidin Junaedi kepada wartawan detiknews, (4/9/2020).

Semua ini menegaskan bahwa kebijakan Kemenag makin ngawur dan Islamofobia sudah merasuki setiap denyut nadinya. Sebagai leading sector/penanganan radikalisme agama. Sikapnya semakin terlihat jelas menyerang Islam dan memojokkan pemeluk Islam yang taat syariah.

Sistem kapitalisme demokrasi, akan berusaha keras untuk menghadang kembalinya khilafah. Karena bangkitnya khilafah akan menenggelamkan peradaban ini ke jurang kegelapan yang terdalam. Kekuasaan mereka sebagai penguasa dunia akan berakhir.

Katakanlah kepada mereka, "Khilafah Islamiyah pasti akan segera kembali meskipun banyak kesulitan dan tantangan." Katakan pula kepada mereka, "Sesungguhnya tegaknya kembali Daulah Islamiyah adalah perkara yang tidak diragukan lagi. Sesungguhnya pertolongan Allah pasti datang."

Ini sesuai dengan prediksi Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat, NIC (National Inteligent Council) pada akhir tahun 2004, 16 tahun yang lalu. Mereka memprediksi pata tahun 2020 akan adanya sebuah negara Islam yang disebut dengan A New Caliphate (Kekhilafahan baru).

Wajar ketika mereka berupaya untuk menghadang tegaknya khilafah, atau paling tidak memperlambatnya. Tetapi yakinlah bagaimanapun keras upayanya, mereka tidak akan mampu menghalangi tegaknya khilafah sebagaimana mereka tidak mampu menghalangi terbitnya matahari dari arah timur. Karena khilafah adalah janji Allah Swt. dan bisyarahnya Rasulullah saw.

"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai. (TQS. At-Taubah [9]: 32)

Beberapa tanda berikut ini yang menguatkan bahwa khilafah akan segera kembali:

Pertama, khilafah bukan lagi sesuatu yang utofis, kini umat optimis bahwa khilafah akan hadir kembali.

Kedua, ide khilafah yang tadinya dianggap bukan ajaran Islam, tidak ada dalilnya, kini dalil-dalil akan kewajiban menegakkannya bertebaran di mana-mana. Ulama yang membahasnya juga tak terhitung jumlahnya.

Ketiga, ide khilafah yang tadinya dianggap tidak ada, kini mulai dilirik umat. Umat mulai melek sejarah, bahwa Nusantara pun tak lepas dari goresan tinta sejarah khilafah.

Keempat, ide khilafah yang tadinya diemban dan diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir, mayoritas gerakan Islam sepakat dan ikut memperjuangkan.

Kelima, umat Islam sepakat bahwa Al-Liwa dan Ar-Rayah sebagai bendera dan panji umat Islam.

Menjadi sebuah kewajiban bagi umat Islam untuk berjuang mempercepat tegaknya khilafah. Mari kita songsong kehadirannya dengan melibatkan diri dalam perjuangannya. Karena semerbak harumnya sudah mewangi di seantero dunia.

Wallahu a'lam  bishshawwab.
 
Top