Oleh: Rita Hartati,  S.  Hum
(Muslimah Peduli Generasi Palembang)

Tepat pada tanggal 7 september 2020, media sosial di kejutkan dengan adanya video rekaman seorang peserta lomba tafsir di Musabaqah Tilawatil Quran atau MTQ ke-37 tingkat Provinsi Sumatera Utara. Peserta tersebut  diminta membuka cadar atau langsung didiskualifikasi jika tidak membuka cadarnya.

Peserta bernomor 2735  diminta oleh salah satu juri untuk melepas cadarnya dengan alasan peraturan nasional sudah ditetapkan sejak MTQ tahun lalu di Pontianak. Video yg berdurasi 30 menit ini, menuai komentar dari warganet dan kebanyakan berupa reaksi kemarahan.

Walau esoknya ketua dewan Hakim Yusuf Rekso bersama ketua pelaksana memberikan keterangan tertulis bahwa tidak ada larangan menggunakan  cadar di MPQ 37 di Tebing Tinggi. Pernyaan ini juga dibenarkan oleh Yusuf Selasa 8 september,  menurut dewan Hakim dan ketua pelaksana karena dicurigai ada peserta yang memakai cadar untuk mengelabui panitia atau menggunakan joki dalam perlombaan tersebut.

Sebagaimana disampaiakn oleh Wasekjen MUI pusat Tengku Zulkarnain  dalam telewicara "Apa Kabar Malam"  Rabu 9/ 09/ 20. menyatakan, bahwa UUD 45  menjamin setiap warganya untuk menjalankan ajaran agama sesuai kepercayaanya masing - masing. Dan hal semacam ini, tidak boleh terulang lagi.

Terlepas dari apakah itu aturan yang sudah ditetapkan, atau hanya karena terjadinya kesalahan tekhnis. Namun hal ini menunjukkan kepada masyarakat bahwa pertama adanya sentementil terhadap ajaran Islam.  Selain itu perdebatan mengenai cadar wanita ini, sudah dijadikan kaum kafir untuk menyerang Islam, perusak kaum muslimin, serta untuk penyebarluaskan keraguan pada diri kaum muslimin terhadap agamanya.

Padahal di dalam Islam,  Allah mengatur masalah hubungan interaksi pria dan wanita.  Masalah cadar tidak ada perbedaan yang mendasar antara para ulama, Ada pendapat yang mengatakan cadar wajib,  ldan ada yang menyatakan hukum cadar itu mubah.  Semua pendapat mengenai cadar itu berdasarkan pada sumber - sumber Al-Qur'an dan hadis. Yang jelas tidak ada satu pun pendapat ulama yang menyatakan bahwa cadar itu haram atau tidak boleh.

Sebagai negara hukum,  maka negara wajib melindungi hak setiap warga negara tanpa membedakan satu dengan yang lain, baik suku bangsa ataupun agama untuk menjalankan sesuai keyakinannya.

Sudah sewajarnya seorang muslim yang taat, diberikan hak untuk menggunakan pakaian seperti jilbab,  khimar atau pun niqob (cadar) dimana pun dia berada.  Apalagi ketika peserta yang saat itu sedang melakukan syiar Islam, untuk menjunjung tinggi kalimat Allah yang seharusnya pantas untuk dihormati. Bukan malah di larang bahkan didiskualifikasi, dan ini jelas melanggar  hak kebebasan warga negara.

Namun itulah yang terjadi di negeri +062 yang menganut sistem demokrasi  sekuler. Sering sekali umat Islam merasakan ketidakadilan atas kebijakan penguasa. Berulang kali juga rakyat melakukan reaksi penolakan baik secara langsung atau pun melalui berbagai saluran media sosial.

Inilah sistem demokrasi sekuler menjadikan manusia sebagai pembuat aturan, kedaulatan ada ditangan para penguasa yang memiliki modal. Makanya slogan kebebasan berpendapat dan berprilaku itu hanya sebuah mitos, tidak lain sebagai kedok mereka untuk bersembunyi di balik kebencian terhadap ajaran Islam.

Islam adalah agama yang sempurna, yang seluruh aturan hidup manusia berasala dari Allah Swt. termasuk juga Maslah interaksi antara pria dan wanita.

Maka masalah hukum memakai cadar itu pun akan diatur oleh negara. Khalifah akan memperlakukan hak mulia bagi wanita untuk bercadar.  Khalifah akan mengadopsi salah satu pendapat dari kedua pendapat yaitu apakah pemakaian cadar itu diwajibkan untuk seluruh wanita muslim atau pendapat yang membolehkan bagi siapa saja yang ingin memakai cadar.

Pengambilan kebijakan hukum oleh khalifah, tentunya didasarkan pendapat para mujtahid. Pendapat yamg memilki dasar hukum yang lebih rajih berdasarkan dalil-dalil yang kuat akan menjadi sandaran.

Sehingga tidak ada kerancuan peraturan di tengah masyarakat, yang akhirnya menimbulkan perselisihan dan kekacauan. 

Wallahua'lam.

 
Top