Oleh : Sri Indrianti
(Pemerhati Sosial dan Generasi)

Pandemi Covid-19 belum juga usai. Kondisi pandemi tanpa ada keseriusan penanganan dari pemerintah kian menjadikan problematika bertambah pelik. Harapan pandemi segera berakhir  bagaikan jauh panggang dari api.

Problematika baru muncul bertubi-tubi. Kelesuan ekonomi pun tak dapat dihindari. Jutaan karyawan dirumahkan  sebagai imbas pandemi. Beban masyarakat kian berat tanpa ada kepastian.

Persoalan ekonomi inilah yang menjadi salah satu pemicu banyaknya layangan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Keretakan keharmonisan rumah tangga tak dapat terelakkan.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Blitar, Nurkolis mengatakan tahun 2020 mulai Januari hingga Agustus kemarin Pengadilan Agama Blitar sudah menangani sebanyak 3.211 perkara cerai. 70 persen di antaranya merupakan cerai gugat. Dalam sebulan, rata rata ada 400 hingga 500 permohonan cerai di Blitar Raya. (Mayangkaranews.com, 1/9/2020)

Peran Negara Lumpuh

Tatanan rumah tangga merupakan pondasi awal terbentuknya generasi tangguh. Untuk itu, sistem kapitalisme  menyasar keretakan rumah tangga muslim. Dengan rapuhnya ikatan keluarga maka sangat mudah kaum muslimin dilemahkan.

Sistem kapitalisme menjadikan perempuan sebagai roda penggerak ekonomi. Kesempatan kerja banyak terbuka untuk kaum perempuan. Sedangkan laki-laki tak begitu banyak peluang kerja bila dibandingkan dengan perempuan. Inilah seringkali yang menyebabkan timpangnya penghasilan antara suami dan istri.

Apabila tak ada kesadaran dari pasangan suami istri untuk menjaga keutuhan keluarga, maka perceraian pun dipilih sebagai jalan pintas. Apalagi lumpuhnya penjagaan berlapis terkait hukum-hukum perlindungan keutuhan keluarga oleh negara dan masyarakat, menyebabkan perceraian menjadi perkara yang digampangkan.

Ini membuktikan bahwa sistem kapitalisme telah gagal menjamin kepala keluarga menafkahi keluarganya dengan memberikan lapangan pekerjaan yang luas.

Islam Menjaga Keutuhan Keluarga

Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral. Dari pernikahan inilah terjadi kehalalan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Diikat dengan nama Allah untuk menjalankan janjinya masing-masing dalam menunaikan kewajiban.

Inilah yang sering dilupakan oleh pasangan suami istri, seiring dengan terjadinya pergeseran pandangan mengenai pentingnya ikatan keluarga dalam pernikahan. Pernikahan yang terjadi juga kerap kali hanya sebagai status. Biasanya ini dilakukan oleh pasangan yang terjebak pergaulan bebas dan ada benih yang tertanam.

Suami merupakan pemimpin keluarga dengan sejumlah kewajiban yang melekat. Yakni menafkahi keluarga, mempergauli istri dengan baik, mendidik anak dan istri, dan berkomunikasi dengan baik demi keharmonisan keluarga. Sebaliknya, istri juga semestinya melaksanakan kewajiban dalam rumah tangga. Jika masing-masing saling menyadari kewajibannya, maka niscaya ikatan keluarga tak akan rapuh.

Dari sisi ekonomi, Islam menjamin kepala keluarga mampu menafkahi keluarganya dengan membuka  lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Selain itu, jaminan pendidikan, kesehatan, dan keamanan juga diberikan secara gratis tanpa memandang status sosial. Sehingga seorang suami hanya fokus mencukupi kebutuhan mendasar.

Islam juga melakukan penjagaan terhadap keutuhan keluarga dengan memberikan pendidikan terkait rumah tangga. Sehingga kehidupan rumah tangga yang dijalani pasangan suami istri bukan atas dasar keterpaksaan dan kosong pemahaman.

Berarti negara yang melaksanakan sistem Islam memiliki peranan penting dalam menjaga keutuhan keluarga. Apabila hal ini dilaksanakan, maka ketentraman dan keharmonisan rumah tangga niscaya terwujud. Perceraian pun dapat tereliminir dengan sendirinya.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top