Oleh : Wida Eliana
Ibu Rumah Tangga

Keberadaan pandemi menjadikan kondisi kehidupan buruk dan tidak menentu. Terutama di kalangan  menengah ke bawah. Mereka mau tidak mau harus bertahan hidup dalam situasi seperti ini. Di masa pandemi tidak sedikit karyawan/karyawati yang terkena PHK bahkan ada salah satu perusahaan yang mem-PHK masal karyawannya itu karena tidak sanggup menggaji mereka. Akibatnya pengangguran di mana-mana lapangan kerja pun sulit ditemukan.

Pandemi juga membawa berbagai dampak pada kehidupan manusia, bukan hanya dampak kesehatan, akan tetapi sebagian orang mengalami dampak buruk pada hubungan suami istri. Hal tersebut dapat dilihat dari angka perceraian yang naik berkali lipat, dari dua bulan terakhir saja yaitu Juli dan Agustus mengalami peningkatan. Pada bulan Juli angka perceraian mencapai 800-900 perkara, masuk pada bulan Agustus angka perkara sudah mencapai angka 1102 perkara. dilansir Bandungkita.Id dari Detik, Senin (24/8/2020).

Membludaknya jumlah persidangan menyebabkan antrian panjang hingga mengular sampai keluar, tidak jauh berbeda dengan mengantri pembagian sembako. Di masa pandemi saat ini angka perceraian di beberapa kota  meningkat tajam, angka perceraian terbanyak pertama adalah di kota Bandung, Jawa Barat. Beredar video antrian panjang di pengadilan Soreang yang didominasi oleh para istri. Banyaknya PHK kepada para suami yang membuat para istri tidak kuat menanggung biaya hidup. Di samping itu selain faktor ekonomi yang membuat ketegangan hubungan anggota keluarga berupa cekcok suami istri hingga berujung KDRT.

Ditambah dengan fakta miris, bahwa  PHK masal yang diberlakukan oleh sebagian perusahaan kecil maupun besar tidak disertai jaminan kebutuhan hidup untuk karyawannya. Pihak perusahaan hanya memberikan sebagian upah kerja, itu pun tidak sesuai dengan hak yang seharusnya diterima oleh karyawan yang di PHK. Dengan alasan perusahaan sedang mengalami kesulitan ekonomi akibat pandemi, sehingga mau tidak mau pengurangan karyawan terus dilakukan.

Di dalam sistem sekuler kapitalis saat ini rakyat kurang perhatian serta riayah (pengurusan) dari penguasa, sehingga banyak pasangan suami istri yang berpikiran pendek ketika menghadapi masalah, yakni bercerai. Sistem ini pula merusak tatanan hidup yang menghantarkan minimnya pengetahuan syariat Islam terkait hak dan tanggung jawab suami atau istri. Suami  semestinya mampu menjadi Qowam yang wajib membimbing dan menuntun istri dan anak-anaknya, memenuhi apa yang menjadi nafkahnya. Sedangkan istri  wajib siap berperan secara penuh sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.

Maka dari itu dibutuhkan ketahanan dalam rumah tangga untuk menguatkan keimanan masing-masing individu, meningkatkan pemahaman terhadap syariat Islam kepada masyarakat. Beriman kepada Allah harus mengimani pula pada sifat-sifat Allah, salah satunya Allah itu Ar-Razak (pemberi rejeki) meyakini bahwa Allah Sang Pemberi Rezeki kepada setiap umat manusia.

Allah Swt. berfirman :
"Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. al-Furqan:74)

Allah mengajarkan kita untuk berdoa dengan lafaz seperti di atas. Kita memohon diberi pasangan hidup dan keturunan yang menyejukkan mata atau menyenangkan hati. Yakni memohon pada Allah untuk menjadikan mereka penyebab kebahagiaan kita dengan taufik yang Allah berikan kepada mereka dalam menjalankan ketaatan.

Kemudian kita memohon kepada Allah, untuk menjadikan kita imam bagi orang-orang yang bertakwa. Yakni menjadikan kita sebagai suri tauladan dalam kebaikan. Ini membuktikan bahwa kepemimpinan dalam agama adalah bagian dari hal yang wajib kita harapkan, tapi bukan untuk berbangga diri. Kepemimpinan seperti ini hanya ada pada sistem Islam.

Apabila sistem kufur diganti dengan sistem Islam, maka akan terjadi keselarasan antara kejernihan berpikir umat ditambah dukungan negara, masyarakat hidup dalam negara yang berideologi Islam. Ideologi Islam tidak akan bisa diterapkan oleh negara yang berlaku sekarang ini. Karena, harus ada perubahan yang mendasar pada seluruh bidang kehidupan, termasuk di bidang ekonomi yang diterapkan saat ini yang bersumber dari ideologi kapitalisme.

Selain sebagai pendidik dalam keluarga, peran ayah beragam yaitu pencari nafkah. Dimana keseluruhan peran tersebut akan sulit terealisasi dengan sendirinya tanpa bantuan negara. Sebab semua tugas tersebut ada dan saling berkaitan di dalam sebuah sistem. Karenanya diperlukan penjagaan oleh negara agar terwujud secara optimal. Negara pula yang akan menjamin terpenuhinya atas setiap kebutuhan dasar individu dan kolektif masyarakat. Solusi ekonomi juga tatanan hidup berumah tangga yang diridai Allah seperti ini tentu hanya dapat dijalankan oleh negara yang menerapkan aturan Islam yang sempurna (kafah).

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top