Oleh : Tri S, S.Si

(Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi)


Indonesia dan seluruh dunia untuk pertama kalinya memperingati 'Hari Kesetaraan Upah Internasional' pada 18 September 2020 yang lalu. Data global yang dirilis oleh UN Women menunjukkan bahwa perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen. Sedangkan di Indonesia sendiri, data menunjukkan perempuan memperoleh pendapatan 23 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki. (https://m.kumparan.com/amp/kumparanwoman)


Merupakan hal yang wajar jika data ini gaungkan  dengan kencang keseluruh dunia. Mengingat isu kesetaraan gender erat kaitannya dengan pemberdayaan ekonomi perempuan, dimana program ini tengah digalakkan PBB maupun pemerintah Indonesia.


Diharapkan ketika perempuan ikut terjun ke ranah ekonomi akan mampu membantu perekonomian keluarga. Lebih dari itu, hal ini mampu menurunkan angka kekerasan dalam rumah tangga(KDRT) karena perempuan telah mandiri secara ekonomi. (https://www.voaindonesia.com/4755636.html)


Isu kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan sentiasa di gaungkan secara apik dan indah ditengah-tengah publik. Seolah menjadi angin segar ditengah narasi diskriminasi terhadap perempuan yang digencarkan. Wajar saja jika narasi diskriminasi ini selalu berujung pada ekonomi, mengingat di sistem kapitalis uang dianggap sebagai sumber kebahagiaan sekaligus sumber masalah.


Namun jauh panggang dari api, perempuan bekerja dengan harapan membantu perekonomian keluarga faktanya justru menjadi faktor utama meningkatnya kasus perceraian. Mengambil sampel di Blitar dari awal tahun hingga Agustus 2020, terjadi 3.229 kasus perceraian. Dari jumlah tersebut, 1.953 kasus perceraian di antaranya diajukan pihak istri atau gugat cerai. Kebanyakan, faktor utama pengajuan gugat cerai adalah karena rendahnya gaji suami dibandingkan gaji istri. (https://www.madiunpos.com)


Sejatinya perempuan yang memiliki peran yang sangat krusial dalam rumah tangga, yakni sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Mendidik anak berarti pula mendidik para pemimpin masa depan bangsa. Namun dengan slogan yang manis atas nama kesetaraan gender ataupun himpitan ekonomi, membuat para ibu meninggalkan tugas mulia tersebut dan berebut menjadi wanita karier. Padahal sejatinya perempuan hanya dimanfaatkan untuk memutar roda industri demi kepentingan para pemodal.


Efek domino yang jauh lebih mengerikan ialah kurangnya pendidikan dan kasih sayang kepada anak. Baik karena orang tua sibuk bekerja atau banyaknya tingkat perceraian yang terjadi. Maka wajar saja setiap tahunnya angka kenakalan remaja berupa seks bebas, penggunaan narkoba, tawuran dan kecanduan games terus meningkat.


Untuk membendung terjadinya kerusakan yang lebih besar, sudah waktunya kita meninggalkan konsep pemberdayaan perempuan ala kapitalis dan kembali pada Islam. Konsep yang telah terbukti dalam ribuan tahun ketika diterapkan mampu melahirkan tokoh-tokoh besar, baik ulama seperti Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah; ilmuan besar seperti Ibnu Sina bapak kedokteran, umara seperti Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyid, dan Muhammad Al Fatih, dan sebagainya.


Perempuan dalam Islam memiliki posisi yang sangat penting dan di anggap sebagai penentu peradaban. Islam telah memberikan aturan yang khusus kepada kaum perempuan untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan dalam rumahtangga suaminya sekaligus menjadi pemimpin bagi anak-anaknya.


Perempuan berperan dalam mendidik dan membina anak-anak mereka dengan akidah yang kuat yang akan melahirkan generasi yang tunduk pada syari’at dan siap untuk memperjuangkannya. Ia berperan membentuk anak-anak dengan jiwa kepemimpinan yang siap untuk memimpin umat menuju perubahan hakiki dan kebangkitan sejati. Ialah yang digelari ibu generasi, karena di tangannyalah kelestarian generasi ditentukan.


Sebagai manajer rumah, perempuan berperan mewujudkan suasana rumah yang memberikan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan bagi penghuninya. Dengan demikian, rumah menjadi surga kecil bagi suami dan anak-anaknya. Mereka merasa rumah adalah tempat pulang terbaik setelah selesai beraktivitas. 


Perempuan juga tetap diberikan ruang di luar urusan rumah tangga. Jika dikaitkan dengan kondisi umat saat ini yang jauh dari gambaran ideal masyarakat Islam, maka peran perempuan menjadi lebih penting lagi terutama dalam proses mengubah masyarakat yang rusak sekarang ini menjadi masyarakat ideal yaitu masyarakat Islam melalui aktivitas dakwah.


Inilah arah pemberdayaan perempuan dalam pandangan Islam. Untuk memastikan pemberdayaan perempuan ini bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya, Islam membebaskan perempuan dari kewajiban mencari nafkah dan membebankan nafkahnya kepada suami atau para wali. Bila mereka tidak mampu atau tidak ada, Negara memiliki kewajiban mengambil alih nafkah perempuan.


Arah pemberdayaan perempuan seperti ini, tidak mungkin dilangsungkan dalam sistem kapitalis yang mengukur segalanya dari materi. Arah pemberdayaan ini hanya bisa direalisasikan ketika sistem Islam yang diterapkan, satu-satunya sistem yang berasal dari Sang Pencipta, Yang Maha Tahu akan hamba-hamba-Nya dan apa yang terbaik bagi mereka.

 
Top